Tuesday, 27 Feb 2024
Temukan Kami di :
TAG HARI INI :
Politik

Mempermalukan Diri Sendiri

Indah Pratiwi - 27/01/2024 19:39 Oleh : Rika Sudjiman

Sebuah vidio lucu tak sengaja kutemukan di beranda Tiktok. Dua orang pria mengenakan kaos paslon 02, menunjukkan uang seratus ribu sambil berkata: "Prabowo- Gibran, tapi yang kita coblos tetap Ganjar..." Siapapun yang mengunggah vidio itu, aku cuma berharap jangan sampai Jokowi melihatnya. Sebab kemungkinan besar dia bisa makin frustasi.

Sebagai presiden yang memiliki segenap infrastruktur kekuasaan, Jokowi memang sangat paham situasi di lapangan. Penolakan terhadap kubu 02 bukanya mereda, namun justru semakin masif. Selain vidio itu, acara deklarasi Prabowo-Gibran yang mengatasnamakan petani di Temanggung, Jateng, juga menjadi bukti lain. Acara itu hanya dihadiri segelintir saja, mungkin sekitar 30 orang.

Artinya ketika Jokowi mulai terang-terangan ikut berkampanye untuk anaknya, sesungguhnya ia dalam situasi sangat frustasi, dan tak peduli lagi mempermalukan dirinya sendiri. Bayangkan semua intrumen kekuasaan sudah digunakan untuk mengerek suara Prabowo-Gibran, termasuk dengan bansos. Namun elektabilitasnya tak kunjung merangkak, bahkan yang ada justru muncul perlawanan dari masyarakat.

Temuan Indopol terbaru adalah fakta yang tak bisa dibantah. Lembaga itu merilis banyak warga yang menolak disurvei, terutama di Jatim, di kantong-kantong yang menjadi basis Ganjar Pranowo. Mereka memilih menolak atau menyembunyikan pilihannya karena kawatir bisa berdampak pemberian bansos. Sederhananya, jika mereka menyatakan dukungannya bukan kepada paslon yang didukung penguasa, mereka kawatir bansos di wilyah itu akan dievaluasi yang bisa berujung dihentikan.

Artinya Jokowi menggunakan bansos bukan hanya untuk mengerek suara anaknya, namun juga untuk mengancam kelompok masyarakat miskin. Ini sungguh keji dan tak manusiawi. Namun yang sangat mengharukan, masyarakat mulai berani melakukan perlawanan dengan cara enggan disurvei, atau menyembunyikan pilihannya. Kita bisa melihat di Blitar misalnya, yang merupakan basis PDIP, undicided voter-nya ditemukan mencapai 85 persen. Ini tentu angka yang sangat mengejutkan. Begitupun di Kediri yang mencapai 40 persen, Jombang 67,5 persen, dan Madiun 43,3 persen.

Jika di Jatim saja kondisinya seperti itu, apalagi di Jawa Tengah yang secara kultural merupakan basis dari PDIP, dan Ganjar mantan gubernur yang mendapat kepuasan publik sangat tinggi. Sangat sulit untuk merebutnya. Lihat saja Jokowi dalam sebulan sampai dua kali ke Jateng dan mengunjungi banyak daerah untuk menebar bansos. Tapi yang ada, warga yang menyambut Jokowi di tepi jalan, justru ramai-ramai berteriak "Ganjar-Mahfud....!"

Kita tahu masyarakat Indonesia sangat menjunjung nilai-nilai etika dan kesopanan. Termasuk dalam menentukan pemimpin, ukurannya tak jauh-jauh dari itu. Dan secara kriteria, Prabowo yang seorang tempramental, gampang sekali mengatakan ucapan-ucapan kasar yang sangat tidak patut, makin menumbuhkan kesadaran publik untuk tidak menerimanya. Apalagi kalau melihat banyaknya pelanggaran yang dilakukan paslon 02. Sudah menjadi rumus, sesuatu yang dimulai dari pelanggaran, hanya akan melahirkan pelanggaran-pelanggaran berikutnya. Jadi, kita tunggu saja kekonyolan apalagi yang akan dilakukan Pak Lurah.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat

FOKUS MINGGU INI


BOLA