Monday, 26 Feb 2024
Temukan Kami di :
TAG HARI INI :
Politik

Kekhawatiran Timses Prabowo-Gibran Pra dan Paska Pemilu

Joni Michael - 01/12/2023 21:57

Timses Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dinilai mengkhawatirkan pra dan paska pemilu. Adapun kekhawatiran itu didsarai terhadap beberapa hal, mulai dari anggota partai koalisi yang dinilai tak optimal dalam mengkampanyakan Prabowo-Gibran, upaya merasionalisasi dan menutup praktiK nepotisme, hingga dinamika internal keluarga.

1. Sejumlah kekhawatiran itu dinlai didasarkan kepada beberapa faktor, sebagai berikut :

a) Mesin birokrasi dan politik yang tak bisa bekerja secara maksimal di lapangan. Dimana caleg-caleg partai koalisi tak optimal mengampanyekan Prabowo-Gibran. Dimana fokus caleg sendiri adlaah keterpilihan dirinya, tanpa peduli pada pemenangan capres.

Terlebih, partai Koalisi juga dinilai tak dapat memaksa, lantaran tak memberikan bantuan pada caleg selain pada fokus peningkatan terhadap jumlah kursi. Dimana jumlah kursi di DPR dianggap akan berkolerasi dengan jumlah kursi di kabinet, lembaga tinggi negara dan BUMN.

b) Upaya merasionalisasi dan menutup praktik nepotisme dan intervens kekuasaani di Mahkamah Konstitusi (MK) tak berhasil, bahkan sebaliknya dan justru meluas termasuk di kalangan pemilih milenial dan Gen Z, dan memicu berkembangnya inisiatif sosial dan kelompok aksi yang secara normatif bertema mengawal pemilu, dan melawan KKN, namun secara substantif sebenarnya merupakan mosi tak percaya dan perlawanan pada Jokowi dan pasangan Prabowo-Gibran.

c) Dengan diungkapnya dinamika internal keluarga juga turut mengakibatkan citra keluarga Jokowi mengalami pembusukan yang cukup cepat, dan mulai berdampak pada approval rate Jokowi yang menurun.

Hal ini turut memunculkan sentimen negatif yang terus berkembang di masyarakat. Publik dinilai turut diingatkan pada hegemoni klan cendana pada politik dan ekonomi Indonesia.

d) Kian banyaknya terungkap intervensi Jokowi pada proses hukum, termasuk kasus korupsi. Adapun intervensi itu dilakukan melalui tiga jalur, yakni Kejaksaan, Kepolisian, dan KPK. Adapun intervensi itu kerap dilakukan melalui pesan via perantara ataupun dalam pertemuan face to face.

Intervensi ini turut menjelaskan jika nepotisme di Mahkamah Konstitusi (MK) bukanlah kejadian terpisah, melainkan sudah menjadi pola, seperti tekad SYL yang tertahan 3 tahun dan perintah untuk hentikan kasus SN.

2. Selain itu, kekawatiran pra pemilu lainnya adalah terdampaknya elektabilitas Prabowo-Gibran, dengan implikasi oposisi membesar dan beralih ke Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, sementara pemilih nasionalis beralih ke Ganjar Pranowo-Mahfud Md.

Adapun upaya meraup suara melalui program, pemasangan alat peraga kampanye (APK) di berbagai titik, hingga operasi tertutup melalui beriokrasi dan aparat juga dinilai tak efektif jika sentimen negatif membesar dnegan cepat.

3. Upaya untuk mengatasi itu dilakukan melalui taktik :

a) Hasty generalization, dengan kembangkan logika: karena Jokowi banyak melakukan pembangunan dan program populis berarti tidak mungkin Jokowi melakukan hal negatif, jika ada hal negatif itu pasti karena orang lain atau sebab lain, jika ada orang ungkap sesuatu yang rugikan Jokowi pasti orang tersebut bermasalah. Penyesatan logika ini dikembangkan secara masif melalui berbagai lini.

b) Mal-informasi, dengan pergunakan satu fakta untuk bangun narasi yang sesat, seperti relasi Jokowi dan Megawati Soekarnoputri atau Ganjar Pranowo yang baik dipakai dalam narasi Jokowi itu baik dengan Megawati dan Ganjar, karenanya tidak mungkin berkhianat. Kondisi saat ini justru karena Megawati dan Ganjar yang berkhianat pada Jokowi, punya cacat yang disembunyikan, dan punya agenda hitam. Mal-informasi oleh timses Prabowo- Gibran terus dikembangkan untuk mengalihkan perhatian publik dari inkompetensi dan unfitness Prabowo-Gibran.

4. Dengan waktu kampanye yang pendek, timses Prabowo-Gibran bertarung untuk tekan berbagai informasi negatif tentang Jokowi, Prabowo, Gibran, dan keluarga agar tidak tersebar luas. Penekanan dilakukan melalui penindakan aparat, pengalihan isu, membanjiri ruang publik dengan fabricated events. Upaya menang 1 (satu) putaran jadi prioritas karena jika dua putaran maka sentimen negatif akan punya waktu meluas dan dapat berpengaruh pada hasil pilpres. Terutama dengan prediksi ekonomi di 2024 yang memburuk.

5. Kekhawatiran paska Pemilu di lingkaran Jokowi adalah bisa menang Pilpres namun :

a) Perlawanan masyarakat akan meluas dan snowballing sehingga skenario serupa reformasi terulang, presiden terpilih terpaksa mundur dalam satu tahun.

b) Tekanan publik membuat Prabowo Subianto dan partai koalisi mengambil jarak dengan Jokowi, dan lebih mengikuti tuntutan masyarakat sipil.

 

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0qaZFnvfLjd2CjdDicaHzMNNEMkjCC7qwfmri7aotgbCxBL9K52i469E2FtXq1B7Ul&id=100041724519170&mibextid=Nif5oz




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat

FOKUS MINGGU INI


BOLA