Thursday, 22 Feb 2024
Temukan Kami di :
TAG HARI INI :
Politik

Sunardian Wirodono : Jokowi Tiru Model Orde Baru

Indah Pratiwi - 30/11/2023 21:49

Masa kampanye Pemilu (Pileg dan Pilpres) 2024 dimulai hari ini. Sebenarnya, jauh sebelumnya sudah. Bukan hanya ketika paslon Capres-Cawapres didaftarkan ke KPU. Bahkan, Jokowi sudah berkampanye jauh sebelumnya. Dan dalam Pilpres 2024 ini, Jokowi dengan caranya yang ajaib, tampak paling sibuk berkampanye. Seolah ikutan nyapres juga.


Mentor politik Jokowi pertama kali, Andrinof Chaniago (mantan Menteri BPN/Kepala Bappenas 2014-2015), pasti tahu mengenai hal itu. Tutorial ‘cara sukses menjadi presiden’ dari Andrinof sebenarnya tidak spesifik untuk Jokowi. Namun sosok walikota Solo (waktu) itu, memang temuan yang pas (2010). Jokowi pemimpin daerah di luar mainstream. Antitesis dari konvensi politik Indonesia, paska Reformasi 98 yang gagal melahirkan sosok alternatif.


Megawati, yang menjadi alter-egopolitik Soeharto, tidak berada dalam momentum. Politik adalah juga soal momentum, walaupun Megawati menjadi simbol perlawanan Orde Baru yang paling kuat. Namun pragmatisme politik, yang justeru melahirkan sosok seperti Amien Rais waktu itu, membuat perjalanan politik Megawati baru bertemu momen pada Pilpres 2014. Itu pun melalui sosok Jokowi, yang dalam disain Andrinof bebas dari konflik masa lalu.

Kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014, disamping sebagai success story, juga menyelipkan perdebatan soal ‘milih Jokowi tapi tidak nyoblos PDIP’. Waktu itu, Pileg dan Pilpres memang tidak serentak, sehingga ada semacam ‘perjanjian tak tertulis’, kalau ingin menjagokan Jokowi menangkan dulu PDIP di parlemen. Disitu muncul silang pendapat, tentang siapa sesungguhnya yang berjasa. Jokowi mengatrol PDIP, atau sebaliknya.

PDIP sebagai partai politik tak bisa dinihilkan perannya. De facto dan de jure, PDIP sangat menentukan kehadiran Jokowi. Dalam konstitusi, bobot PDIP tentu lebih digdaya dibanding Jokowi sebagai persona. Apalagi PDIP partai besar paska Orde Baru. Juara pada Pemilu 1999 (33,12%), Golkar juara dua (25,97%), PPP juara tiga (12,55%). Pemilu 2004 Golkar (23,27%), PDIP (19,82%), PPP (10,55%). Pemilu 2009 Demokrat (26,79%), Golkar (19,11%), PDIP (16,96%). Pemilu 2014 dan 2019 PDIP (19,5% dan 22,26%), Golkar (16,3% dan 14,78%), Gerindra (13% dan 13,57%).


Dua pemilu terakhir, PDIP memenangi Pileg dan Pilpres. Performance kepolitikannya itu, alangkah naifnya jika dikatakan partai ini terkatrol oleh Jokowi. Apalagi pada masa awalnya, ketika parlemen dikuasai bukan oleh koalisi partai pendukung Jokowi. PDIP dan koalisinyalah yang membentengi Jokowi waktu itu, hingga serangan dan nyinyiran relatif mereda ketika 2019 Jokowi merangkul Prabowo sebagai Menhan.

Namun senyampang itu, displite politik adalah wajar ketika sistem demokrasi yang elitis mudah dibelokkan dalam isu dan sentimen personal. Personalisasi politik menguat, kemudian menginti pada kultus-individu. Lahir gagasan tiga periode, perpanjangan jabatan, hingga memuncak pada momentum memunculkan Gibran berdasar approval rating Jokowi yang tertinggi di dunia. Apa hubungannya? Memainkan momentum dan sentimen politik. Namun isu politiknya dibelokkan sekedar sebagai konflik domestik, yang dimainkan dan diistilahkannya sendiri sebagai drakor. Senitron, kata Jokowi –bukan sinetron.


Apa yang terjadi kemudian adalah anomali, sesuatu yang justeru dianggap normal bagi penyembah status-quo, kemapanan kekuasaan berdasar kepentingan politiknya. Dua kali Prabowo dikalahkan Jokowi yang kini masih berkuasa. Namun Prabowo kini maju nyapres lagi, dengan mengatakan belajar banyak dari Jokowi sebagai mentor politiknya. Anomali adalah cacat bawaan politik elitis sejak jaman Ken Arok, apalagi dalam demokrasi tanpa nomokrasi.

Disebut anomali, karena visi politik mestinya berproyeksi ke depan. Linier dan sistemik. Menyodorkan pemimpin yang formulasinya lebih baik dari hari ini. Bukan dengan menyodorkan calon yang dua kali dikalahkan oleh sang mentor, apalagi yang menyodorkan calon itu ternyata sang mentor sendiri. Istilahnya, kemunduran.

Karena sang murid sudah berubah cerdas, atau bagaimana? Setidaknya, cerdas dalam membujuk anak sang mentor, untuk menjadi wakilnya? Hingga akhirnya, pada bujukan ke-lima, sang mentor berujar; tugas orangtua hanyalah mendoakan dan merestui? Kenapa meres-tui? Karena kalau meres-usu, bisa rusak susu sebelahnya.

Pantesan, Jokowi kini makin sibuk kampanye. Blusukan lagi, sampai ke Papua, Sulawesi, China, AS, Timur Tengah. Akan mulai bagi-bagi amplop dan sepeda lagi.

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat

FOKUS MINGGU INI


BOLA