Thursday, 22 Feb 2024
Temukan Kami di :
TAG HARI INI :
Politik

Seandainya Musuh Koruptor Seperti Ganjar Itu Ada Banyak

Indah Pratiwi - 10/10/2023 21:40 Oleh : Rahman Hartala

Beritacenter.COM - Teman media sosial saya membagikan satu kisah haru, tentang anak yang sedang mengungkapkan ras terimakasihnya kepada sang ayah atas gelar doktor yang dicapainya. Dihadapan sang ayah, dia menguntai kebahagiaan dan menyebutkan bagaimana keberhasilannya itu datang.

Terimakasih atas rumah yang disediakan untuk tempat berteduh, terimakasih atas doa restu, terimakasih atas nama yan diberikan kepadanya yang memiki makna sebuah kebahagiaan dan segala yang dikorbankan sang ayah untuknya.

Moment itu mengingatkan saya pada kejadian
@ganjarpranowo
bercermin di atas punggung Mata Najwa, dalam balutan acara bertajuk tentang pemaparan gagasan para bacapres. Kebetulan sekali, Ganjar punya cerita kecil dari namanya yang dulu sempat diubah kedua orang tuanya dengan alasan biar tidak sakit-sakitan. Nama adalah doa, hingga sekarang dia menjadi seorang pemimpin yang bugar lahir maupun batinnya.

Kembali ke atas panggung Mata Najwa, nasehat kedua orang tuanya menggaung untuk tidak mengejar jabatan. Tapi bukan berarti langkahnya berhenti, usaha terus berjalan karena dia terjun di dunia politik sejak mengenyam pendidikan di bangku kuliah.

Pertama mengemban amanah di pemerintahan menjadi wakil rakyat di kursi dewan legislatif, wejangan ibunyi terus mengaum sepanjang masa. “Kamu sudah punya rumah, makan untuk anak dan istrimu juga sudah tercukupi, mau cari apalagi?”, begitu kira-kira bunyi ultimatum dari perempuan yang melahirkannya.

Baik kalimat tersirat ataupun secara langsung itu terus menjadi pegangan Ganjar. “Ojo korupsi, le” singkatnya seperti itu. Ibunya sudah sedikit khawatir karena dunia yang dipijaki Ganjar ini berkecimpung dengan orang-orang berkekuatan besar. Perasaan takut dicurangi atau lebih dari itu pasti menyelimuti hati sang ibu.

Apalagi dia ini seorang Ganjar yang asalnya saja bukan dari tokoh papan atas. Ayahnya hanya seorang polisi biasa, jauh dari pangkat tinggi dan punya power besar. Sudah pasti orang biasa itu banyak diremehkan. Tapi seiring bertambahnya zaman, Ganjar membuktikan bahwa dia bisa menjadi salah satu tokoh pelopor antikorupsi.

Nasehat ibunya berjalan sepanjang masa, karena sudah terpatri dalam memorinya. Ya, Ganjar berhasil menerapkan wejangan sang ibu hingga detik ini. Tidak masalah dia menjadi seorang yang dimusuhi lawan sekaligus kawannya sendiri. Kepentingannya rakyat, maka mereka yang menjadi prioritasnya.

Ibunya sudah mendeklar, kebutuhan pokokmu dalam hidup sudah tercukupi masih diberi kebahagiaan berupa keluarga kecil yang saling menyayangi. Maka tidak ada lagi alasan untuk mencurangi rakyat. Dia sudah diberi gaji sesuai dengan kinerjanya dalam menjalankan amanah rakyat, kenapa masih harus tamak meminta yang lebih?

Hidup hanya untuk menuruti keinginann tidak akan membuat kita merasa tercukupi. Pun dengan hidup yang hanya mengejar rasa puas, tidak bakal ada ujungnya. Maka kuncinya, merasa biasa saja. Di sana kebahagiaan akan muncul dari orang-orang sekitar.

Lalu apa saja implementasi Ganjar untuk memerangi korupsi? Dalam lingkungan pemerintahan, Ganjar meniadakan budaya setor-menyetor dari bawahan ke atasan. Hal itu dirasakan secara langsung oleh para ASN yang melapor padanya.

Di lain sisi, jual-beli jabatan harus ditindaklanjuti. Pecat jika memang ada yang ketahuan melakukan hal itu. Untuk mengisi kekosongan jabatan, Ganjar menjalankan program lelang jabatan. Siapapun yang punya kemampuan dan berhasil memenuhi syarat serta melewati seleksi bertahap, ya dialah pengisi kursi jabatan itu.

Di ranah masyarakat, pungli di berbagai lingkungan terus diputus mata rantainya. Seperti di sekolah. Kalau tidak dimintai pertanggungjawaban, ujung-ujungnya dipecat. Di barisan sopir truck sendiri juga merasakan dampak besar dari ketegasan Ganjar menggebuki pelaku pungli.

Seperti aksi pertamanya di Jembatan Timbang Subah, setoran pungli yang didapat dari sopir truck diketahui Ganjar. Dia murka, hingga mendesak para petugas mengeluarkan bukti dan menjelaskan seterang-terangnya kedok apa yang sedang mereka mainkan.

Sejak itu jembatan timbang jadi pertanda hilangnya pungli dari deretan sopir truck. Setelah itu laporan tentang pungli berdatangan, dan semua dijamah demi memutus pergerakan para oknum.

Dalam kegiatan titip anak di sekolah, laporan itu datang dan membuatnya harus bertindak sebelum berkelanjutan. Dampaknya bukan hanya anaknya yang keluar dari sekolah, tapi bapaknya juga kena getah lewat pemecatan.

Komitmennya untuk menghilangkan budaya korupsi itu mengakar. Kekonsitensiannya terhadap komitmen tertuang pada taglinenya “Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi”. Sampai ada pemecatan, dan sikap tegas tadi adalah upaya tidak adanya kompromi terhadap perbuatan haram tersebut. Karena bukan hanya merugikan negara dan orang lain tapi juga dirinya sendiri.

Begitulah Ganjar, menjalankan visinya untuk menghilangkan pungli di daerah kepemimpinannya. Bahkan dia sudah membatasi dirinya sendiri, untuk tidak termakan bujuk rayu gerombolan investor dan para pengusaha yang mengiriminya banyak hadiah. Instruksinya kepada sang ajudan kala itu hanya satu, “kembalikan”. Mau bunyinya hadiah, apresiasi, ataupun oleh-oleh, semua bisa berpotensi menjadi suatu gratifikasi.

Itulah yang membuat saya berujar dalam hati “masih ada pejabat yang getol perangi segala bentuk korupsi ternyata”. Sontak saja, batinku menjerit dan mengucapkan harapan besar “seandainya orang seperti Ganjar ini banyak, maka koruptor menemukan musuh yang sepadan sampai mereka tobat nasuha”.

Perjuangannya memberantas korupsi disambut banyak pihak yang satu suara dengannya, Khususnya mereka yang berdiri sebagai penegak hukum sesungguhnya. KPK beberapa kali menghinggapkan penghargaan pada Ganjar dan daerahnya yang mendorong aksi antikorupsi. Bahkan jauh sebelum dia lengser dari jabatannya, Jateng dinobatkan sebagai pioner provinsi antikorupsi. Desa antikorupsi pun sudah banyak berdiri di Jateng, ketika Ganjar mengomandoi provinsi padat penduduk itu.

Selain pesan orang tuanya, keluarga menjadi control system untuk ngerem keserakahan. Mereka yang menerima nafkah dari Ganjar sebagai kepala keluarga. Akan menjadi masalah jika makanan yang masuk dalam perut anak-istrinya berasal dari uang haram. Pun dengan dia yang hidup dibayangi rasa gelisah dan tidak tenang karena uang rakyat mengintainya.

Dalam aksi nyatanya, sang istri, Siti Atikoh sudah membudayakan untuk tidak sungkan berkata tidak, kepada hal yang bermaksud dan berujung buruk. Hal itu sudah disampaikan kepada sang anak, Alam Ganjar.

Apalagi jabatan sang ayah dan suami semakin tinggi, cuan dan kenikmatan akan terus mendekat. Kebiasaan sejak dini tadi, menjadi bekal untuk menolak hal yang dapat mengkhianati kepercayaan rakyat. Ya begitulah keluarga saling bahu-membahu dalam menjalankan amanah besar.

Bukan hanya Ganjar, keluarga pun menjadi percontohan bagi istri dan anak pejabat di luar sana. Semakin antusias bukan memberikan amanah besar untuk mereka? Karena memang tanggungjawab besar sudah mereka lewati dengan baik.

Saya percaya dari sana keyakinan tumbuh bahwa Ganjar dan keluarga sudah teruji klinis, bisa membentengi diri dari segala macam kecurangan yang dapat melukai hati rakyat Indonesia. Itulah mengapa jika Ganjar menjadi pemimpin negeri ini, alangkah baiknya karena ada penerus yang mau mencontohkan aktualusasi dari antikorupsi sekaligus melanjutkan transparansi di tubuh pemerintah dalam melayani rakyat Indonesia.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat

FOKUS MINGGU INI


BOLA