Monday, 26 Feb 2024
Temukan Kami di :
TAG HARI INI :
Politik

Kudeta Merangkak Budiman Sudjatmiko

Indah Pratiwi - 25/08/2023 19:06 Oleh : Sunardian Wirodono

Apa yang dikatakan Miko kepada Kesi saat melamarnya? Lelaki kelahiran 10 Maret 1970 yang bernama Budiman Sudjatmiko itu, berkata pada calon isterinya, bahwa dirinya adalah lelaki yang bakal menjadikan Kesi dipanggil sebagai Ibu Presiden.

Banyak pihak terperangah, mendengar dan ‘melihat’ kabar Budiman Sudjatmiko akhirnya mendukung Prabowo Subianto. Dan bahkan mendeklarasikan Prabu, Prabowo Subianto Budiman Sudjatmiko Bersatu.

Berbeda jauh dengan berbagai penjelasannya di banyak kanal podcast, sehari setelah heboh pertemuannya dengan Prabowo Subianto pada 18 Juli 2023 di Kertanegara. Tampak, Budiman tak jauh beda dengan watak umum politikus Indonesia. Esuk sore tempe terus. Konsisten, bahkan hingga untuk inkosisten pun mereka konsisten.

Bagi yang terlalu asyik, dan patuh pada tafsir-tafsir politik yang berseliweran di berbagai media kita, hal itu sangat mengherankan. Sangat memterperangahkan. Kenapa? Karena media hanya memproduksi rumors, sas-sus, dan tak pernah masuk pada substansi masalah kepolitikan kita. Media informasi kita lebih bangga menjadi media yang mengamplifikasi, daripada slogan-slogan jadul macam; “Suara Hati Nurani Rakyat”, atau yang “Mencerdaskan Bangsa”.

Kepolitikan kita, hal-ihwal mengenai politik di Indonesia, tidak bisa didekati secara teoritis, tanpa merambah pada soal sistem dan mekanisme yang terbangun. Politik Indonesia, sampai hari ini, selalu dengan pendekatan yang elitis. Lebih, karena pemahaman dangkal mengenai yang disebut kepemimpinan dan kekuasaan. Tidak pernah berangkat dari rakyat, terutama rakyat jelantah, sebagai pelaku politik sebenarnya.

Kesalahan pertama yang harus disebut, rakyat justeru sebagai objek politik, bukan subjek politik. Pada sisi itu, bahkan para pengamat, analis, konsultan politik yang banyak berseliweran di media, muncul di berbagai platform medsos, podcast, pun bahkan hanya mengandalkan pada istilah Informasi A1. Bukan keanehan, jika para analis dan pengamat bangga merasa punya hotline atau dekat dengan elite politik. Karena hal itu seolah menunjukkan kedigdayaan dalam hal kapabilitas dan kredibelitas.

Padal, semakin dekat kekuasaan, makin menunjukkan kemelekatan, dan bahkan menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri. Sehingga yang muncul dari pikirannya, adalah segala sesuatu yang tak lebih sebagai legitimator, jika bukan amplifyer dari politik kepentingan.

Di dalam kepolitikan kita, menyampaikan informasi A1 dan mempercayai Informasi A1, lebih menunjukkan ketidaktahuannya. Kalau dalam istilah filsuf gadungan, atau politikus yang mengaku filsuf, dungu mungkin sebutan tepat, bagi mereka yang menyampaikan dan mempercayai informasi A1. Karena si sumber informasi itu sendiri, masih harus diuji tingkat keutamaannya sebagai penyampai informasi kebenaran.

Contoh gampangnya, apakah Jokowi merupakan sumber informasi terpercaya, pembawa kebenaran? Sehingga ketika mendengar langsung ucapan Jokowi, misal berkait masalah Pilpres, sebagai informasi A1 dan itu sama dengan mendengar kebenaran? Tapi bagaimana kalau benar sama dengan betul, tetapi makna kebenaran dan kebetulan bisa berbeda? Bisa betul kebenaran, bisa pula benar kebetulan.

Karena itu, wajar kenapa banyak tafsir untuk setiap kata, dan tindakan, bahkan gesture yang dilakukan Jokowi. Hingga soal Gibran Rakabuming Raka (anak Jokowi) memakai baju ‘Petugas Parkir’ pun, serta menempel stiker bergambar Jokowi-Ganjar Pranowo, menimbulkan kehebohan.

Mengapa dalam menyampaikan apa yang dikatakan Jokowi, menjadi berbeda pengertian ketika disampaikan kembali oleh Gerindra dan PDIP? Bahkan, mengapa juga pemahamannya menjadi berbeda antara berbagai lembaga survey, konsultan, atau analis politik? Apakah karena rambut sama hitam, nomer rekening berbeda-beda?

Karena A1 hanyalah omong kosong. Banyak istilah yang semakin menjadi bias dalam politik kita, yang secara epistimologis hal itu menjelaskan; bagaimana proses transformasi sosial-politik kita. Belum beranjak jauh, karena fondasi yang ringkih. Atau bahkan sama sekali nir-ideologi, sebetapapun Sukarno telah merumuskan demokrasi gotong-royong melalui Pancasila.

Secara hermeneutik pun akan tampak, bagaimana kepolitikan kita sangat dipengaruhi sistem budaya masyarakatnya. Yang belum sukses-sukses amat dalam proses transformasi modernisme.

Dengan uraian bertele-tele ini, mari kita masuk bagaimana Budiman Sudjatmiko sebagai contoh soal. Orang ini di jaman Orde Baru Soeharto, konon dikejar-kejar oleh penguasa. Operasi di lapangan konon dilakukan Tim Mawar bentukan Kopassus, yang berada di bawah komandan Kopasuss bernama Prabowo Subianto.

Banyak kawan Budiman Sudjatmiko menjadi korban penculikan, bahkan hilang nyawa, atau pun hilang raib. Yang mengasyikkan, dalam pertemuan Prabowo dan Budiman pada bulan Juli 2023, konon menurut cerita Budiman, Prabowo sendiri mengatakan banyak yang sudah dikembalikan atas penculikan itu. Artinya, Prabowo mengakui adanya penculikan bukan?

Bagaimana keduanya bisa berdamai? Bahkan Budiman yang dari PRD kemudian memilih PDI Perjuangan, pernah pula memimpin Repdem, yang dalam Pilpres 2014 dan Pilpres 2019 menjadi pengritik Prabowo paling keras, kini bisa mengatakan capres dari Gerindra itu lebih memenuhi mimpinya sebagai aktivis politik? | Bersambung. |

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat

FOKUS MINGGU INI


BOLA