Wednesday, 29 Nov 2023
Temukan Kami di :
Politik

Surat Terbuka untuk Mas Gibran

Indah Pratiwi - 17/08/2023 10:35 Oleh : Arya Hadi Darmawan

Kuberitahu dua risiko yang bisa menjatuhkan nama baikmu, wahai anak muda.

Bila hari-hari ini orang-orang hilir mudik menyambangimu. Dengan segala macam alasan ingin bertemu denganmu sekedar untuk berfoto berdua, makan siang bersama, atau bersama-sama untuk meresmikan ini dan itu (yang seolah diada-adakan), atau sekedar berolahraga bersama atau apapun. Ketahuilah, bahwa sejatinya saat itu popularitas dirimu (dan juga nama baik ayahandamu) sedang dimanfaatkan oleh banyak orang yang mendatangimu itu. Mereka ingin menjadikanmu sebagai “alat legitimasi (pengukuhan/restu)” sosial. Dalam sosiologi, legitimasi itu ibarat “cap-stempel yang meneguhkan pengesahan atas sebuah situasi”, dan itu sangat penting di dalam struktur sosial masyarakat yang (masih) sangat primodial di negeri ini. Singkat kata, banyak orang “sedang ngalap berkah” untuk mendapatkan legitimasi-sosial (restu/pengukuhan), bahwa dirimu (dan ayahmu) merestui kehadiran seseorang (untuk posisi tertentu).

Aku tahu perasaanmu wahai anak muda. Aku pernah muda sekitar 20-25 tahun yang lalu sepertimu. Bagi orang muda, senang rasanya disambangi banyak orang. Orang muda biasanya mudah tersanjung. Apalagi, di”orangkan” itu rasanya melambung tinggi. Padahal dibalik itu, dirimu sebenarnya sedang dimanfaatkan (dan berpotensi dijatuhkan). Dimanfaatkan oleh siapa? Oleh orang-orang yang sedang “me-ngalap berkah dan menginginkan legitimasi” agar mereka kesampaian mendapatkan posisi di negeri ini, dari posisimu. Posisimu itu penting, karena ayahandamu orang yang luar biasa hebat. Tak hanya negeri ini yang mengakui, tetapi juga dunia luar sana.


Dengan segala hormatku, wahai anak muda yang posisi-sosialmu penting di kota kelahiranku, kuberitahukan padamu. Dirimu yang masih usia belia itu (usiamu seusia anakku), sebisanya jauhilah mereka yang “ngebet” padamu (kecuali orang-orang yang se-organisasi politik denganmu). Buatlah dengan segala dalih apapun, agar situasi bisa-berjarak dengan mereka. Jikalaupun tak bisa, buatlah pertemuan dengan mereka itu menjadi tidak spesial (tidak personal). Buatlah pertemuan beramai-ramai, sehingga tak ada kesempatan mereka untuk “ngalap berkah” secara personal padamu. Sekali lagi, buatlah jarak sekalipun pada acara seformal apapun. Bukan untuk tak menyukai mereka, melainkan lebih untuk menyelamatkan diri mereka dan juga dirimu, serta (yang penting) menjaga nama-baik ayahandamu.

Anak muda kuberitahu sesuatu. Kotamu adalah kota kelahiranku juga. Diriku pun pernah sekota dengan ayahandamu saat sama-sama sekolah di masa SMA dulu. Dari dulu (sejak jaman Orba), kota ini menjadi “pusat pertarungan gagasan politik nasional”. Semoga, dirimu menyadari posisi penting kota ini bagi NKRI.


Wahai anak muda. Kuberitahukan akan adanya dua-buah risiko yang berpotensi mengenai nama-baikmu dan nama-baik ayahandamu, bila terjadi sesuatu atas “kehiruk-pikuk-an” ini. Dua buah risiko yang keduanya tak mengenakkan.

1. Jika orang-orang yang terus mendekat-dekatimu itu kelak akhirnya tak kesampaian meraih posisi-posisi penting yang diimpikannya. Maka orang-orang itu akan mengatakan: “percuma mendekat-dekat denganmu dan ayahandamu jika tokh ternyata posisi impian itu tak teraih juga akhirnya”. Nama baik dirimu dan nama baik ayahandamu yang dipersalahkan atas situasi kegagalan itu.

2. Jika orang-orang yang mendekat-dekatimu itu kelak akhirnya kesampaian meraih posisi-posisi penting yang diimpikannya. Pun orang-orang akan mempersalahkanmu kembali. Dipersalahkan karena ternyata hubungan primordialistik (kedekatan dengan seorang tokoh) sangat menentukan sebuah posisi di negeri yang sedang membangun demokrasi ini. Dirimu dan ayahandamu dipersalahkan telah mencederai demokrasi yang ditegakkan bersama-sama di negeri ini.

Posisi dirimu dan ayahandamu menjadi serba salah. Sangat serba salah. Oleh karena itu, aku hanya bisa mengingatkan dirimu. Sayangilah dirimu. Jagalah nama baik ayandamu serta keluarga besarmu.

(Aku kini salut dengan kebesaran hati adikmu yang urung mencalonkan diri menjadi kepala daerah di suatu kota dan akan berkonsentrasi menjadi pengusaha pisang. Langkah itu sungguh membanggakan).

Pikirkan dan renungkanlah wahai anak muda. Aku sangat peduli padamu dan ayahandamu serta keluarga besarmu. Kalian asset penting negeri ini, saat ini.

Salam sehat selalu,

Sumber : Status Facebook Arya Hadi Dharmawan




Berita Lainnya

Yenny Wahid Bertekad Menangkan Ganjar-Mahfud

28/11/2023 20:10 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA