Monday, 28 Nov 2022
Temukan Kami di :
News

Waspada !!! BMKG : Gempa di Cianjur Siklus 20 Tahunan dan Akan Berulang Kembali

Rahman Hasibuan - 23/11/2022 14:53

Beritacenter.COM - Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa di Cianjur, Jawa Baart merupakan siklus 20 tahunan yang terjadi.

"Gempa Cianjur akan berulang setiap 20 tahunan dan kemungkinan dapat terjadi kembali," terang Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam keterangannya di Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11/2022).

Dwikorita menuturkan intensitas gempa susulan di Kabupaten Cianjur akan semakin melandai dalam waktu empat hari kedepan sejak 22 November yang lalu.

Baca Juga :

Polisi Masih Belum Tangkap Penghina Ibu Negara, Sunardian Wirodono : Penghinaan Istri Presiden

Satu Orang Tewas dan 30 Terluka Atas Insiden Bom Meledak di Thailand

KKP Serahkan 368 Jilid Arsip Statis ke ANRI

"Hingga Tanggal 23 November 2022 Pukul 08.00 WIB, jumlah gempa susulan yang tercatat BMKG ada sebanyak 162 gempa dengan magnitudo terbesar 4.2 dan terkecil pada magnitudo 1.2," terang Dwikorita.

Seperti diketahui, gempa bermagnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) pukul 13.21 WIB. Gempa itu dirasakan di sejumlah provinsi di Jawa Barat, Banten, juga DKI Jakarta.

"Gempa-gempa susulan itu sebagian besar tidak dirasakan, dan yang bisa mencatat adalah alat, dan ada beberapa yang dapat dirasakan. InsyaAllah, dalam kurun waku empat hari kedepan, gempa-gempa susulan tersebut sudah reda dan stabil,” ungkap Dwikorita.

Dwikorita mengatakan, memasuki puncak musim penghujan, BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah setempat dan masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam ikutan seperti longsor dan banjir bandang yang membawa material-material reruntuhan lereng akibat gempa M5.6.

"Saat ini curah hujan sedang meningkat menuju puncaknya di bulan Desember hingga Januari nanti, jadi harus diwaspadai kemungkinan terjadinya bencana ikutan usai gempa kemarin. Material lereng yang runtuh seperti tanah, batu, pohon, kerikil, dan lainnya harus dibersihkan agar tidak terbawa air dan menjadi banjir bandang. Hal ini pernah terjadi saat gempa Palu dan Pasaman Barat,” ujarnya.

 




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA