Thursday, 09 Feb 2023
Temukan Kami di :
Keuangan

Wamenkeu Suahasil Ungkap Penyebab Penguatan Dolar AS Rp15.700

Aisyah Isyana - 04/11/2022 15:26

Beritacenter.COM - Pergerakan kurs dolar Amerika Serikat (AS) masih terus mengalami penguatan. Dollar AS hari ini terpantau kembali menguat terhadap Rupiah di level Rp15.700.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut penguatan dollar AS tak lepas dari kebijakan yang diambil Federal Reserve atau 'The Fed', yang menaikkan suku bunga. The Fed diketahui baru menaikkan suku bunga ke kisaran target 3,75%-4%.'

"Kalau Amerika masih naikin suku bunga, pasti dolarnya balik pulang ke Amerika. Dolarnya balik ke Amerika harga dolarnya pasti tambah kuat," kata Suahasil di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (4/11/2022).

Adanya kenaikan suku bunga itu akan membuat lebih banyak masyarkat tertarik menyimpan uang mereka di bank. Dengan begitu, Dolar yang beredar di seluruh dunia, termasuk negara berkembang akan kembali ke AS.

"Dolar AS di seluruh dunia pengin balik ke Amerika supaya dapat bunga yang tinggi itu. Jadi bergeraklah seluruh dolar dari emerging market pergi pulang kampung," jelasnya.

Adanya hal itu juga turut direspon oleh negara-negara lain yang turut menaikkan suku bunga mereka. Adapun hal itu dilakukan dengan tujuan agar selisih suku bungan negara mereka dengan AS tidak berbeda jauh.

Adanya langkah menaikkan suku bunga yang dilakukan The Fed ini akan turut mempengaruhi para investor. Dimana pergerakan ekonomi disebut berpotensi akan melambat.

"Kalau di tiap negara suku bunga dinaikkan, gerak ekonomi akan ada perlambatan. Karena cost of fund meningkat. Yang tadinya udah siap investasi jadi mikir, ini suku bunga lagi naik," imbuhnya.

Sebagaimana data Bloomberg per 2 November 2022, AS terpantau berada di posisi ke-10 sebagai negara dengan suku bunga acuan tertinggi. Sementara Indonesia berada di posisi ke-8.

Argentina 75%
Brazil 13,75%
Turki 10,50%
Meksiko 9,25%
Rusia 7,50%
Afrika Selatan 6,25%
Vietnam 6%
India 5,90%
Indonesia 4,75%
Filipina 4,25%
Amerika Serikat 4%




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA