Wednesday, 07 Dec 2022
Temukan Kami di :
Opini

Ironi Sepakbola Indonesia

Indah Pratiwi - 03/10/2022 10:03 Oleh : Agung Wibawanto

Mau sampai kapan begini terus? Mengapa tidak ada perbaikan? Begitulah pertanyaan kita, mungkin terutama mereka yang terimbas menjadi korban keberingasan suporter sepak bola di Indonesia. Ya, mereka adalah para keluarga suporter yang jadi korban luka ataupun tewas (terbaru dikabarkan 129 korban jiwa).


Ada lagi para pedagang kecil yang sering dipalak dagangannya, bahkan gerobak hancur. Masyarakat yang rumahnya pun bisa menjadi salah sasaran lemparan batu. Para penonton yang kendaraannya mengalami kerusakan dan syukur bisa selamat sampai rumah. Anggota aparat yang berjaga yang selalu menjadi sasaran amuk massa.

Pemerintah daerah mesti nombok setiap ada kericuhan, fasilitas publik hancur. Pihak klub yang merasa ketar-ketir akan didenda mahal akibat ulah pendukungnya sendiri. Apa yang ingin dicari? Apa yang ingin dibuktikan dengan kericuhan dan kerusuhan seperti itu? Selalu beralasan karena adanya provokasi terlebih dahulu, padahal niat dari awal memang pingin tawuran.

Mungkin sudah menjadi hobi. Gak tawuran gak asyik. Orang-orang seperti itu harusnya gak punya hak untuk masuk stadion, blacklist langsung. Juga mereka yang diketahui mengkonsumsi alkohol atau membawa minuman beralkohol. Sanksi blacklist meski tidak membuat jera tapi efektif. Untuk itu sistem pembelian tiket sudah mulai dimodernisasi.

 

 

 

Satu orang satu tiket dengan menunjukkan KTP dan bisa melalui online. Kemudian, kita juga bertanya, apa fungsinya bendera besar suporter di lapangan? Tidak perlu dan larang saja, karena itu bisa jadi bahan yang bisa dibakar dan tiangnya bisa dibuat senjata tawuran. Pemeriksaan super ketat tidak ada yang membawa tas berisi batu atau senjata tajam.

Setiap kerusuhan yang ditimbulkan oleh pendukung, maka klub dari pendukung tersebut juga harus mendapat sanksi tegas. Biasanya hukuman denda uang, tapi pengurangan nilai juga wajar agar klub dan suporter bisa saling mikir. Selain itu, pihak aparat setiap kali terjadi kerusuhan nyaris tidak mampu berbuat banyak karena kekurangan personil serta strateginya lamban.

Kerumunan massa harus dipecah hingga memudahkan menangkap provokator. Tanpa memandang dari kelompok mana. Terakhir, sudahilah rasa mendukung yang berlebihan (fanatik). Coba pikir, hanya karena bola satu saja bisa saling menganiaya hingga membunuh? Ini jiwa-jiwa kelam generasi bangsa yang memang masih banyak butuh pembinaan.

Melatih diri dan mental menjadi pribadi yang sportif dan saling mengasihi sesamanya. Dan bagaimana pun, badan atau organ olahraga terbesar di Indonesia ini, PSSI, juga turut bertanggungjawab. Lakukan pembenahan yang memang dianggap perlu. Buat regulasi dan jalankan dengan tegas. Rangkul organ suporter lakukan pendekatan dan pembinaan.

Jika dipandang mendesak, stop saja liga. Tunda semua pertandingan beberapa minggu untuk cooling down. Karena ini soal nyawa yang tidak ingin terulang terus, melayang sia-sia. Stop kekerasan dalam olahraga. Namamu tidak akan pernah dikenang dengan baik karena menyakiti sesama. Tidak ada keuntungan yang didapat.

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto




Berita Lainnya

Jangan Ada Presiden yang Dipilih Orang Bodoh

06/12/2022 09:05 - Indah Pratiwi

Jangan Beri Ruang Orang-Orang Intoleran

02/12/2022 17:45 - Indah Pratiwi

Jokowi : Lawan (Banding) Kekalahan Gugatan WTO

01/12/2022 13:53 - Indah Pratiwi

Tak Seagama Tapi Lebih Mukmin

30/11/2022 20:00 - Indah Pratiwi

Masa Depan Proyek Mercusuar Jokowi

29/11/2022 20:00 - Indah Pratiwi

Indahnya King Maker Jokowi Bekerja Dalam Senyap

28/11/2022 18:40 - Indah Pratiwi

Biakto : Ahok Lebih Mulia

26/11/2022 13:11 - Indah Pratiwi

Identitas dan Politik Identitas

25/11/2022 12:25 - Indah Pratiwi

Dari Rakyat Biasa Menjadi Presiden Luar Biasa

24/11/2022 12:18 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA