Monday, 28 Nov 2022
Temukan Kami di :
Internasional

Aksi Protes Demonstran Iran Atas Kematian 'Mahsa Amini' Tewaskan 83 Orang

Aisyah Isyana - 30/09/2022 19:50

Beritacenter.COM - Aksi protes buntut tewasnya perempuan muda di Iran, Mahsa Amini, masih terus dilakukan di sejumlah kota, Kamis (29/9). Kelompok hak asasi manusia menyebut korban tewas akibat aksi demo selama hampir dua minggu di Iran mencapai setidaknya 83 orang.

Mahsa Amini (22), wanita muda asal kota Kurdi Iran, diketahui meninggal dunia usai ditangkap polisi moral Iran usai diduga mengenakan jilbab dengan cara yang tak patut. Adanya kabar kematian Amani sontak memicu kemarahan warga yang melakukan berbagai aksi.

Alhasil, aksi demonstrasi besar-besaran pun terjadi, yang malah direspon dengan kebrutalan pihak keamanan Iran terhadap peserta aksi. Alhasil, respon kerasa diberikan pihak keamanan setempat membuat puluhan orang tewas.

"Setidaknya 83 orang termasuk anak-anak, dipastikan tewas dalam #IranProtests," kata Iran Human Rights, sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di Norwegia, di Twitter.

Meski telah banyak jatuh korban dan adanya tindakan keras pihak keamanan, para demonstran tetap teguh menyerukan ditiadakannya aturan garis keras di Teheran, Qom, Rasht, Sanandaj, Masjed-i-Suleiman, dan sejumlah kota-kota lainnya.

Disiarkan televisi pemerintahan, menyebutkan jika polisi setempat telah menangkap beberapa perusuh, namun mereka tak memberikan angkanya. Dimana kelompok HAM menyebut puluhan aktivis, mahasiswa, hingga seniman telah ditahan. Bahkan, komite perlindungan Jurnalis menyebut pasukan keamanan telah menangkap setidaknya 28 wartawan.

Adanya insiden itu turut menjadi sorotan publik luas, khususnya negara-negara Barat. Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, Kamis (29/9), mendesak agar Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap Iran usai kematian Mahsa Amini.

Sejumlah orang di Norwegia bahkan berupaya masuk ke kedutaan Iran di Oslo selama digelarnya aksi yang diwarnai kemarahan, dimana terdapat dua orang menderita luka ringan. Polisi setempat terpaksa menahan 95 orang perusuh, demikian laporan media NRK.

Sementara itu, Presiden Iran Ebrahim Raisi menyebut kerusuhan yang terjadi sebagai langkah terbaru oleh kekuatan Barat yang telah bermusuhan dengan Iran sejak revolusi Islam pada 1979.

"Musuh telah melakukan kesalahan komputasi dalam menghadapi Iran selama 43 tahun, membayangkan bahwa Iran adalah negara lemah yang dapat didominasi," kata Raisi di televisi pemerintah.




Berita Lainnya

Wow, Ribuan Orang Pose Telanjang di Pantai

27/11/2022 13:02 - Anas Baidowi
Kemukakan Pendapat


BOLA