Thursday, 06 Oct 2022
Temukan Kami di :
Bisnis

Turun Diposisi 20 Orang Terkaya, Harta Mark Zuckerberg Raib Rp 1.000 Triliun

Aisyah Isyana - 22/09/2022 01:34

Beritacenter.COM - CEO Meta, Mark Zuckerberg, tengah berada dalam situasi sulit, dimana performa saham perusahaannya turun drastis dan membuat kekayaannya anjlok. Harta kekayaan Zuck tahun ini anjlok USD 71 miliar atau lebih dari Rp 1.000 triliun, hingga tersisa USD 55 miliar, seperti dikutip Futurism, Rabu (21/9/2022).

Laporan Bloomberg Billionaires Index, menyebut Zuckerberg kini menempati posisi 20 orang kaya dunia. Dimana sebelumnya pendiri Facebook ini sempat selalu masuk daftar 5 besar orang terkaya.

Meski anjlok hingga Rp1.000 triliun, sisa kekayaan Zuck masih sangat besar. Hanya saja, ini merupakan kali pertamanya dalam 8 tahun, peringkat Zuck di daftar orang terkaya dunia turun jauh. Padahal, Zuck dua tahun lalu masih menempati posisi ketiga orang terkaya dunia.

Sejatinya, tak hanya Meta saja yang sahamnyanya anjlok, namun pada 2022 ini banyak saham perusahaan teknologi tengah anjlok. Hanya saja, harta kekayaan Jeff Bezos hingga Bill Gates tak sampai turun sedalam Zuck. Tentu saja hal ini bukan masalah biasa untuk Zuckerberg.

Setelah Zuck mengumumkan perubahan nama menjadi Meta guna mengembangkan jagat virtual metaverse, valuasi Facebook masih terpantau tinggi sebelum September 2021. Zuckerberg bahkan sangat meyakini metaverse ini dapat menjadi masa depan internet.

Hanya saja, sejauh ini konsep metaverse tampak masih mengawang-awang. Terlebih, perangkat virtual realiy guna mengakses metaverse juga terpantau masih mahal. Belum lagi, perangkat itu juga tak terlalu menyenangkan jika dipakai terlalu lama.

Dengan kondisi itu, tak heran jika para investor masih belum begitu yakin dengan pertaruhan bisnis di metaverse. Bahkan, ada pakar yang menyebut Mark Zuckerberg turut andil membuat Meta anjlok bersamanya.

"Saya pikir Facebook tidak akan jadi baik selama dia masih berada di sana. Dia sepertinya adalah salah satu alasan mengapa sangat banyak orang tidak lagi melirik perusahaan itu. Dia benar-benar sudah kehilangan jalan," kata akademisi dari Harvard Business School, Bill George.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA