Thursday, 06 Oct 2022
Temukan Kami di :
Opini

Hedonisme Agama Membuat Menipis Cinta Tanah Air

Indah Pratiwi - 17/09/2022 11:20 Ditulis Oleh : Tito Gatsu

Indonesia termasuk negara yang malang dan begitu gencarnya budaya asing terus menggerus nasionalisme bahkan rakyat Indonesia dibuat lebih berpikir tentang sorga dan neraka untuk meninggalkan berpikir demi bangsanya , luar biasanya hingga pelaksanaan ibadah haji disubsidi pemerintah disisi lain umat yang berkeyakinan lain dipersulit membangun rumah ibadah kecuali direkomendasikan pendeta-pendeta hedonis yang dekat dengan kekuasaan dan uang begitu juga dalam agama lain , misalnya seorang tokoh agama Budha bahkan pada masa lalu pemuka agamanyapun sangat dekat dengan pemerintah dan sempat ditahan KPK.


Semua tak lain sebagai kontrol agar dana jama’ah bisa mereka kelola, mungkinkah ini sebuah pola kapitalis atas nama agama?

Begitu banyaknya organisasi agama di Indonesia tapi justru banyak menimbulkan perpecahan dan masing – masing merasa benar tak kalah dengan seorang wapres yang menduduki ketua Dewan Masjid tak ada salahnya memang , tapi apa gunanya selain membuat pemuka agamanya makin hedonis dan Indonesia terbelah serta meninggalkan nasionalisme

BUDAYA LELUHUR, NASIONALISME & KEDAULATAN RAKYAT.

Bung Karno pernah mencetuskan Trisakti sebagai haluan negara , yang meliputi :

1. Berdaulat Dalam Bidang Politik

2. Berdikari Dalam Bidang Ekonomi dan

3. Berkepribadian dalam Kebudayaan .

Hal ini tentu berkaitan erat dengan

Budaya, leluhur , nasionalisme dan kedaulatan rakyat.

Karena ini adalah sebuah ikatan yang tak terpisahkan , bahkan syarat sebuah bangsa untuk maju yaitu dengan bisa mempersatukan ketiga faktor tersebut , mari kita lihat dalam sisi yang objektif dan empirik

Dalam kehidupan sehari-hari kehidupan keluarga yang utuh akan membangun sebuah keluarga yang sejahtera jadi sebenarnya keutuhan keluarga itu tidak ditinjau dari sisi materi tapi dilihat bagaimana sebuah keluarga itu bisa harmonis itulah yang dinamakan keberhasilan kedaulatan sebuah keluarga.

Mengutamakan apa yang menjadi tujuan hidup atau misi dari keluarga dan bisa mengoptimalkan dari kemampuan yang dimiliki keluarga tersebut, misalnya sekarang banyak anak orang miskin yang jadi orang berhasil , baru- baru ini saja kita mendengar seorang puteri tukang becak yang mendapat beasiswa di Inggris dengan nilai cumlaude, hal itu tentunya bukan semata-mata keberhasilan si anak tapi bagaimana keluarganya bisa memberi pandangan jauh kedepan yang bisa saling mendukung.

Hubungan paling erat dan tanpa pamrih adalah keluarga , seorang tua takkan punya pamrih bila mengayomi anaknya begitupula anaknya, kondisi humanis ini pada umumnya menjadi kenyataan bahkan ketika sang anak mempunyai keluarga lagi dan si kakek atau nenek mempunyai cucu biasanya sang kakek lebih sayang kepada cucunya bahkan ketika cucunya mempunyai anak si kakekpun sangat sayang kepada buyutnya begitu terus turun temurun dan terus menurunkan budayanya kepada generasi berikutnya dan apabila dalam bingkai suatu bangsa itulah yang dinamakan nasionalisme.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari.

Oleh karenanya negara-negara yang maju biasanya adalah negara yang memiliki ikatan kuat dengan leluhurnya itulah yang dinamakan nasionalisme yang menjadi Nation Character Building , kita ambil contoh Jepang walaupun sempat porak poranda akibat bom atom Hirosima pada tahun 1945 tapi 25 tahun kemudian bisa menjadi negara yang paling maju didunia karena pemimpinnya mempertahankan budaya leluhur dan mendahulukan kedaulatan rakyat.

Begitu pula China setelah mengakhiri masa totaliter hasil revolusi kebudayaan Mao Zedong tahun 1978 , Deng Xiao Ping membawa China maju menjadi negara yang maju karena merubah pola menjadikan China yang rakyatnya lebih berdaulat dan 25 tahun kemudian menjadi negara yang paling maju di dunia .

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia sebelum menginjak abad ke 15 adalah negara yang kuat dengan nama Nusantara dengan keberhasilan Majapahit mempersatukan Nusantara bahkan meliputi Filiphina , Semenanjung Malaka hingga Thailand tapi malangnya setelah masuknya Islam dan pengkhianatan Raden Patah kepada ayahnya Raja Brawijaya V budaya Indonesia dirubah menjadi budaya Arab dan banyak catatan-catatan peninggalan leluhur yang dihilangkan hingga pada abad ke 17 Sultan Agung berusaha mengembalikan budaya Nusantara beriringan dengan Islam

Pada abad ke 19 Pemerintah kolonial Belanda kembali berusaha memecah belah budaya Indonesia dengan mendatangkan kaum wahabi ke Indonesia hingga pada awal abad ke 20 atau pada tahun 1900 lahirlah politik etis gagasan Vandeventer yang merupakan hasil ungkapan kartini melalui surat menyuratnya yang dibukukan Abendanon dan dibawa ke Parlemen Belanda.

Beberapa tahun kemudian atau sekitar tahun 1903 para pemuda yang memang diidentifikasikan Islam sebagai partai pribumi dipelopori oleh HOS Tjokroaminoto mendirikan Partai Syarekat Islam bukan berarti kesepakatan Ulama tapi memang hanya itu wadah yang disediakan pemerintah Belanda setelah Partai Pribumi atau Indische Party tidak diakui diparlemen Hindia Belanda 25 tahun kemudian atau pada tahun 1928 lahirlah komitmen kebangsaan atau kita kenal dengan Sumpah Pemuda yang mengakui satu bangsa , satu bahasa , satu tanah air Indonesia tanpa diskriminasi Ras, Suku dan agama.

Dengan Nasionalisme ini akhirnya Indonesia bisa merebut kemerdekaan 17 tahun kemudian , yaitu tahun 1945 setelah lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara dan ideologi bangsa tapi pada tahun 1965 kembali Indonesia diuji dimana gagasan kedaulatan rakyat diganti dengan kedaulatan militer oleh orde baru hingga jatuhnya Suharto pada tahun 1998 setelah reformasi hingga hari ini kita masih belum kembali sepenuhnya kepada kedaulatan rakyat banyak pihak yang masih ingin mengganti dengan Fasisme agama tapi kita bersyukur banyak perubahan di era Jokowi yang berani berusaha kembali kepada faham nasionalisme dan kedaulatan rakyat.

Jadi syarat mutlak sebuah kemajuan bangsa adalah kembali kepada ikatan leluhur , membangun nasionalisme dan kedaulatan rakyat niscaya 20 tahun kedepan Indonesia menjadi negara paling maju di dunia.

Ayo tinggalkan hedonisme agama kembali ke Pancasila demi Indonesia maju.

Salam Kedaulatan Rakyat,

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu




Berita Lainnya

Mengapa Perlu Toleransi dalam Beragama?

04/10/2022 11:28 - Indah Pratiwi

Ironi Sepakbola Indonesia

03/10/2022 10:03 - Indah Pratiwi

Tidak Akan Pernah Lahir Lagi Seorang Jokowi

29/09/2022 20:50 - Indah Pratiwi

Makan Nasi Goreng, Setelah Letih Turun Gunung

23/09/2022 12:49 - Indah Pratiwi

Jokowi dan Partai

22/09/2022 08:35 - Indah Pratiwi

Pancasila Itu Ngajarin Banyak Hal…

19/09/2022 08:40 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA