Monday, 28 Nov 2022
Temukan Kami di :
Opini

Bung Karno Underground

Indah Pratiwi - 13/09/2022 13:37 Ditulis Oleh : Sunardian Wirodono

“Kamu anak kecil, tahu apa soal politik?” Bung Karno marah besar pada Baby Huwae, malam-malam di Wisma Yaso ketika peragawati kondang itu menemani Dewi ‘Madame D Syuga’ Soekarno, pulang dari pesta. Baby Huwae waktu itu memberanikan diri bertanya pada Bung Karno, kenapa tak segera membubarkan PKI? Pada waktu itu pula, paro-tahun 1965, desakan pembubaran PKI marak di mana-mana. Tapi Bung Karno tetap kukuh dengan Nasakomnya.


Nasionalisme, Agama dan Komunisme hendak disatukannya dalam setarikan nafas. Tapi Bung Karno bukanlah kadrun, yang membaca komunisme sebagai PKI, dengan cap anti-tuhan dan partai setan. “Komunisme adalah ideologi besar, PKI itu partai kader. Kalau aku bubarkan, dia akan menjadi underground!” semprot Bung Karno pada perempuan bernama Baby Constance Irene Theresia Huwae. Kelahiran Rotterdam, Belanda, tahun 1939,

Baby adalah bagian dari sosialita kaum jetset Jakarta dekade 60-an. Ia berteman akrab dengan Dewi Soekarno, isteri Bung Karno. Bahkan presiden pertama RI itu memberi nama Baby, Lokita Purnamasari. Baby meninggal tahun 1989, melewati jenjang kehidupan sebagai peragawati, pemain film, pengusaha, dan di masa tuanya sebagai peramal. Baby Huwae benar-benar tidak tahu, kenapa Bung Karno begitu marahnya. Kenapa dikatakan jika PKI dibubarkan akan menjadi underground?

Jadi grup musik ngak-ngik-ngok maksudnya? Itu pertanyaan bercanda, nggak usah sewot. Maksud Bung Karno, dia (mangsudnya PKI itu) akan menjadi kekuatan politik yang susah dikontrol. Artinya jangan gegabah. Contohnya gini, pembubaran organisasi HTI dan FPI, apa dengan sendirinya membubarkan aktivitas keduanya? Itu yang lebih ditakutkan Bung Karno atas desakan pembubaran PKI. PKI bisa dipakai lawan politiknya sebagai tameng, sebagai kedok, sebagai alasan, sebagai kamuflase dan muslihat. Sebagaimana demikian isu PKI atau komunisme dipakai Soeharto, untuk menggebug lawan-lawan politiknya.

Menjadi common enemy bila-bila masa diperlukan untuk alasan yang absurd. Misal, para mahasiswa berdemo, dituding ditunggangi PKI. Yang tak setuju kebijakan Pemerintah, PKI. Yang kritis dan nyinyir pada korupsi, PKI. Bahkan menjadi dagangan politik ketika politik identitas marak, tak setuju negara khilafah = islamophobia = PKI. Dan SBY melestarikan dalam mencari dukungan politik periode ke-dua kekuasaannya. Hingga pun ketika muncul anak bajang bernama Jokowi, dituding-tuding sebagai anak PKI untuk mendelegitimasi kehadirannya.

Akibatnya, ngerti apa kids zaman now tentang PKI atau komunisme? Walaupun sebenarnya juga, ngerti apa anak sekarang tentang pembubaran HTI, atau pun FPI, dalam masa pemerintahan Jokowi? Apakah dikira ketika HTI dibubarkan, juga FPI, selesai sampai di situ? Bagaimana dengan puritanisme, radikalisme, ekstremisme, wahabisme, kadrunisme, yang justeru makin marak, dan berani, yang dipertontonkan secara underground? Dalam gossip, hatespeech, hoax, fitnah, pemutarbalikan fakta dan makna? Dengan gaya-gaya milenial, social experimental, nikah massal gratis, show K-Popers bergaya ‘si paling hijrah’? |

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III




Berita Lainnya

Biakto : Ahok Lebih Mulia

26/11/2022 13:11 - Indah Pratiwi

Identitas dan Politik Identitas

25/11/2022 12:25 - Indah Pratiwi

Dari Rakyat Biasa Menjadi Presiden Luar Biasa

24/11/2022 12:18 - Indah Pratiwi

Keteladanan Jokowi

21/11/2022 10:36 - Indah Pratiwi

Proyek Kereta Jokowi Menghapus Pesimisme

19/11/2022 13:17 - Indah Pratiwi

DAN KEPEMIMPINAN INDONESIA PUN MENDAPAT PUJIAN

18/11/2022 21:55 - Indah Pratiwi

Perenungan Bahaya Virus Kadrun dan Kutukannya

18/11/2022 16:06 - Indah Pratiwi

Jangan Sekali-Kali Melupakan Jasa Ulama

14/11/2022 18:47 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA