Wednesday, 07 Dec 2022
Temukan Kami di :
Peristiwa

Mengusut Tuntas Peristiwa Berdarah, Warganet : Ferdy Sambo dan Tekanan Publik

Indah Pratiwi - 12/08/2022 14:59

Beritacenter.COM - Belum lama ini kita dibuat kaget dengan Kapolri menetapkan tersangka mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo dalam kasus pembunuhan ajudannya, Brigadir J.

Fakta-fakta baru yang diungkap orang nomor satu di tubuh POLRI itu, TIDAK ADA fakta tembak-menembak, yang ada penembakan terhadap brigadir J yang dilakukan atas perintah saudara FS.


Terungkanya Ferdy sambo menjadi dalang pembunuhan mendapatkan sorotan dari Facebook Pepih Nugraha dengan menuliskan sebuah artikel yang berjudul "Ferdy Sambo dan Tekanan Publik"


Oleh: Pepih Nugraha

Sebagaimana yang terungkap dari pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat mengumumkan status Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka, Polri berkepentingan mengusut tuntas peristiwa berdarah yang menewaskan Brigadir J, sampai kasus benar-benar terungkap siapa dalang di balik pelaku tindak kriminal di luar batas kemanusiaan itu.


Selain mengutip pesan dan harapan Presiden Jokowi yang ingin kasus ini diungkap tuntas demi menjaga marwah Polri itu sendiri, Kapolri juga mengatakan bahwa kasus ini telah menjadi perhatian publik yang sangat luas.

Berkebalikan dengan Dewan Pers, sesama insitusi negara, yang justru ingin pemberitaan tentang kasus ini diredam dengan hanya mengutip sumber-sumber kepolisian. Alih-alih mendorong terlaksana jurnalisme investigasi, Dewan Pers malah “masuk angin” mengikuti irama keluarga Ferdy Sambo. Di sini jelas Dewan Pers telah melanggar kode etik yang seharusnya ditegakkannya. Perlu perhatian Presiden juga, sebab cara-cara yang dilakukan Dewan Pers itu sungguh nista dan memalukan!

Jika mau diambil kesimpulan serampangan, andil Jokowi dan publik, dalam hal ini masyarakat luas, sangat besar. Terbukti, Kapolri pun dibuat “tak berdaya”. Sebab, tanpa perhatian yang intens, bisa jadi kasus yang melibatkan petinggi Polri jenderal bintang satu dan dua ini akan dianggap angin lalu. Kasus ini bisa direkayasa dengan mudah tanpa harus menindaklanjuti proses penyelidikan, penyidikan, visum, gelar perkara dan seterusnya.

Meski Presiden Jokowi hanya berbekal harapan dan publik perbekal perhatian besar, tetapi ternyata telah mewujud menjadi kelompok penekan (pressure group) yang efektif terhadap Polri itu sendiri untuk bekerja seprofesional mungkin. Di sini kerjasama yang tak kasat mata dan tanpa rencana terjalin antara Presiden dengan rakyatnya (publik), yang membuat Kapolri “menyerah” itu tadi.

“Menyerah” di sini dimaksudkan bahwa Kapolri yang bertanggung jawab atas institusi negara harus benar-benar bekerja profesional tanpa keraguan, rekayasa dan skenario jahat melenyapkan peristiwa pembunuhan ini sekadar “tembak menembak” biasa antarajudan.

Ini pembunuhn yang terencana. Ada sutradara (dalam wayang disebut dalang) yang merupakan otak di balik pembunuhan itu, ada penulis skenario yang merangkai jalannya cerita, ada produser yang membiayai segala kebutuhan jalannya eksekusi, ada pemeran utama (eksekutor), ada pemain sampiran dan lain-lain, yang semuanya bekerja dalam skenario jahat.

Tugas Polri berikutnya adalah memilah dan memilih mana yang sekadar melanggar etik dan mana yang sudah masuk pidana. Jelas, yang masuk pidana seperti Ferdy Sambo harus berhadapan dengan hukum di pengadilan.

Di luar bahwa jajaran kepolisian bertindak “lelet” -tetapi baru terungkap bahwa dalam kasus ini banyak barang bukti yang dihilangkan untuk menghapus jejak kejahatan- tetapi apresiasi terhadap Polri juga harus diberikan secara objektif. Meski Ferdy Sambo yang disebut-sebut sebagai “the next Kapolri” karena kariernya yang sedemikian moncer, toh bisa digelandang juga. Hukuman mati bahkan menantinya.

Harapannya, Polri juga akan bekerja profesional untuk kasus-kasus “ecek-ecek” yang tidak melibatkan perhatian publik dan harapan Presiden, tetapi menyangkut rasa keadilan masyarakat kecil yang tidak paham hukum.

Kasus Ferdy Sambo hendaknya dijadikan momen bersih-bersih di tubuh Polri, bahwa petinggi dengan bintang bertebaran di pundak pun bisa digelandang menjadi pesakitan jika benar-benar terbukti mempermainkan keadilan.

Teruslah bekerja secara profesional, Pak Polisi!

(Sumber: Facebook Pepih Nugraha)

 




Berita Lainnya

Gempa Jember M 6,2 Tak Berpotensi Tsunami

06/12/2022 14:05 - Anas Baidowi

Bus Pariwisata Masuk Jurang, 7 Orang Tewas

04/12/2022 18:56 - Anas Baidowi

Gempa 2,7 Magnitudo Guncang Cilacap Jateng

03/12/2022 21:00 - Baharuddin Kamal
Kemukakan Pendapat


BOLA