Wednesday, 10 Aug 2022
Temukan Kami di :
Peristiwa

Kematian Brigadir J "Penuh Misteri", Karto Boogle : MAMPUKAH KAPOLRI?

Indah Pratiwi - 05/08/2022 15:20

Beritacenter.COM - Kematian Brigadir J menjadi sorotan dari Sabang sampai Merauke, disitulah intergritas Institusi Polri dipertaruhkan, bukan hanya nama institusi saja tapi juga nama baik Kapolri juga juga menjadi sorotan.

Apakah kasus ini bener-benar akan transfaran ? itulah yang menjadi pertanya besar di tengah-tengah masyarakat, karena didalam pengusutan kasus tersebut banyak yang tidak singkron keterangan dari awalnya terungkapnya kasus tembak-tembakan antara polisi ini.


Hal tersebut mendapatkan sorotan dari pegiat media sosial melalui akaun Facebook Karto Bugel, dengan menuliskan artikel yang berjudul "MAMPUKAH KAPOLRI?"

Oleh : Karto Bugel


Ternyata benar adanya. Apa yang dikatakan oleh Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara Hermawan Sulistyo, memang memiliki bobot strategis.


Dia bilang bahwa alasan Kapolres Jakarta Selatan kemarin dinonaktifkan karena pada dirinya melekat indikasi telah merusak alat bukti atau TKP.


Kini itu memang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto terkait 25 personil Polri yang dianggap tak profesional dan justru telah merusak TKP hingga menghilangkan barang bukti.

 

 

 


Dan itu sangat masuk akal dengan jarak waktu 3 hari sejak terjadinya peristiwa disanding dengan hari pengumuman. Bisa terjadi apa saja.


Kerusakan TKP yang dihasilkannya, tak berlebihan disebut paripurna. Itu pasti berdampak sangat krusial atas usaha mencari sisi benar sebuah peristiwa pidana.


Membayangkan seorang ahli dalam hal cegah mencegah maling justru melakukan bersih-bersih jejak terhadap rumah yang terindikasi kemalingan, pasti hasilnya sempurna. Tak ada lagi jejak tersisa dapat dijadikan bukti. Bila masih, bisa jadi sudah dalam kondisi rusak parah.
Itu pasti memang akan membuat sulit para penyidik dari Irsus bentukan Kapolri.


Namun, apapun ceritanya, apresiasi atas kinerja Irsus pantas kita berikan. Itu jelas sebuah usaha yang tak ringan. Seperinya, tak lama lagi, dua laporan terdahulu dengan latar belakang menggunakan data dan bukti lama itu pasti akan disingkirkan. Kini, itu sedang dievaluasi.


Dua laporan itu adalah terkait pelecehan seksual dengan pelapor sang istri dan satu sisanya adalah laporan Bharada E yang merasa terancam akan dibunuh.


Kelak hanya akan tinggal 1 laporan saja yang akan dianggap kredibel. Laporan polisi yang dilayangkan oleh keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J terkait dugaan pembunuhan berencana.


Bila benar, pada akhirnya, ini hanya akan menuju pada pelanggaran pidana pasal 340 KUHP, pembunuhan dengan rencana. Dan itu seperti tanda akan hadirnya TSK baru. TSK sebagai aktor utama dari perencanaan pembunuhan itu.


Sementara, penetapan TSK terhadap Bharada E oleh penyidik adalah dengan Pasal 338 KUHP (pembunuhan) juncto Pasal 55 KUHP (bersekongkol) dan juncto Pasal 56 KUHP (ikut serta). Terlihat dengan jelas bahwa penetapan TSK dengan pasal tersebut bukan untuk aktor utama.


Dan itu tak sejalan dengan laporan yang sepertinya akan menjadi satu-satunya laporan yang diproses yang dipakai sebagai landasan oleh keluarga Brigadir J yakni pembunuhan berencana. Ya, itu seperti aroma masih butuh TSK lain sebagai aktor utama.

Mustahil polisi dengan pangkat terendah adalah juga otak perencanaan bukan?
Sepertinya langkah Kapolri, meski terkesan lambat, sudah makin jelas.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA