Wednesday, 10 Aug 2022
Temukan Kami di :
Ekonomi

Ditengah Ancaman Resesi, Ekonomi RI Kuartal II-2022 Masih Tumbuh 5,44%

Aisyah Isyana - 05/08/2022 10:32

Beritacenter.COM - Sejumlah negara-negara maju seperti Amerika Serikat, masuk ke jurang resesi. Inggris juga disebut bakal menyusul Amerika terperosok ke jurang resesi. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Sedikitnya Indonesia masih dapat bernafas lega, setidaknya hingga akhir tahun ini. Pasalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan ekonomi RI tumbuh 5,44% di kuartal II-2022 alias hingga akhir Juni lalu.

"Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 dibandingkan kuartal I-2022 tumbuh 3,72%. Bila dibandingkan kuartal II-2021 atau yoy tumbuh 5,44%," kata Kepala BPS Margo Yuwono di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (5/8/2022).

Margo menyebut ekonomi RI tumbuh secara kumulatif pada semester I-2022 sebesar 5,23%. Dimana pertumbuhan ekonomi RI itu didasarkan atas PDB pada kuartal II-2022 atas dasar harga berlaku Rp4.919,9 triliun dan atas dasar harga konstan Rp2,923,7 triliun.

Negara dapat dinyatakan resesi jika ekonomi di negara itu tercatat minus selama dua kuartal berturut-turut. Masih ada kuartal lagi tahun ini, dan Indonesia diharapkan tak mengalami ekonomi mnus hingga akhir tahun ini.

Kendati begitu, kita harus tetap mewaspadai berbagai kemungkinan, terlebih Menteri Keuangan Sri Mulyani juga telah mewanti-wanti soal ancama inflasi tinggi yang dapat mengancam ekonomi Indonesia.

Sri Mulyani mengatakan, inflasi tinggin ini telah mengancam pertumbuhan ekonomi negara lain dalam skala global.

"Dengan adanya berbagai perkembangan geopolitik, inflasi dan respons policy kita lihat tanda-tanda pelemahan ekonomi global mulai terlihat. Secara global PMI sekarang sudah menurun di 5,2, Thailand sudah nyaris di level 50, Malaysia di 50, Indonesia di 50. Beberapa negara juga menunjukkan adanya PMI Manufaktur yang terkoreksi ke bawah atau cenderung menuju kepada level netral atau bahkan kontraksi," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA secara virtual Rabu (27/7) lalu.

Kondisi ini membuat outlook ekonomi dunia tahun ini direvisi Dana Moneter Internasional (IMF). Dimana sebelumnya sempat diprediksi mencapai 3,6%, kni dikoreksi menjadi 3,2%. Bahkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun depan juga di revisi, dari awalnya 3,6% menjadi 2,9%.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA