Thursday, 06 Oct 2022
Temukan Kami di :
Opini

ADA TERCIUM BAU SABOTASE PADA KISAH BERAS DIKUBUR?

Indah Pratiwi - 03/08/2022 13:02

Bila ada kesalahan, untuk sementara, itu bukan jenis kesalahan luar biasa. Bukan jenis pelanggaran berat. Bisa jadi hanya soal pelanggaran peruntukan terkait kontrak sewa menyewa tanah.


Itu bila keterangan dari pihak JNE benar adanya. Dalam keterangannya, JNE mengatakan bahwa penguburan beras itu sudah melalui proses standar operasional penanganan barang yang rusak.


Pihak JNE akhirnya buka suara terkait temuan berkarung-karung beras bantuan sosial (bansos) di tanah lapang wilayah Tirtajaya, Sukmajaya, Depok. Beras yang dikubur disebut sudah sesuai dengan prosedur.


VP of Marketing JNE Express, Eri Palgunadi mengatakan bahwa temuan beras bansos di Depok merupakan barang rusak. Tak ada pelanggaran di sana.


“Terkait dengan pemberitaan temuan beras bantuan sosial di Depok tidak ada pelanggaran yang dilakukan, karena sudah melalui proses standar operasional penanganan barang yang rusak,” papar Eri dalam keterangan resminya, Minggu, 31 Agustus 2022.


Eri mengatakan tindakan itu sudah sesuai perjanjian antara kedua pihak. Pihaknya juga berkomitmen untuk mengikuti hukum yang berlaku apabila diperlukan.


"Apakah itu berarti bahwa keterangan Eri sudah cukup?"


Bila ingin cepat selesai, kontrak JNE dengan pemberi mandat dapat dijadikan bukti. Klausul dalam kontrak bahwa barang yang rusak boleh langsung dibuang dapat menjadi alat bukti yang sah. Berita Acara terkait penimbunan itu pasti juga dimiliki.


Namun terkait sewa menyewa lahan, JNE dapat dituntut oleh pemilik tanah karena telah menimbun sesuatu di tanah milik orang lain. Meski tanah itu telah dikontrak, bisa jadi tak ada klausul bahwa tanah yang dikontrak itu boleh digali apalagi dipakai untuk menimbun sesuatu.

 

"Emang beras itu milik siapa?"


Dalam keterangannya, Dinsos Kota Depok menyatakan bahwa mereka tidak pernah menggunakan jasa JNE untuk pengiriman bahan sembako untuk wilayah Kota Depok.


Selanjutnya, Dinsos Kota Depok pun juga menyatakan bahwa pengiriman beras yang menggunakan jasa JNE adalah Kemensos RI kerja sama dengan BULOG.


"Hasil kordinasi dengan Dinsos Kota Depok bahwa Dinsos Kota Depok tidak pernah menggunakan jasa JNE untuk pengiriman bahan sembako untuk wilayah Kota Depok. Untuk pengiriman beras yang menggunakan jasa JNE adalah Kemensos RI kerja sama dengan BULOG,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan, Senin, 1 Agustus 2022.


Benarkah?


Ketika merek beras itu adalah "Beras Kita" itu dapat ditelusuri. Klik saja dalam mesin pencarian. Di sana, "beras kita" sepertinya benar adalah merek dagang milik Bulog.


Lalu, ketika saksi berinisial S sebagai si pembisik dari pemilik tanah bahwa 2 tahun yang lalu ada penimbunan beras di tanah yang dimilikinya itu, serta merta peristiwa di tahun 2020 adalah dimana kisah itu bermula.


Ternyata di tahun itu memang ada peristiwa pembagian sembako. Ada kondisi negara dalam keadaan darurat. Ada penetapan PSBB karena pandemi Covid-19.


Untuk membantu masyarakat terdampak pandemi Covid-19, pada tahun 2020 pemerintah memberikan bantuan sosial berupa beras sebanyak 25 kilogram per kepala keluarga.


Di sana pun ada data bahwa bantuan tersebut disalurkan Kementerian Sosial bekerjasama dengan Bulog dan DNR (Dosni Roha) Corporation sebagai pengelola gudang stok beras.


Sementara, pihak yang ditunjuk sebagai penyalur, ada nama JNE. Konon JNE sebagai salah satu penggerak rantai pasok dalam negeri, turut andil dalam mendistribusikan bantuan beras ke setiap penerima.


Diberitakan bahwa sejak 5 - 17 Mei 2020, JNE telah mendistribusikan sebanyak 36.049 ton beras di DKI Jakarta, Kepulauan Seribu serta Bodetabek.
https://www.pikiran-rakyat.com/.../kementerian-sosial...


"Berarti?"


Koq berarti? Ya kejar saja JNE sebagai pihak penimbun. Suruh saja dia buktikan bahwa dalam klausul kontrak antara dia dan pemberi mandat itu ada perintah penguburan bila terjadi barang rusak misalnya.


Bila tidak, berarti ada itikad tidak baik. Ada usaha pemberian keterangan secara tidak benar. Dan ini dapat dipakai sebagai pintu masuk untuk penyelidikan pihak yang berwenang.


Cerita itu akan menjadi asik untuk diikuti.


Di sana, ada kisah dimana hak banyak orang menjadi susah di tahun 2020 saat mereka dipaksa negara untuk tinggal di dalam rumah, dilanggar. Bisa jadi ada kisah rakyat sebagai penerima hak, justru tak mendapatkan bantuan demi maksud tertentu misalnya.


Lebih jauh, lebih menggigit, di sana, saat itu hadir peristiwa kisah pro kontra AWAL saat PSBB dengan terpaksa harus dinyatakan oleh negara. Cerita awal tentang beratnya negara saat harus merumahkan warga negaranya.


Pemberlakuan karantina wajib itu telah dipolitisir sedemikian rupa oleh banyak pihak sehingga suasana politik sempat memanas kala itu. Istilah Lockdown atau karantina wilayah atau sebagian yang menjadi domain negara ramai-ramai dipermasalahkan.


Maka pembuktian ini menjadi penting. Ada pintu terbuka atas potensi telah terjadinya tindak sabotase sekelompok orang atau pribadi pada negara misalnya, bisa jadi adalah kisah di balik penimbunan ini.


"Tadi di awal bilangnya pelanggaran ringan, kenapa kini jadi sabotase?"


Ya, bila JNE sebagai pihak penimbun dapat menunjukkan klausul dalam kontrak dimana penimbunan itu memang ada dan diizinkan dan tentu saja disertai berita acara penimbunan barang itu, perkara itu memang langsung selesai. Ga pakai panjang dan berbelit.


Bila tidak, bukankah membuang atau merusak properti milik pemerintah apalagi menimbun dengan maksud tertentu misalnya, adalah perbuatan yang layak dicurigai sebagai tindak kriminal? Dan terjadi saat negara dalam keadaan darurat?


Dan kita semua tahu bahwa tindak kriminal pada sebuah negara apalagi dalam kondisi darurat memiliki bauran yang kompleks. Dia bisa berarti apa saja.


Pak Polisi punya cara untuk mencari tahu cerita yang sesungguhnya dan maka harus dibuat clear.

Kisah beras dapat menjadi busuk dan lalu cara penyelesaiannya adalah dengan dikubur sudah langsung menyisakan KEJANGGALAN. Beras jelas bukan sejenis daging yang ketika busuk maka SOP nya akan terdengar pantas berbunyi seperti itu.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel




Berita Lainnya

Mengapa Perlu Toleransi dalam Beragama?

04/10/2022 11:28 - Indah Pratiwi

Ironi Sepakbola Indonesia

03/10/2022 10:03 - Indah Pratiwi

Tidak Akan Pernah Lahir Lagi Seorang Jokowi

29/09/2022 20:50 - Indah Pratiwi

Makan Nasi Goreng, Setelah Letih Turun Gunung

23/09/2022 12:49 - Indah Pratiwi

Jokowi dan Partai

22/09/2022 08:35 - Indah Pratiwi

Pancasila Itu Ngajarin Banyak Hal…

19/09/2022 08:40 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA