Thursday, 11 Aug 2022
Temukan Kami di :
Opini

Beda Pendapat Menjadi Masalah

Indah Pratiwi - 30/06/2022 22:10 Oleh : Rof Sin

Sekali lagi tentang hukum jilbab.



Berita lama awal tahun 2020, sewaktu Ibu Sinta Nuriyah mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab, maka menjadi luar biasa heboh, Ibu Sinta Nuriyah lalu diserang, dihujat, dengan perkataan liberal, sesat, dll. Padahal Ibu Sinta Nuriyah memberi pendapat, menjelaskan dengan keilmuan tinggi. Siapa yg menyerang, menghujat, mencaci maki Ibu Sinta Nuriah ? Mereka adalah kaum konservatif, wahabi salafi, radikal takfiri.

Bukan hanya Ibu Sinta Nuriyah, tetapi seperti KH.Quraish Shibab dan Prof.Dr.Siti Musdah Mulia MA yang mana berani bersuara mengkritisi jilbab maka mereka serang habis2an.

KH.Quraish Shihab mereka hujat dengan perkataan : Liberal, sesat, murtad, syi’ah dan kafir.

Ibu Hj.Siti Musdah Mulia mereka serang dengan perkataan : Liberal, pendukung LGBT, sesat, murtad dan kafir.

Padahal KH.Quraish Shihab dan Ibu Hj. Siti Musdah Mulia ilmunya sangat tinggi.

 

 

Beda pendapat menjadi masalah, mengapa berbeda pendapat menjadi masalah kaum/orang2 konservatif, wahabi salafi dan radikal takfiri ? Karena menurut mereka, merekalah yang paling benar dalam penafsiran, jika berbeda dengan mereka maka akan dimusuhi dan akan dihujat, dibilang : Liberal, sesat, murtad dan kafir.

Beda pendapat jadi masalah, kenapa tidak bisa saling menghargai, menghormati, jika berbeda pendapat ? Tidak akan pernah bisa, mereka akan mempermasalahkan terus, karena mereka merasa yang paling benar.

Harusnya perbedaan pendapat disikapi bijak dan tidak menjadi masalah, seperti apa yang dikatakan KH.Yahya Cholil Staquf :

” Fikih itu bisa macam2 pendapat. Ada yang bilang jilbab wajib, jilbab itu enggak wajib.

Nah dari sisi agama, ini aspirasi nilai saja, ndak apa berbeda silahkan saja. Anggap wajib silakan, enggak silakan “.

Seharusnya yang berpaham jilbab wajib dan yang berpaham jilbab tidak wajib bisa saling menghargai, saling menghormati pendapat.

– Yang berpaham wajib, wajib memakai jilbab cadar dan pakaian hitam panjang, pakaian syar’i, pakaian muslimah, memakai jilbab akan mendapat pahala dan masuk surga,

Maka terserah saja, silahkan saja mereka yg berpaham seperti ini.

– Yang berpaham tidak wajib, jilbab bukan cerminan akhlak dan keimanan, bukan cerminan kesalehan, hanya budaya, rambut bukan aurat, tidak ada yg namanya pakaian syar’i dan muslimah, yang dinilai Tuhan itu perbuatan, apakah surga itu khusus penghuninya hanya untuk perempuan yg pakai jilbab saja ?

maka terserah saja, silahkan saja mereka yg berpaham seperti ini.

Tetapi faktanya selama ini terjadi pemaksaan pendapat, pemaksaan kehendak, tidak bisa saling menghormati perbedaan pendapat dan malah beda pendapat menjadi masalah.

Lebih sering terjadi yang berpaham jilbab tidak wajib akan diserang mereka yang berpaham jilbab wajib, dibully, dibilang tidak mendapat hidayah, tidak mengikuti syariat, bahkan sampai dibilang kafir dan yg lebih parah lagi hadis palsu disebarkan dengan ancaman neraka, untuk menakutkan perempuan sehingga mau ikut pemahaman mereka yang keras dan sangat kaku.

Yang berpaham jilbab itu wajib dan yang berpaham jilbab itu tidak wajib sama2 memakai ayat Al Qur’an yang sama, yaitu :

Surah Al Ahzab 59 dan Annur 31.

– Yang berpaham jilbab itu wajib, kedua ayat ini hanya dipahami secara tekstual.

– Yang berpaham jilbab itu tidak wajib, kedua ayat ini dipahami secara kontekstual, dipelajari Asbabun Nuzulnya ( sebab turunnya suatu ayat ) maka diketemukanlah asbabun nuzul surah Al Ahzab 59, secara singkat yaitu sebagai ” Pembeda status sosial dan supaya perempuan itu aman tidak terjadi pelecehan ” , sebagai pembeda antara wanita merdeka dan budak wanita. Wanita merdeka memakai kerudung, sedangkan budak wanita tidak boleh memakai kerudung.

Kedua surah tsb diatas yg dijadikan rujukan wajibnya memakai jilbab, sama sekali tidak ada perkataan wajib dan didalam Al Qur’an tidak pernah ada satupun ayat yg menyatakan bahwa rambut perempuan itu aurat dan jika tidak ditutupi pasti masuk neraka.

Yang berpaham jilbab itu wajib dan yang berpaham jilbab itu tidak wajib sama2 memakai hadis yang sama, yaitu :

” Dari Aisyah : Bahwasannya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yg tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid

( akil balig ) maka tidak ada yg layak terlihat kecuali ini, sambil menunjuk wajah dan telapak tangan. ” ( HR. Abu Daud ).

– Yang berpaham jilbab itu wajib, hadis ini dijadikan hukum tata cara berpakaian perempuan, pakaian syar’i perempuan.

– Yang berpaham jilbab itu tidak wajib, tidak mau memakai hadis ini, apalagi dijadikan hukum, adapun alasannya adalah :

” Hadis ini sangat bermasalah, karena diriwayatkan Khalid Bin Durayk. Menurut Abu Daud, Khalid Bin Durayk tidak pernah bertemu dengan Aisyah, artinya sanadnya terputus.

Disamping itu, ia juga merupakan sosok yang tidak dikenal ( majhul ) oleh kalangan pakar hadis. Jadi ini adalah hadis dhaif. Karena Khalid Bin Durayk merupakan sosok yg tidak dikenal dikalangan pakar hadis, jadi hadis ini bisa dikategorikan hadis palsu. “

Yang berpaham jilbab itu wajib :

Jilbab itu kewajiban yang diperintahkan Tuhan, rambut itu aurat, seluruh tubuh perempuan itu aurat, tidak ada tawar menawar wajib dilaksanakan, titik. Yang tidak pakai jilbab berdosa dan akan masuk neraka.

Yang berpaham jilbab itu tidak wajib :

Tidak ada satupun ayat Al Qur’an dan hadis yg secara jelas dan tegas tentang tata cara berpakaian perempuan atau tentang pakaian syar’i perempuan. Tidak ada masalah halal-haram-Pahala-dosa-surga dan neraka.

Satu2nya hadis tentang berpakaian perempuan adalah hadis sangat dhaif, bahkan bisa dikategorikan hadis palsu.

Pertanyaannya sekarang :

– Kenapa hadis dhaif ini bahkan bisa dikategorikan hadis palsu, dipaksakan menjadi hukum wajibnya berpakaian perempuan ?

– Kenapa jarang sekali ulama yg berani, jujur dan kritis mau menjelaskan asbabun nuzul kedua surah Al Qur’an tsb diatas ?

– Kita menghormati dan apresiasi yg tinggi kepada ulama klasik, tetapi apakah harus taklid buta ? Apakah ada kewajiban mengikuti semua pendapat mereka ? Apakah ada kewajiban mengikuti kesepakatan beberapa ulama klasik ?

Dinegara kita Indonesia, kata jilbab itu mulai ada dan mulai dikenal pada awal tahun 1980an dan sekarang jika kita mengkritisi jilbab meskipun dengan keilmuan, bukan hanya hujatan yg didapat tetapi akan diteriaki penista agama, penistaan jilbab.

Padahal didalam fikih dan tafsir banyak terjadi perbedaan pendapat dalam berbagai hal.

Seribu tahun lebih hukum dipaksakan.

Dimana kejujuran ?

Seribu tahun lebih hanya sibuk habiskan waktu dan energi untuk banyak hal yg remeh temeh dan akhirnya sangat jauh tertinggal.

Wawasan sangat sempit.

Malas membaca.

Malas belajar.

Buta sejarah.

Merasa paling benar.

1000an tahun hanya habiskan waktu, habiskan energi, bertengkar, berkelahi hanya karena beda pendapat, beda pendapat menjadi masalah.

Salam Damai.

Sumber : Status Facebook Rof Sin.



Berita Lainnya

Prestasi Ganjar dan Obrolan Makan Siang

11/08/2022 15:36 - Indah Pratiwi

Indonesia Menuju Generasi Emas

10/08/2022 17:25 - Indah Pratiwi

Meributkan Jilbab Perempuan

08/08/2022 21:35 - Indah Pratiwi

Seragam Sekolah

05/08/2022 18:22 - Indah Pratiwi

Pesawat Itu Bernama Indonesia

04/08/2022 17:30 - Indah Pratiwi

Urgensi Mencari Penerus Jokowi

02/08/2022 13:17 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA