Thursday, 11 Aug 2022
Temukan Kami di :
Opini

Tunduk Kepala, Hormat Ala Jokowi

Indah Pratiwi - 13/06/2022 16:48 Ditulis Oleh : Agung Wibawanto

FOKUS : Jokowi

Beberapa momen didapati Jokowi tengah membungkuk atau menunduk memberi hormat kepada orang-orang. Sebut saja Jokowi melakukan itu kepada Pimpinan MPR, kepada para guru yang tergabung dalam PGRI, kepada bekas gurunya, serta kepada beberapa tokoh politik senior. Belum pernah ada sebelumnya presiden RI yang memberi hormat menunduk sesering yang dilakukan Jokowi.

Menghormati orang dengan cara menundukkan badan sesungguhnya sudah dikenal lama di banyak negara, bahkan menjadi tradisi. Di Eropa, praktik menghormat seperti ini dikenal sebagai “bowing”, hanya ekslusif untuk kaum pria. Kaum wanita melakukan sesuatu yang disebut dengan curtsey. Namun, dalam sebuah pentas opera, saat curtain call, atau akhir pentas, seluruh pemain diharuskan membungkuk, sebagai tanda terima kasih.

Kaum pria di Eropa dituntut untuk melakukan apa yang disebut dengan “scraping”, yaitu kaki kanan ditarik pelan-pelan ke belakang saat membungkuk, sehingga meyebabkan kaki seperti “mengais” tanah. Dari sana, muncullah istilah bowing and scraping. Saat melakukan bowing and scraping, tangan kiri harus ada di dada dan tangan kanan terjulur ke depan.

Sementara di Jepang, orang-orang biasa saling menyapa dengan cara membungkukkan badan, bukan lewat jabat tangan. Sehingga, akan dianggap tidak sopan jika seseorang tidak membalas dengan cara yang sama. Di daratan Asia, membungkuk adalah sebuah tanda hormat. Selain memberikan hormat, membungkuk juga dapat digunakan untuk menunjukkan penyesalan, rendah hati, atau ketulusan.

 

 

 

 

Sepertinya mudah. Sama dengan perkataan “maaf”, sangat simpel. Namun terkadang sulit untuk dilakukannya. Di era sekarang ini, melakukan hal seperti itu akan dianggap konyol, berlebih, dan lebih parahnya lagi tidak mau diartikan dirinya mengaku salah. Ya, yang berat itu bukan saat menunduk atau mengucapkan kata maaf, melainkan takut malu diledekin sesudahnya, atau mungkin juga karena malas.

Jokowi sendiri yang hidup dalam tradisi Jawa, saya yakin, sudah menerapkan hal tersebut sejak ia kecil. Ditanamkan oleh simbah-simbah dan kedua orangtuanya untuk memiliki rasa hormat kepada orang lain, terutama kepada yang lebih tua. Dalam kehidupan Jawa sikap perilaku dipengaruhi oleh beberapa konsep yang sangat berakar, yaitu: tata karma, andhap-asor, dan tanggap ing sasmita (gaya bicara, merendahkan diri ketika memuji orang lain, dan mampu menangkap maksud yang tersembunyi).

Ungkapan tata krama berarti berperilaku baik atau beretika. Oleh karena itu, ketika orang Jawa berperilaku tidak sopan, misalnya ketika seorang anak muda berjalan di depan orang yang lebih tua tanpa permisi dan tidak membungkukan badan, dia akan dianggap sebagai seseorang yang tidak sopan dan tidak tahu tata krama. Konsep selanjutnya dari budaya Jawa adalah andhap-asor. Istilah ini menurut kamus terdiri dari dua kata yaitu andhap “rendah” dan asor “sederhana”.

Oleh karena itu, untuk bertingkah laku andhap-asor artinya merendahkan hati ketika memuji orang lain. Konsep ini menjadikan orang Jawa untuk mejadi low profile. Sebagai seorang Jawa, mereka tidak akan mencemarkan nama lawan bicaranya dan memuji dirinya sendiri. Ketika orang Jawa melanggar aturan ini, sebagaimana yang merujuk pada tata krama, maka ia akan dianggap tidak sopan dan mungkin akan mendapat sangsi sosial.

Oleh sebab itu, kedua konsep ini memiliki hubungan yang dekat. Berperilaku sopan bagi orang Jawa, seseorang harus tahu bagaimana berperilaku sopan atau tahu tata krama, dan berperilaku sopan juga berarti seseorang harus memiliki rasa andhap-asor. Pada akhirnya, sebagai orang Jawa yang baik, harus memiliki rasa tanggap ing sasmita yang jika artikan sebagai kemampuan untuk membaca yang tersirat.

Grace (1981) memperkenalkan istilah ‘maksud’ untuk kasus tersebut yaitu apa yang dimaksud, disiratkan, atau diusulkan adalah berbeda dari apa yang dikatakan. Itu artinya, mengekspresikan gagasannya secara tidak langsung kepada lawan bicaranya. Itu akan dianggap kurang sopan atau mungkin menyakiti perasaan lawan bicara jika mengekspresikan gagasannya secara langsung.

Bagi orang-orang Jawa, tidak selalu diperlukan mengekspresikan perasaannya secara langsung karena budaya dari tanggap ing sasmita artinya ‘sebuah perasaan baik’ atau maksud, menurut Grace.

Hubungan sosial orang Jawa juga dibentuk karena adanya tepo sliro, artinya mengukur kepada diri sendiri sebelum sesuatu dilakukan terhadap orang lain. Nasihat ini dapat diartikan lain bahwa “jangan melakukan suatu perbuatan kepada orang lain, yang tidak ingin dilakukan terhadap diri sendiri” , “jangan melukai perasaan orang lain”, “jangan mencampuri urusan orang lain” , dan sebagainya. Sepertinya menjadi orang yang “peka” adalah sebuah keharusan bagi orang Jawa.

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto




Berita Lainnya

Prestasi Ganjar dan Obrolan Makan Siang

11/08/2022 15:36 - Indah Pratiwi

Indonesia Menuju Generasi Emas

10/08/2022 17:25 - Indah Pratiwi

Meributkan Jilbab Perempuan

08/08/2022 21:35 - Indah Pratiwi

Seragam Sekolah

05/08/2022 18:22 - Indah Pratiwi

Pesawat Itu Bernama Indonesia

04/08/2022 17:30 - Indah Pratiwi

Urgensi Mencari Penerus Jokowi

02/08/2022 13:17 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA