Thursday, 11 Aug 2022
Temukan Kami di :
Opini

Pancasila sebagai Titik Tengah yang Tegas

Indah Pratiwi - 01/06/2022 20:05 Oleh: Supriyanto Martosuwito

FOKUS : Pancasila

Apakah demokrasi membolehkan anarki? Apakah ideologi Pancasila yang berhasil menyingkirkan paham kiri Komunis, toleran terhadap ideologi kanan Islamis? Pertanyaan itu seperti genderang yang bertalu talu di tengah peringatan kelahiran Pancasila di hari ini.

Bung Karno, sebagai penggagas dan pencetus Pancasila, tak sempat mensejahterakan bangsa, karena rongrongan terus menerus dari ekstrim Kiri (Komunis) serta ekstrim Kanan (Islamis), selain pemberontakan sempalan dari berbagai daerah yang ingin memisahkan NKRI.

Upaya mengkompromikan lewat Nasakom – nasionalis, agama dan komunis – gagal . Bahkan mengakibatkan Bung Karno diturunkan. Digantikan oleh Suharto yang anti orang Kiri – namun diam diam memanfaatkan orang Kanan.

Kini setelah Suharto tiada, ideologi kanan, pro negara Islam, khilafah, tumbuh subur, mendapat sokongan dari pendatang asing, Islam Transnasional, Salafi-Wahabi-HTI-IM, dan negara longgar terhadap mereka yang menjajakannya.

Padahal mereka terang terangan ingin menggantikan Pancasila.

Negara saat ini tidak adil terhadap ideologi perongrong Pancasila. Sangat bengis dan menindas PKI dan penganut kiri (komunis), hingga keturunannya, namun toleran dan begitu longgar terhadap orang orang kanan. Padahal ideologi kanan sudah terbukti menghancurkan Irak, Yaman, Libya dan mengacaukan Timur Tengah lainnya.

Para pengamat berkata; Pancasila adalah titik temu di antara ideologi besar yang berbasis pada demokrasi liberal, ideologi sosialis komunis dan kini ideologi Islamis yang kini giat menjajakan khilafah dan NKRI Bersyariah lewat kader kader New DI/TII dengan dukungan Islam Transnasional pro ISIS.

Pancasila sebagai jalan tengah mengandung makna sebagai titik keseimbangan dalam pembangunan bangsa dan negara. Namun titiknya jelas dan tegas. Tidak condong ke kiri maupun ke kanan.

Melalui sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, keseimbangan antara pembangunan yang bersifat duniawi dan surgawi atau materi (fisik) dan SDM (spiritualitas) pada bangsa telah ditetapkan. Tak perlu menjadikan negara agama, khususnya negara satu agama, untuk mewujudkannya.

Pancasila tidak semata-mata bertujuan mewujudkan kesejahteraan duniawi yang bersifat fisik materi namun juga pembangunan watak kewargaan atau sumber daya manusia yang relijius, cerdas dan bijaksana. Tapi religiusitas tidak bersandar pada satu agama – meski ada agama mayoritas. Karena para pendiri bangsa telah memutuskan “Indonesia bukan negara agama”.

Demokrasi yang ada dalam Pancasila bukanlah demokrasi yang memberikan kebebasan untuk mengganti Pancasila. Demokrasi seperti itu merusak dan ancaman bagi Pancasila itu sendiri. Karenanya seharusnya para petinggi negara kini mewaspadai ancaman nyatanya, karena terhampar di depan mata.

KEMERDEKAAN bangsa ini diperjuangkan selama ratusan tahun dan ditebus oleh darah para pejuang yang akhirnya telah menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Maka jangan merusak dengan membiarkan perongrong Pancasila merajalela.

Negara dan pemerintah hendaknya jangan terlena dan terlalu percaya diri dengan ancaman yang dianggap ringan, sedangkan mereka merangsek ke seluruh lini, melalui pelajar, mahasiswa, ASN, aparat negara. Bahkan kaum pensiunan.

Belajarlah dari Taliban Afganistan yang mendadak mengetuk pintu rumah rumah klas menengah, dan meneror, serta mencengkeram kaum perempuan mereka, dan klas menengah terdidik yang selama ini nyaman dan terlena, kemudian terhenyak dan tak berdaya.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, hendaknya berlaku untuk semua warga – mayoritas dan minoritas, setara, dengan hak dan kewajiban yang sama. Dengan demikian maka akan tercipta sila ke tiga, Persatuan Indonesia.

Rakyat dipimpin oleh hasil musyawarah melalui wakil wakilnya di parlemen, kementrian dan istana negara, dengan hasil akhir keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, mewujudkan masyarakat adil dan makmur adalah impian yang harus diujudkan oleh para pejabat dan wakil rakyat kini dan seterusnya.

BUNG KARNO telah mengingatkan kita semua bahwa dalam perjalanannya Pancasila akan dihadapkan oleh bangsanya sendiri, “perjuanganku lebih mudah karena hanya mengusir penjajah, namun perjuanganmu lebih berat karena melawan bangsamu sendiri”.

Bangsa sendiri yang menjadi ancaman Ideologi Pancasila, sejak dulu dan kini adalah kelompok orang yang berwatak rakus dan serakah yang hidup memberhalakan cara demi jabatan dan materi, sebagaimana nampak pada para koruptor, pelaku kolusi, dan nepotisme, serta para pengusaha hitam yang kong kalikong dengan pejabat dan wakil rakyat di parlemen.

Kelompok kedua adalah masyarakat bodoh yang mudah terhasut dan terpropokasi, terbawa agitator dan komprador – kaki tangan penjajah asing dari kapitalis dan penjaja ideologis baru yang anti Pancasila dan anti keIndonesiaan.

Ancaman paling aktual adalah kelompok-kelompok orang yang berwatak pembenci, intoleran, radikal yang anti keberagaman. Mereka adalah yang terang terangan menjajakan ideologi anti Pancasila itu.

Panetrasi dan infiltirasi budaya asing yang menyelinap lewat ajaran agama semakin kuat menjadi ancaman lain lagi yang berdampak pada tercerabutnya akar budaya bangsa kita.
Selain menghancurkan pengasong khilafah dan ideologi yang sejalan dengannya, Pemerintah dan negara harus menetapkan kebijakan yang mengarustamakan pembangunan budaya bangsa jika ingin menyelamatkan Pancasila sebagai ideologi Negara.

Identitas dan martabat suatu negara ditentukan oleh budayanya. Bukan oleh penganut agamanya.

Salam Pancasila!

(Sumber: Supriyanto Martosuwito)




Berita Lainnya

Prestasi Ganjar dan Obrolan Makan Siang

11/08/2022 15:36 - Indah Pratiwi

Indonesia Menuju Generasi Emas

10/08/2022 17:25 - Indah Pratiwi

Meributkan Jilbab Perempuan

08/08/2022 21:35 - Indah Pratiwi

Seragam Sekolah

05/08/2022 18:22 - Indah Pratiwi

Pesawat Itu Bernama Indonesia

04/08/2022 17:30 - Indah Pratiwi

Urgensi Mencari Penerus Jokowi

02/08/2022 13:17 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA