Friday, 01 Jul 2022
Temukan Kami di :
Teknologi

Pengguna Twitter Dunia Khawatir Tidak Ada Kebebasan Pendapat Setelah Diambil Alih Elon Musk

Anas Baidowi - 12/05/2022 08:50

Beritacenter.COM - Elon Musk kembali jadi perbincangan karena masyarakat khawatir usai CEO Tesla tersebut mengakuisisi Twitter.

Dikutip VOA, orang terkaya dunia itu telah mencapai kesepakatan untuk membeli Twitter. Dia menegaskan kedepannya Twitter akan menyuarakan pendapat mereka kepada siapapun.

Namun, masyarakat khawatir hal itu justru akan dijadikan praktik penyalahgunaan informasi. Mahasiswi asal Wyoming mengau jika kekhawatirannya itu muncul terkait pelecehan di Twitter.

Ia mengatakan kalau keran kebebasan berpendapat di Twitter bisa menuju ke pembohongan publik hingga ujaran kebencian.

“Tidak ada lagi kepemilikan jamak, itu seolah memberinya kekuatan penuh atas Twitter, dan saya rasa kondisi Twitter akan semakin buruk apabila ia mencoba membuka keran kebebasan berpendapat, karena itu akan memberi ruang pada penyebaran berita bohong, ujaran kebencian dan sebagainya, bahkan mungkin lebih banyak pelecehan," katanya.

Sedangkan pasangan pensiunan asal negara bagian Seattle, Don dan Christie Riggs yang menyebut kalau isu penyalahgunaan informasi dan konflik kepentingan berpotensi merusak Twitter.

“Kami khawatir akan apa yang mungkin ia lakukan dalam kaitannya dengan isu misinformasi, (misalnya) menghapus filter penyaring misinformasi,” ucapnya.

“Kemampuannya untuk memiliki kendali yang begitu besar, untuk mengontrol konten demi kepentingan pribadi, alih-alih kepentingan bersama,” tambahnya.

Sementara, Twitter sendiri sempat dikenal sebagai corong mantan Presiden AS Donald Trump sebelum platform itu memblokirnya.

Serta Musk yang memproklamirkan diri sebagai pembela hak kebebasan berpendapat.

Dilanjut dengan warga Jerman bernama Jochen Ahlswede terang-terangan mengatakan kalau Musk bukan sosok yang tepat untuk mendefinisikan batasan-batasan platform sebesar Twitter.
“Insiden Presiden Trump, saya rasa, menunjukkan bahwa platform-platform ini punya pengaruh begitu besar terhadap diskursus publik, jadi saya rasa bukan ide yang baik apabila pengaruh ini ada di tangan satu orang saja dan saya pikir Musk juga seseorang yang bertindak menurut kepentingan finansialnya, bukan kepentingan masyarakat," tegasnya.

Untuk pernyataan yang dirilis Twitter sendiri mereka mengumumkan kebebasan berpendapat adalah landasan demokrasi yang sehat, dan Twitter adalah alun-alun digital di mana hal-hal yang penting bagi masa depan umat manusia diperdebatkan.

Terakhir, pensiunan asal Minnesota Laura mendukung soal rilis dari Twitter tersebut.

“Saya rasa suara (masyarakat) telah diredam dan kita perlu mendengar semua pendapat mereka," pungkasnya.

Sebagai informasi, Musk membeli Twitter seharga USD44 miliar (sekitar Rp636,5 triliun) pada akhir April lalu

Kini, perusahaan publik itu kini akan menjadi perusahaan swasta yang dimiliki oleh Musk dengan pembelian dengan harga USD54,20 per lembar saham.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA