Thursday, 11 Aug 2022
Temukan Kami di :
Bisnis

Konflik Rusia-Ukraina Bisa Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia Hingga US$ 120/Barel

Aisyah Isyana - 10/02/2022 09:30 ilustrasi

Beritacenter.COM - Perusahaan induk jasa keuangan dan bank investasi multinasional Amerika Serikat, JPMorgan, memproyeksi harga minyak dunia tembus US$ 120 per barel atau setara Rp1,7 juta/barel. Kian memasnya konflik dengan Ukraina turut berimbas pada ekspor minyak dan gas dari Rusia.

"Setiap gangguan aliran minyak dari Rusia dalam konteks kapasitas cadangan yang rendah di wilayah lain dapat dengan mudah mengirim harga minyak ke $120," Natasha Kaneva, kepala strategi komoditas global JPMorgan, dikutip dari CNN, Kamis (10/2/2022).

Saat ini, harga minyak terpantau masih di level US$ 91, dimana angka itu juga menjadi harga minyak tertiggi dalam 7 tahun terakhir. Ekspor migas Rusia turut mempengaruhi harga minyak dunia, lantaran posisi Rusia sebagai produsen minyak dan gas alam nomor dua dunia, setelah Amerika Serikat.

Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina belakangan ini turut menjadi penyebab harga minyak naik baru-baru ini. Hal ini turut mengakibatkan beberapa risiko lanjutan imbas konflik Rusia-Ukraina terhadap harga minyak dunia.

Risiko pertama imbas konflik Rusia-Ukriana berpotensi merusak infrastruktur migas di Rusia. Dimana kekuatan Barat dapat berupaya untuk menghukum Rusia dengan menjatuhkan sanksi yang dapat melumpuhkan ekspor migas di negara itu.

Ada pula resiko jika Presiden Rusia Vladimir Putin akan membalas ancaman sanksi itu dengan memanfaatkan ekspor migas dan gas alam. Terlebih, harga gas alam yang lebih tinggi di Eropa tentunya akan mendorong permintaan minyak, lantaran pabrik dan pembangkit listri beralih ke minyak.

Adanya hal itu dapat membuat harga minyak terancam menembus angka tertingginya. Sejauh ini, ketegangan antara Rusia dan Ukraina telah mengakibatkan kenaikan harga minya dalam beberapa pekan terakhir.

Jika harga minya Rusia dipotong setengahnya, JPMorgan menyebut harga minyak Brent kemungkinan akan melesat hingga US$ 150/barel. Harga itu mengalahkan angka tertinggi pada Juli 2008 ketika Brent melonjak ke rekor US$ 147,50/barel.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA