Wednesday, 18 May 2022
Temukan Kami di :
Opini

CEGAH KALIMANTAN NGAMUK, EDY MULYADI HARUS DITANGKAP

Indah Pratiwi - 28/01/2022 00:30 Dibuat Oleh: Guntur Romli

Kali ini saya ingin membahas hingar-bingar sosok yang disebut-sebut penyebar hoax dan fitnah, pelontar hinaan dan kebencian: Edy Mulyadi.

Edy Mulyadi dikenal sebagai mantan Caleg PKS dan Sekjen GNPF (Gerakan Nasional Pembela Fatwa) serta aktivis 212.

Dari gerombolan-gerombolan di mana Edy Mulyadi berafiliasi, kita langsung mengetahui posisi Edy Mulyadi ini.

Saat ini gelombang kemarahan publik pada Edy Mulyadi bak air bah yang tak bisa dibendung. Khususnya dari publik masyarakat Kalimantan.

Tokoh-tokoh lintas agama, tokoh-tokoh adat, tokoh dan Ormas Dayak, tokoh-tokoh pemuda menggelar aksi hingga melaporkan Edy Mulyadi ke polisi tuntutannya cuma satu: Tangkap dan adili Edy Mulyadi!.

Misalnya Forum Dayak Bersatu (FDB) menuntut polisi segera menangkap Edy Mulyadi melalui Ketuanya Decky Samuel.

Juga Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayat Nasional (MADN) Yakobus Kumis mengutuk keras atas sikap dan perkataan Edy Mulyadi.

Demikian pula Forum Pemuda Lintas Agama Kalimantan Timur yang mengadukan Edy Mulyadi ke Polres Samarinda.

 

 

Unsur pemuda lintas agama itu dari GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, GMKI, Pemuda Katolik, Pemuda Hindu, Pemuda Konghucu di Kalimantan Timur.

Kesultanaan Kutai Ing Martadipura, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, juga mengecam pernyataan mantan Caleg PKS, Edy Mulyadi itu.

Sekretaris Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Awang Yacob Luthman menyatakan Edy Mulyadi menyakiti hati masyarakat Kalimantan.

Edy Mulyadi dianggap menghina rakyat Kalimantan. Melalui tayangan di kanal Youtubenya, Edy Mulyadi disebut-sebut melecehkan orang Kalimantan.

Edy Mulyadi menolak keras ibu kota negara baru di Kalimantan. Namun bukan itu masalahnya.

Di negeri yang demokratis dan bebas seperti Indonesia ini, siapapun boleh mengutarakan pendapatnya. Kritik keras juga boleh, tentu saja dengan argumentasi.

Tapi yang dilakukan oleh Edy Mulyadi bukan kritik, tapi bisa dianggap melontarkan hinaan, pelecehan dan hoax.

Pernyataan Edy Mulyadi soal ‘tempat jin buang anak, ‘genderuwo’, kuntilanak’ hingga kata ‘monyet’ yang terdengar dalam video yang beredar dianggap menyasar rakyat Kalimantan.

“Hanya monyet” diucapkan oleh Azam Khan salah seorang pengacara Rizieq yang duduk di samping Edy Mulyadi.

Saya tak habis pikir, apa yang ada di benak Edy Mulyadi dan Azam Khan yang tega menyebut “jin buang anak” “genderuwo, kuntilanak, dan monyet” yang jelas-jelas ditujukan pada kawasan ibu kota negara baru yang terletak di Kalimantan.

Padahal Kalimatan dihuni manusia-manusia mulia, bahkan awal peradaban Nusantara juga salah satunya berasal dari Kalimantan.

Bukan jin, genderuwo, kuntilanak apalagi monyet yang membangun peradaban di Kalimantan.

Tapi manusia-manusia tangguh dan kreatif yang diberkati keindahan alam sehingga terpilih menjadi ibu kota negara baru untuk Indonesia: Nusantara!

Masyarakat Kalimantan layak berbangga. Namun Si Edy Mulyadi yang penuh dengan iri dengki, berusaha merendahkan kebanggaan rakyat Kalimantan dengan melontarkan cacian dan kebencian.

Sebenarnya, tak hanya rakyat Kalimantan yang kena sasaran hinaan Edy Mulyadi, juga Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang dia hina sebagai “macan yang jadi kayak mengeong” dan kasus ini sudah dilaporkan oleh DPD Gerindra Sulawesi Utara ke Polda Sulut.

Bukan hanya kali ini saja Edy Mulyadi bikin gaduh. Dalam kasus KM 50, Edy Mulyadi membuat informasi hoax terkait peristiwa tembak menembak antara polisi dan Laskar FPI yang akhirnya menewaskan 6 Laskar FPI.

Edy Mulyadi mengutip keterangan saksi yang tidak dia sebut identitasnya yang katanya melihat langsung peristiwa itu.

Katanya polisi menembak dengan laras panjang bukan dengan pistol. Katanya juga tidak ada tembakan balasan dari laskar FPI.

Namun belakangan informasi yang disampaikan Edy Mulyadi itu hoax karena laskar FPI yang lebih dulu menembak ke arah petugas.

Dan juga ada saksi yang mengaku telah dibayar oleh Edy Mulyadi Rp150.000 untuk mengatakan yang tidak sebenarnya.

Saat Edy Mulyadi dipanggil Mabes Polri untuk mempertanggungjawabkan video itu, lagi-lagi Edy ngeles dengan dalih tidak menyaksikan peristiwa itu dan berlindung di balik UU Pers karena mengaku-ngaku sebagai wartawan.

Padahal media yang disebut-sebut oleh Edy Mulyadi waktu itu tidak terdaftar di Dewan Pers dan nama Edy Mulyadi juga tidak ada di data online Dewan Pers.

Penyebaran hoax kasus KM 50, Edy Mulyadi mungkin bisa berkelit, tapi untuk kasus penghinaan terhadap orang Kalimantan, Edy Mulyadi sudah terjepit. Edy Mulyadi tak bisa lagi diampuni.

Sebagai penutup saya ingin mengutip pernyataan Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayat Nasional (MADN) Yakobus Kumis:

“Kami masyarakat dayak bukan jin, bukan monyet. Tapi kami juga manusia Indonesia, sama dengan penduduk Jakarta, Jawa dan etnis serta suku yang ada di negeri ini. Perkataan Edy Mulyadi berbahaya, bisa memecah belah anak bangsa yang rukun damai”

Hormat saya setinggi-tingginya kepada masyarakat Kalimantan yang sedang membela kehormatannya.

لا يمكن إن يعيش الإنسان بدون كرامة لأن الإنسان بدون
كرامة مثل الرئة بدون هواء.

“Tidak mungkin manusia hidup tanpa kehormatan, karena manusia tanpa kehormatan seperti paru-paru tanpa udara.”

Untuk mencegah saudara-saudara kita di Kalimantan mengamuk, hanya ada satu kata buat polisi: tangkap Edy Mulyadi!




Berita Lainnya

Kenapa Setan Tidak Suka Jokowi?

13/05/2022 19:30 - Indah Pratiwi

Menjaga NKRI

12/05/2022 14:05 - Indah Pratiwi

Indonesia Jangan Sampai Hilang Jati Diri Bangsa

12/05/2022 13:06 - Indah Pratiwi

Hakikat Kebaikan

11/05/2022 20:05 - Indah Pratiwi

Say No To Khilafah

11/05/2022 15:35 - Indah Pratiwi

Wabah Doktrin Eks HTI

11/05/2022 13:05 - Indah Pratiwi

Politisasi Agama

10/05/2022 13:05 - Indah Pratiwi

Masih Saja Antara Cebong Kampret

09/05/2022 13:07 - Indah Pratiwi

Antara Jilbab Hati dan Jilbab Fisik

07/05/2022 07:15 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA