Wednesday, 18 May 2022
Temukan Kami di :
Hasanah

Ibadahnya Hamba Bersyukur

Rahman Hasibuan - 22/01/2022 00:32

Allah ialah Zat Yang Maha Menciptakan; semua yang ada di alam semesta ini, mulai benda sekecil atom hingga sebesar galaksi antariksa merupakan hasil ciptaan-Nya. Kita sebagai makhluk-Nya juga merupakan ciptaan Allah.

Sekali-kali, Allah tidaklah menciptakan manusia dengan percuma, bersenda gurau dan tanpa tujuan. Karena itu, di balik penciptaan kita di muka bumi ini pastilah terdapat maksud dan tujuan.

Allah SWT berfirman, “Maka, apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS al-Mu’minun [23]: 115).

Alangkah indah dan nikmatnya seorang hamba yang hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ia akan mendapatkan kenikmatan dunia, ketenteraman hati, dan keselamatan di akhirat.

Lantas, apa tujuan hidup dalam penciptaan manusia? Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adh-Dhariyat [51]: 56).

Melalui ayat ini, sejak awal Allah telah menghendaki agar kita sebagai makhluk-Nya untuk senantiasa beribadah di muka bumi ini. Sehingga, risalah-risalah yang Dia turunkan kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril dalam rangka menuntun kita beribadah kepada-Nya.

Dengan beribadah, sesungguhnya kita telah menapaki jalan yang lapang, penuh dengan kebaikan, berkah, dan jalan menuju keselamatan di dunia dan akhirat. Hati yang terikat dengan iman, terpaut dengan keagungan, dan tersentuh dengan hidayah dari Allah, akan senantiasa terpanggil untuk beribadah kepada-Nya.

Ada sebuah kisah teladan datang dari Rasulullah SAW. Aisyah RA menuturkan bahwa Nabi senantiasa bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud hingga kedua kaki beliau bengkak.

Kemudian Aisyah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat seperti itu? Bukankah Allah SWT telah mengampuni seluruh dosamu, baik dosa masa lalu maupun dosa di masa mendatang?”

Beliau menjawab, “Apakah tidak sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim).

Alangkah mulianya Rasulullah SAW. Beliau meski telah dijamin masuk surga dan diampuni seluruh dosanya karena beliau ialah manusia maksum yang terjamin keselamatannya, tetapi hal itu tidak membuat beliau malas beribadah kepada Allah.

Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk meneladan semangat dan tata cara ibadah Rasulullah SAW. Karena ittiba’ atau meneladan Rasulullah merupakan bentuk kecintaan kita kepada beliau, dan dengan mencintai beliau; kita juga berarti mencintai Allah.

Dengan meneladan Nabi Muhammad SAW, maka kita telah mengamalkan bentuk berakhlak kepada beliau, sekaligus juga menjadi bentuk keimanan kita kepada kenabian beliau.

Banyak hal-hal yang dapat kita contoh dari sosok Muhammad SAW, mulai dari akhlaknya, budi pekerti, tingkah laku, dan yang terpenting adalah ibadah beliau.

Allah SWT berfirman, “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalannya.” (QS al-An’am [6]: 153).

Wallahu a’lam bissawwab.




Berita Lainnya

Makna Sejati Tawakal kepada Allah SWT

18/05/2022 11:23 - Rahman Hasibuan

Harus Tahu ! Ini Keutamaan Menahan Amarah

17/05/2022 13:30 - Baharuddin Kamal

Apakah Boleh Puasa Syawal pada Hari Jumat?

13/05/2022 23:39 - Rahman Hasibuan

Harus Tahu ! Ini Aturan Shaf untuk Sholat Jenazah

10/05/2022 14:30 - Baharuddin Kamal
Kemukakan Pendapat


BOLA