Sunday, 17 Oct 2021
Temukan Kami di :
Kesehatan

Epidemiolog soal Obat Molnupiravir : Fokus Pengendalian, Tekan Kasus Bukan Mengobati!

Aisyah Isyana - 14/10/2021 22:32

Beritacenter.COM - Obat COVID-19 besutan Merck and Co, yakni Molnupiravir, disebut mampu mencegah risiko dirawat di rumah sakit hingga meninggal akibat virus Corona. Obat ini bahkan juga diliril beberapa negara seperti Malaysia, , Singapura, Australia, Korea Selatan, Taiwan, dan Indonesia.

Meski begitu, ahli epidemiologi Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), menyarankan Kementerian Kesehatan RI untuk menahan negosiasi dengan perusahaan besar farmasi. Menurutnya, pemerintah masih harus tetap berfokus pada pengendalian pandemi COVID-19.

Baca juga :

"Waspada @KemenkesRI, jangan bernegosiasi dengan perusahaan besar farmasi. Pemerintah tetap fokus pada upaya pengendalian pandemi dengan meningkatkan vaksinasi," kata Pandu dalam cuitan Twitter pribadinya @drpriono1, Kamis (14/10/2021).

"Menekan kasus, bukan mengobati kasus. Mahal & sering gagal. Tak perlu melakukan uji klinik di Indonesia, jeratan pembelian," lanjutnya.

Pandu juga menjelaskan konsep kerja dari obat Molnupiravir yang disebut diduga membuat kondisi virus error catastrophic. Dia menyebut, Molnupiravir dapat bekerja secara efektif hanya pada fase replikasi, yakni lema hari pertama setelah seseorang terinfeksi COVID-19.

"Molekul Molnupiravir diduga bikin virus keblinger (viral error catastrophic), pada fase replikasi yaitu 5 hari pertama sejak terinfeksi," ujar Pandu.

"Obat tersebut sudah dipromosikan potensial buyer (negara) dengan perjanjian awal. Padahal, obat belum mendapat persetujuan FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS). Waspada Rawan Skandal," tegasnya.

Untuk diketahui, Menteri Kesehatan Budi Sadikin sebelumnya menyebut pihaknya telah mulai melakukan berbagai review uji klinis pada obat-obatan baru untuk virus Corona. Obat-obatan yang ditinjau itu terdiri dari obat yang bersifat monoklonal antibodi hingga obat antivirus seperti besutan Merck and Co, yakni Molnupiravir.

"Jadi obat-obatan tersebut sudah kita approach pabrikannya dan kita juga sudah merencanakan untuk beberapa sudah mulai uji klinis," kata Menkes dalam siaran pers PPKM, Senin (4/10/2021).

"Dan diharapkan di akhir tahun ini, kita sudah bisa mengetahui obat-obat mana yang kira-kira cocok untuk kondisi masyarakat kita," pungkasnya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA