Sunday, 17 Oct 2021
Temukan Kami di :
Politik

BANTENG PADU CELENG

Indah Pratiwi - 14/10/2021 21:30 Ditulis Oleh : Iyyas Subiakto

FOKUS : PDIP

Dalam kazanah binatang ada yg namanya Babi Rusa, tapi gak ada Babi Banteng.Dalam merk dagang banyak binatang dipakai sebagai brand, Buaya, Kerbau, Ayam, dst.

Dalam lambang negara Indonesia memakai lambang Garuda. Dalam lambang partai, Gerindra memakai gambar kepala Garuda, PDIP pakai logo kepala Banteng.

Dan hebatnya logo kepala Banteng dan kepala Garuda ini pula yg menjadi partai pemenang pemilu yll. Sementara yg berlogo, lain pada mapan dibawahnya.

Logo adalah simbol dan identitas utk membentuk awareness, disana ada intengible value yg nilainya bisa diukur atas dasar kesetiaan konsumennya.

Kalau brand commercial ada nilai yg bisa di hitung, seperti Coca-Cola nilainya 18.000 T, Indomie 800 T, dst. Kalau partai mungkin dgn perolehan suara.

PDIP pada pemilu 2019 meraup 27,3 juta suara atau 19,3% dan Gerindra meraup 18 juta suara atau 12,7%. Logo kepala banteng dan Garuda ini lebih kuat dari logo PKB yg memakai lambang NU atau logo PAN yg memakai lambang MU.

Andai saja logo ormas agama diatas lebih kuat tertancap dibenak masyarakat harusnya PKB lah pemenang pemilu sepanjang masa, karena anggota NU tercatat +/- 60 juta, belum lagi yg berafiliasi. Tapi kenapa logo kepala binatang yg menang jauh dari perolehan PKB yg hanya meraih 13,7 juta suara atau 9,4%.

Dalam kaidah per merkan logo harus diberi nutrisi, tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Dalam partai mungkin sosok yg hadir yg menguatkan, dan tematik kampanye yg menentukan.

PDIP harus mengakui bahwa kehadiran Jokowi mengkontribusi perolehan suara karena image yg ditimbulkan oleh sosok ini luar biasa, sementara Megawati hanya menjadi lambang pemilik saja sebagai partai dinasti. Kalau di internal PDIP pastilah Mega sangat dihargai, tapi bagi pasar, tidak sama melihatnya, masyarakat melihat benefitnya.

Perseteruan Banteng vs Celeng di Jateng sangat tidak menguntungkan PDIP kalau dibiarkan berkembang, bisa-bisa ada partai Celeng Perjuangan beneran. Percekcokan murahan ini kan karena dipicu antara kepentingan Puan yg akan di jagokan, dan Ganjar yg leading duluan.

Kenapa image Puan tidak kuat, dan Ganjar lebih kuat. Survey walau tidak selalu benar adalah ukuran sementara yg ada. Masalahnya Puan anak Mega, Ganjar hanya anggota partai yg setiap saat bisa digergaji. Tapi apa PDIP berani mati.

Andai PDIP memakai ukuran kepentingan partai dan negara, harusnya tidak ada anak Mega, dan anggota "penjilat" luar biasa, yg justru bisa merusak suara. PDIP harus rasional, bukan hanya masalah Ganjar tapi untuk kepentingan partai dan negara kedepan.

Maka siapa saja yg keluar sebagai sosok baik Dimata masyarakat, dia harus di ikat kuat, bukan malah dibilang pengkhianat.

Pertikaian kekanak²an ini harus dihentikan, dan hal itu hanya bisa diselesaikan dari tangan bijak Megawati. Tapi karena ini urusan politik bisa saja urusan Banteng dan Celeng hanya test market untuk menguji siapa yg kuat.

Kalau kuat²an ke dalam Ganjar pasti kalah dgn Puan, tapi kalau kuat²an di pasar Puan bisa jadi bulan²an.

Mari kita tunggu apa Banteng jadi Celeng, atau Celeng nyeruduk Banteng. Kalau PDIP meleng, partai ini bisa jadi kaleng-kaleng. Sementara Ganjar bisa tambah mentereng.

Sudah banyak contoh, jangan menzholimi kalau tak mau di hakimi.

Semoga PDIP tidak super pede, karena bisa memble.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA