Monday, 27 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

Saya Mendukung Jokowi Karena Cinta Indonesia

Indah Pratiwi - 15/09/2021 16:00 Ditulis Oleh : Erizeli Jely Bandaro

FOKUS : Jokowi

Perpres Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antara Jakarta dan Bandung, dalam Pasal 4 Ayat (2) bahwa proyek tidak dibiayai atau dijamin oleh APBN. Berdasarkan Perpres itu saya dukung proyek ini. Saya berdebat hampir 1 bulan dengan pihak oposisi atas proyek ini. Ada beberapa tulisan saya mendukung proyek ini. Mengapa?


Pertama, proyek ini sangat diperlukan untuk mobilitas orang Jakarta dan Jawa Barat. Efisiensi transportasi jakarta dan jawa barat sangat berpengaruh secara nasional, karena 60% uang beredar di jawa barat dan jakarta. Kedua, namun kalau pembiayaannya melalui APBN atau dijamin oleh APBN jelas akan menyinggung rasa keadilan bagi daerah lain. Indonesia bukan hanya jakarta dan Jawa Barat. Apalagi biaya diatas Rp. 100 triliun. Nah Perpres itu adalah jalan keluar agar masalah pertama dan kedua tidak saling bertentangan.


Namun dalam pelaksanaannya, Perpres itu kini sedang berusaha untuk direvisi. Alasannya, konsorsium BUMN dalam proyek itu tidak mampu setor modal. Cari pinjaman dalam negeri engga ada bank yang mau beri kreidit. Menteri keuangan tidak mau memberi modal. Sampai dengan sekarang konsorsium BUMN belum setor modal awal sebesar Rp. 4,3 triliun. Sehingga secara hukum sesuai akad, per 30 Desember 2020 pihak konsorsium BUMN sudah terkena event of default. Sudah diajukan penundaan setoran modal dasar ini. Namun belum ada jawaban dari pihak China apakah itu disetujui penundaan setorannya.


Kini proyek sudah rampung 79% namun terhenti karena alasan modal dan biaya yang diharapkan dapat pinjaman dari China Development Bank. Namun untuk itu perlu ada jaminan dari negara, dengan cara Perpres Nomor 107 Tahun 2015 direvisi. Mengapa ada perlu revisi? karena sesuai Perpres kalau ada penyerataan modal negara dalam bentuk tunai atau jaminan, diharuskan ada investigasi dan audit. Keliatannya ada pihak yang keberatan diadakannya audit dan investigasi atas proyek ini.


Kalau sampai presiden setuju untuk revisi maka nasip kereta cepat ini akan sama dengan proyek PLN dan lainnya yang berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) April 2019, utang BUMN kepada China sebesar 225,6 Triliun rupiah. Jadi awalnya BtoB tetapi dalam pelaksanaannya digiring ke G2G. Selalu caranya smart. Yaitu mengancam proyek akan mangkrak. Dan Jokowi sangat anti proyek mangkrak. Karena itu akhirnya Jokowi setuju. Tapi karena itu segelintir orang kaya raya karena rente dan korup.


Saya tidak berpolitik namun sebagai rakyat saya tidak ingin dibodohi oleh politik. Dukungan saya kepada Jokowi atas dasar rasionalitas. Bukan emosional. Mengapa? dia bekerja atas dasar rasional. Ruang fiskal APBN itu kecil sekali. Engga mungkin bisa optimal dipakai untuk membangun. Kalau dipaksakan, maka fundamental APBN akan rapuh. Ini akan berdampak kepada hutang yang tak bermanfaat. Makanya dia gunakan skema B2B lewat BUMN. Tapi rasionallitas dan niat baik Jokowi itu disalah gunakan oleh pembantunya.


Pada akhirnya yang dirugikan adalah rakyat yang memilih Jokowi. Dan tidak ada satupun yang dianggap katanya setia berusaha melindunginya dari jebakan rente itu. Emosi pendukung lebih kepada politik melawan kadrun sementara lingkaran kekuasaan pesta. Musuh terbesar Jokowi bukan orang luar tapi orang terdekat dia sendiri . Masih ada kesempatan 3 tahun untuk membalik situasi. Please konsistenlah dengan aturan yang dibuat presiden. Karena ia dipilih karena cinta, bukan politik.




Berita Lainnya

Pendukung Anies Kompak Sakit Gigi

25/09/2021 14:25 - Indah Pratiwi

Mas Menteri Nadiem, Bergerak

25/09/2021 13:17 - Indah Pratiwi

Pedagang Politik

25/09/2021 12:11 - Indah Pratiwi

HARU BERSAMA SEMESTA

24/09/2021 14:29 - Indah Pratiwi

Suroto Menampar Muka DPR, Oposisi dan Mahasiswa

24/09/2021 13:22 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA