Monday, 20 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

Di Tangan Hakim Bahlul, Koruptor Juliari Batubara Menang Banyak

Indah Pratiwi - 14/09/2021 15:21 (Penulis: Ninoy Karundeng)

Ampun deh! Kalau kasus di tangan hakim bahlul, otak sengkleh, dan politik-hukum menjadi alat melanggengkan korupsi, maka yang terjadi adalah kemenangan bagi para mafia dan koruptor. Juliari Batubara tengah berpesta-pora. Menang banyak, kata orang Betawi. Dia lolos dari ancaman hukuman mati bualan Firli Bahuri, dan lolos dari bui 20 tahun.


Banyak pihak terkecoh dengan nilai korupsi yang diterima Juliari Batubara. Bukan sekitaran Rp34 miliar. Bukan. Nilainya sejatinya angkat triliun. Itulah sebabnya dia senang dan bahagia hari ini. Cuma 12 tahun penjara. Ganti rugi duit setengah Rp14,59 M doang. Denda setengah miliar. Masih untung banyak: Rp 19 M cukup buat sogok sana sogok sini.


Kegilaan dan kebahlulan Hakim Tipikor adalah Juliari Batubara divonis ringan karena dia dicaci, dimaki, dibuli, dihina, dikecam masyarakat. Pertimbangan paling konyol hakim yang keblinger. Padahal kejahatan yang dilakukan oleh geng dan mafia Juliari Batubara bukan sembarangan.


Juliari Batubara merampok hak-hak orang miskin. Sangat tidak berperikemanusiaan. Duit yang dicolong digunakan untuk pesta-pora menyewa pesawat, dan mengumbar kemewahan di atas tangis kesulitan hidup orang miskin.


Terlebih lagi kelakuan Juliari Batubara jelas mengencingi Presiden Jokowi. Melecehkan ancaman Ketua KPK Firli Bahuri. Meremehkan KPK karena sudah ada koordinasi kejahatan antar lembaga. Lah Tim BPK sebagai pengawas ikut korup. Edan. Lembaga lain sama.


Maka sejatinya kalau waras, Hakim Tipikor menggunakan cacian masyarakat sebagai bentuk yang memberatkan. Karena sense of crisis terbangun. Rakyat marah. Rakyat gundah melihat kelakuan koruptor yang tidak punya hati. Tidak punya otak. Di tengah pandemi Covid-19, Juliari Batubara malah melakukan korupsi untuk memerkaya diri. Bukan malah kasihan sama koruptor. Ini pikiran hakim sengkleh otaknya.


Otak sengkleh dan out of sense of crises yang dialami oleh Hakim Tipikor kasus Juliari Batubara adalah gambaran gelap hukum di Indonesia. Rakyat dan Presiden Jokowi serta KPK harus melihat kasus ini sebagai tindakan konyol, korup, tidak masuk akal, dan nekat. Ya hakim nekat memraktikkan perilaku mendukung koruptor.




Berita Lainnya

'Mural dan Poster' vs Polri

20/09/2021 00:38 - Anas Baidowi

Satgas BLBI mau Kemana

18/09/2021 12:45 - Indah Pratiwi

Kesederhanaan Gibran

18/09/2021 11:35 - Indah Pratiwi

Anies Merajut Jubah Kekuasaan

17/09/2021 18:00 - Indah Pratiwi

Novel Dicuekin Jokowi, Jangan Apa-Apa Presiden

17/09/2021 17:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA