Monday, 20 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

NGERI MASA PANDEMI JOKOWI DIKEPUNG MUSUH DALAM SELIMUT

Indah Pratiwi - 30/07/2021 16:11 Oleh: Anto Cahaya

Sebetulnya situasi saat ini yang menimpa negeri kita terkait pandemi, juga dialami oleh semua negara. Tapi sayang, harus kita akui sebagian besar masyarakat tenggelam oleh berita atau informasi yang marak seolah negeri kita sendiri yang sedang dan masih alami kondisi yang menguras energi ini.

Perlu diketahui tidak mudah bagi para kepala negara saat ini dalam menghadapi musuh yang tidak tampak dan mematikan. Para kepala negara tersebut tidak hanya dipusingkan oleh impact akibat pandemi yang melumpuhkam sektor ekonomi baik secara makro maupun mikro dan yang tak kalah pusingnya juga ada ancaman dari para oposisi yang memanfaatkan pandemi untuk meraih kursi dengan memanfaatkan kekuatan rakyatnya

Tak sedikit media memberitakan kondisi masing-masing negara atas serangan wabah ini. Cukup melalui sentuhan ujung jari kita sudah dapat melihat fakta di belahan dunia yang lainnnya.

Contoh yang baru-baru ini viral sebuah video yang diduga dari negeri Jiran Malaysia menampilkan pemandangan yang memilukan. Tidak diketahui video tersebut diambil kapan tapi yang jelas ada tayangan korban covid di sebuah rumah sakit. Mereka para korban tidak tertampung di bangsal tapi terpaksa menggunakan ruang tunggu dan koridor rumah sakit untuk merawat korban. Dan suara perempuan dalam video mengungkapkan rasa kekecewaan yang mendalam dengan menyindir para politikus di negaranya yang justru sibuk dan ribut saling menyalahkan.

Kemudian ada pula berita yang menjelaskan kondisi negara Brasil. Krisis kesehatan selama pandemi Covid-19 semakin mengguncang kepemimpinan Presiden Brasil Jair Bolsonaro. Sejak akhir Mei silam, politikus populis kanan ini jadi sasaran amarah rakyat. Pada awal Juli, demonstran bahkan mendesak agar ia segera mengundurkan diri, seiring munculnya kabar tentang dugaan korupsi pengadaan vaksin di tubuh pemerintahan.

Sampai menjelang akhir Juli, negara dengan populasi 213 juta jiwa ini mencatat lebih dari 545 ribu kematian akibat Covid-19—terbanyak kedua setelah Amerika Serikat. Karier Presiden Brasil di ujung tanduk sebab gagal atasi pagebluk.

Dapat kiranya kita sedikit membuka mata kita bahwa wabah pandemi ini benar-benar membuat frustasi manusia di manapun berada. Dan masih banyak contohnya di belahan negara yang lainnya.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Penyakit negara berkembang dengan jumlah penduduk yang tergolong besar nyaris serupa. Indonesia pun terlihat sedang ada upaya-upaya yang mengarah ke pemakzulan presiden Jokowi.

Presiden Jokowi dimakzulkan? Barangkali sebagian dari Anda berpikir masih terbilang premature jika sampai dimakzulkan tapi kiranya jangan disepelekan.

Ada beberapa fakta yang harus kita lihat secara cermat. Pernyataan-pernyataan kelompok oposisi yang cenderung minor akhir-akhir ini. Mereka sudah pasti memanfaatkan situasi, menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah

Disituasi seperti ini 'virus pesimis' adalah cara paling related untuk saat ini. Maka kalau kita perhatikan pernyataan-pernyataan oposisi mengandung kalimat melemahkan mental masyarakat. Ini seharusnya benar-benar dicatat dan diperhatikan oleh pihak Istana.

Dan jika kita perhatikan cara mereka cukup berhasil. Terbukti hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, tingkat kepercayaan publik kepada Presiden Joko Widodo dalam menangani pandemi Covid-19 mencapai titik terendah selama empat bulan terakhir.

Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan memaparkan, dari Februari hingga Juni 2021, tingkat kepercayaan publik kepada Jokowi dalam menangani pandemi Covid-19 menurun 13,5 persen.

"Tingkat kepercayaan pada Presiden untuk menangani wabah selama empat bulan terakhir turun dari 56,5 persen menjadi 43 persen," kata Djayadi dalam rilis survei secara virtual oleh LSI.

Dan terungkap tingkat kepercayaan ini merupakan angka terendah yang ditunjukan publik kepada Jokowi selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Dapat kita perhatikan dari fakta di atas sumbangsih pernyataan 'mereka' para oposan cukup memberi pengaruh dan tren ini bagi para oposan adalah kabar baik. Dan selanjutnya mereka akan terus menghajar dengan narasi-narasi yang jauh dari nurani menari di atas pandemi yang sedang kitari ibu pertiwi.

Selanjutnya mulai terlihat adanya demo-demo kecil diberbagai kota belakangan ini patut diwaspadai juga. Ini juga indikator bahwa ada kekuatan yang sedang bermain dan memainkan situasi. Demo tolak PPKM darurat adalah cara test dipermukaan untuk mengetahui sejauh mana gelombangnya melampaui bibir pantai yang kemudian dapat merusak dan menghancurkan bangunan disekitarnya.

Jika dilihat dari sejumlah temuan oleh pihak kepolisian di lapangan, peserta demo rata-rata diikuti oleh anak-anak remaja. Tentu ini sangat disayangkan mereka anak-anak tersebut sebenarnya bukanlah pihak yang langsung terdampak pandemi.

Pertanyaan besar kita siapa yang menggerakkan mereka? Sebuah pertanyaan yang sederhana dibanyak benak kita semua. Pasalnya anak-anak itu tidak mungkin bergerak sendiri atau memiliki inisiatif sendiri. Sudah pasti ada pihak-pihak yang mengkoordinasi mereka.

Ini tugas tentu menjadi aparat kepolisian untuk mengungkap. Jangan sampai efeknya merembet ke lain tempat. Dan kemudian terjadi gelombang demo yang lebih besar. Negara akan jauh lebih berat lagi, akibatnya upaya meredam penyebaran covid-19 bisa gagal. Terlalu mahal harga yang harus dibayar. Maka dari itu kuncinya soal ini di tangan kepolisian untuk lebih kerja keras dan menindak lebih tegas.

Agenda besar oposisi disituasi saat ini bagi mereka adalah waktu yang sangat tepat sebagai upaya untuk merebut kekuasaan dari tangan Jokowi. Para oposan ini sadar bahwa kekuatan mereka jika secara fairplay bertarung di pemilihan umum tahun 2024 sangat kecil untuk menang. Mereka menggunakan pagebluk yang membuat hati rakyat sedang panas sebagai jalan pintas.

Selain politikus, pengamat dan para simpatisan yang di luar pemerintah ada pula yang datang justru secara sistem mereka adalah orang-orang yang di bawah presiden Jokowi, mereka bagian dari pemerintah itu sendiri.

Saya menyebut mereka musuh dalam selimut. Mungkin terdengar absurd tapi coba kita perhatikan dengan seksama. Begitu banyak program-program yang epic dari pemerintah pusat untuk rakyat. Akan tetapi sayang eksekusinya sangat buruk sekali saat sudah sampai di pemprov apalagi di pemda.

Sebagai contoh beberapa waktu yang lalu presiden Jokowi terlihat geram ternyata diketemukan beberapa pemprov yang belum juga mencairkan bantuan sosial yang masih ditahan hingga puluhan triliun.

Tercatat seperti yang disampaikan oleh Mendagri Tito Karnavian ada 19 pemerintah provinsi belum memaksimalkan dan menahan bansos juga intensif bagi nakes Ini tentu menampar kita semua. Bagaimana mungkin gubernur atau kepala daerah tersebut tidak peka atas kondisi? Atau memang sengaja? Padahal masyarakat menunggu penuh harap.

Para kepala daerah setingkat provinsi dan tingkat kabupaten seharusnya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab penuh kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing.

Semestinya malu saat maju sebagai kandidat kepala daerah 'mereka' dengan mudahnya mengucap janji-janji kampanye. Tapi ketika kondisi masyarakat sedang terpuruk dan tinggal meneruskan kebijakan pemerintah pusat saja terlihat berkhianat. Seolah tidak rela jika pemerintah pusat yang dapat nama atas manfaat. Sungguh kumpulan para kepala daerah yang memiliki jiwa tipu muslihat.
Demikian, salam




Berita Lainnya

'Mural dan Poster' vs Polri

20/09/2021 00:38 - Anas Baidowi

Satgas BLBI mau Kemana

18/09/2021 12:45 - Indah Pratiwi

Kesederhanaan Gibran

18/09/2021 11:35 - Indah Pratiwi

Anies Merajut Jubah Kekuasaan

17/09/2021 18:00 - Indah Pratiwi

Novel Dicuekin Jokowi, Jangan Apa-Apa Presiden

17/09/2021 17:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA