Monday, 20 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

Kita belum mandiri sebagai bangsa

Indah Pratiwi - 26/07/2021 12:30 Ditulis Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Pada tanggal 25 Maret 2020 Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengecam. “kampanye disinformasi yang disengaja yang telah dan terus dilakukan China”. katanya setelah pertemuan virtual G7. Apa pasal? China tidak pernah secara jujur membuka informasi tentang kasus COVID-19. Angka positif, sembuh dan kematian sengaja dikaburkan. Padalah masalah pandemi ini sudah menjadi masalah dunia. Dan WHO sebagai leader dalam hal Pandemi harus dipatuhi oleh China. Tetapi China selalu menepis tuduhan itu. Selalu mengatakan mereka sudah transfarance soal laporan casus COVID-19.

Di China memang bukan hanya data kasus COVID-19, data kependudukan, cadangan devisa, jumlah hutang negara, tidak menjadi konsumsi publik. Itu termasuk rahasia negara. Yang tahu pasti hanya pemerintah dan Tuhan. Kalaupun ada data publikasi itu bukan data asli. Orang mau marah atau apalah. Pemerintah China engga peduli. Negara lain bisa saja protes, tetapi dalam sistem komunis itu biasa saja. Tentu berbeda sistem demokrasi dalam hal keterbukaan.

Dalam hal data COVID-19, China sadar bahwa dampak politik dari data kasus COVID-19 itu kalau dibuka dan diberitakan secara bebas akan menimbulkan rumor politik di tengah masyarakat dan ini bisa dimanfaatkan asing untuk menghancurkan sistem politik di China. Mengapa ? fakta memang ada COVID-19. Korban ada. Pengendalian terus berlangsung. Semua tahu itu. Apa jadinya bila setiap upaya penanggulangan dikacaukan oleh situasi politik yang tidak kondusif? Oleh teror media massa dan pengamat yang asal bunyi.

Negara sebesar China dan juga anggota tetap Dewan Keamanan PBB tentu berhak tidak patuh kepada negara besar lainnya. WHO tidak bisa dikte China, apalagi negara Eropa dan AS. Karena secara medis dan sains China tidak tergantung obat dan alkes dari mereka. China tidak tergantung vaksin dari mereka. Secara modal, China tidak tergantung mereka. Mengapa harus patuh dan mau saja diatur bagaimana mengurus pandemi oleh mereka.

“ Menurut saya, Pandemi COVID-19 boleh saja jadi senjata politik bagi kekuatan besar kepada negara lain, tetapi tidak bagi China. “ kata teman.


“ Tetapi bukankah keterbukaan itu penting? kata saya.

“ Masalahnya bukan soal pentingnya keterbukaan. Tetapi sejauhmana negara bertanggung jawab terhadap tugasnya dan mendelivery itu kepada rakyat. Selagi angka pengangguran turun, orang miskin terus berkurang, orang sehat dan terdidik makin banyak, berbisnis mudah dan lancar, untuk apalagi data omong kosong itu. Kalaupun rakyat tahu, mereka tidak ada solusi. Malah bisa menjadi masalah politik yang pada akhirnya merugikan mereka juga kalau terjadi chaos.. “ Kata teman di China.

Ya kita tidak sehebat China walau jumlah penduduk kita nomor 4 di dunia. WHO dan IMF bebas mengatur kita, termasuk mengancam kita. Sepertihalnya kemarin WHO protes atas kebijakan vaksin berbayar. Mengapa? Karena kita belum mandiri seperti China…




Berita Lainnya

'Mural dan Poster' vs Polri

20/09/2021 00:38 - Anas Baidowi

Satgas BLBI mau Kemana

18/09/2021 12:45 - Indah Pratiwi

Kesederhanaan Gibran

18/09/2021 11:35 - Indah Pratiwi

Anies Merajut Jubah Kekuasaan

17/09/2021 18:00 - Indah Pratiwi

Novel Dicuekin Jokowi, Jangan Apa-Apa Presiden

17/09/2021 17:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA