Wednesday, 22 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

VIRUS BUKAN POLITIS, ITU DARURAT NEGARA

Indah Pratiwi - 15/07/2021 16:30 Ditulis Oleh : Karto Bugel

Berharap, dan kemudian mendoakan orang lain keserimpet dan kemudian jatuh, jelas bukan tindakan terpuji. Biasanya, iri hati adalah sebab orang tersebut berlaku demikian.

Memasang halangan dan jebakan pada tempat yang akan dia lalui agar dia terpeleset dan lalu terjerembab, itu lain lagi, itu sudah masuk ranah kriminal. Biasanya, hanya orang yang penuh kebencian saja yang mampu berlaku seperti itu.

Pada peristiwa politik dan khususnya pada cerita benci ketika seorang Jokowi duduk menjadi Presiden, hal itu terjadi dengan dengan transparan. Baik mereka yang berharap dan berdoa Jokowi terpeleset hingga mereka yang sengaja memasang jebakan pada setiap langkahnya, sama banyaknya.

Bukan hanya jalan Jokowi dibuat berkelok dan terjal, pada banyak tempat yang akan dia lalui, jebakan dan rintangan justru sengaja mereka pasang. Ketika kulit pisang tak lagi mampu membuatnya terpeleset, deterjen hingga oli bekas mereka guyur pada jalan terjal dan berliku itu. Semua usaha mereka lakukan dengan target Jokowi terpeleset dan jatuh.

Pada peristiwa variant Delta C19 yang konon berasal dari India dan kini benar-benar telah membuat bangsa kita terkapar dan sakit, jerit pilu rakyat yang terjangkit hingga mereka yang tak bisa makan karena PPKM Darurat mereka maknai sebagai berkah.

Tak logis berharap pada orang-orang seperti itu turun tangan, mereka justru sedang menunggu moment tepat yakni rakyat yang tak lagi suka dengan cara dan kebijakannya. Marah dan amuk mereka yang dulu sangat mendukungnya sebagai dampak multi dimensi yang akan diakibatkannya, mereka maknai sebagai berkah panen yang layak ditunggu.

Dalam tegang mereka menanti. Dalam gugup mereka menunggu. Degup jantung kini terasa semakin cepat, adrenaline memuncak demi mencari puas anarki tak bertepi. Ambigu negara yang meminta orang tetap di rumah tapi tak memberi makan mereka maknai bagai bunyi "tik, tok, tik, tok, tik..." menuju rundown.

Sepertinya, angka tertular sebanyak 70.000 perhari sebagai batas psikologis negara untuk mampu menanganinya adalah titik nol yang telah mereka sepakati. Sepertinya, rakyat yang tak lagi mampu melebarkan ruang sabarnya akan dapat dibuat marah tepat pada angka psikologis itu.

"Benarkah?"

TIDAK..!!

Potensi penularan hingga 70.000 perhari bukan tanda bagi itu. Rakyat di belakang Jokowi yang ruang sabarnya terbatas juga bukan kumpulan individu mudah diajak anarkis.

Bukan hanya Indonesia mendapat hantaman luar biasa keras ini, Thailand, Philipina dan Malaysia bahkan sudah melakukan lock down total.

Bila variant Delta ini disimpulkan bermula dari India, dia memang menyebar ke arah timur dan tenggara pada awalnya. Thailand adalah negara di timur India yang pertama terdampak. Pertahanan lemah Malaysia, Philipina dan kemudian Indonesia pada akhirnya jebol dalam waktu singkat. Vaksinasi pada warganya yang belum mencapai titik ideal adalah tersangka utama sebagai penyebab.

Kini, varian delta ini juga menghantui warga dari benua Eropa. Negara-negara yang terletak di barat dan barat laut India bahkan Rusia yang berada di utara India pun tak ada yang aman dari ganasnya varian tersebut.

Masih banyaknya warga Eropa yang belum divaksinasi penuh adalah jawaban yang hampir serupa. Ada 30 persen warga berusia di atas 80 tahun dan 40 persen warga berusia di atas 60 tahun yang belum divaksin penuh di benua biru itu. Mereka ternyata juga tidak amat sangat lebih bagus dibanding kita.

Piala Eropa yang digelar pada benua itu masih menyisakan misteri. Ada prediksi menakutkan bahwa pandemi yang lebih besar akan segera menyusul. Para pakar kesehatan mengungkan kekhawatiran mereka tentang ajang Euro 2021 menjadi super spreader, terutama di Inggris dan Rusia karena varian Delta.

Artinya, ketika Indonesia, Malaysia, Thailand dan Philipina dalam 1 bulan kedepan statistik menurun, bukan mustahil bila bandul itu hari ini bergerak ke kanan, nanti akan bergerak ke kiri berpindah ke Eropa. Bukan kita berharap itu terjadi, namun demikianlah sifat pandemi itu sendiri.

Dunia sedang berduka. Dunia sedang berada pada derita yang sama. Bila pada banyak negara mereka mampu memaknainya dengan saling bergandeng tangan, kenapa tidak dengan Indonesia?

Indonesia dan tiga negara di Asia tenggara itu saat ini memang sedang dianggap sebagai episentrum covid dunia, namun bukankah kemarin adalah india? Ini hanya seperti giliran saja bukan tentang hal yang lain-lain. Ini juga tidak perlu tiba-tiba dipakai untuk menyudutkan salah satu pihak.

Bila PPKM Darurat masih harus diperpanjang, (dan sepertinya pasti) pikirkanlah bagaimana rakyat mendapat rasa aman. Di sana masih terlalu banyak rakyat yang tak mendapat bantuan bagi kebutuhan minimalnya.

Bagi mereka yang justru membuat kacau, ada baiknya untuk kali ini pemerintah berani tegas demi keselamatan rakyatnya yang jauh lebih banyak. Bagi mereka yang menentang vaksin seperti banyak saudara kita di DKI Jakarta maupun Madura, pemerintah tak boleh takluk apalagi takut. Ini bukan soal politik, ini soal negara dalam darurat.

Kedaulatan pemerintah hanya akan terwujud dengan hadirnya supremasi hukum. Hukum adalah panglima. Tak ada yang namanya warga dengan status istimewa dalam ranah hukum. Kita semua sama di mata hukum dan pemerintah adalah pihak yang harus menegakkannya tanpa pandang bulu.

Artinya, lebih spesifik, rakyat tak akan marah bila PPKM Darurat harus diperpanjang, namun negara juga tak boleh ambigu. Negara harus memberi kebutuhan minimal seluruh warganya dengan cermat. Di sisi lain, rakyat juga tak akan marah bila para pengacau itu tidak terus dibiarkan sementara rakyat yang patuh justru terimbas.

Sudah saatnya pemerintah berlaku adil dengan tak melihat para pembangkang dan pengacau seperti itu melulu hanya selalu dari sisi politik belaka. Mereka adalah kriminal.

Sudah saatnya seluruh aparatur pemerintahan kompak membangun optimisme masyarakat dengan pesan positif sekaligus juga bertindak dengan cara positif. Sekali lagi, ini bukan politis, ini darurat negara.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel




Berita Lainnya

Kantor Pemberantasan Korupsi Versi Novel?

22/09/2021 13:00 - Indah Pratiwi

TERIMA KASIH PAK PRESIDEN

22/09/2021 11:46 - Indah Pratiwi

Dugaan Kasus Anies

22/09/2021 11:34 - Indah Pratiwi

Perkataan Pak Dudung Tidak Salah

22/09/2021 10:45 - Indah Pratiwi

SELAMAT JALAN BEGAWAN

21/09/2021 12:22 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA