Tuesday, 21 Sep 2021
Temukan Kami di :
Politik

Apakah Ganjar akan Di Rustriningsih kan?

Indah Pratiwi - 01/07/2021 10:08 Oleh: Amaranta Ursula

PDIP tak mengundang Ganjar Pranowo ketika Puan Maharani memberi pengarahan terkait Pemilu 2024 di Jawa Tengah. Tim media Ganjar tak melewatkan kesempatan ini. Ini momentum, harus dipergunakan dengan baik. Ganjar diposisikan sebagai sosok yang dizalimi. Simpati pun berdatangan dari banyak orang. Berhari-hari isu seputar persaingan Ganjar Pranowo dan Puan Maharani menghiasi pemberitaan. Sungguh momentum yang sangat menguntungkan bagi Gubernur Jawa Tengah itu.

Seketika Ganjar menjadi idola banyak orang. Elektabilitasnya naik tajam, dari hanya 11% hingga menjadi 19% dari sebuah lembaga survei. Sejumah kelompok relawan dibentuk. Medsos riuh dengan Ganjar yang diperlakukan tidak adil oleh Puan, B ambang Pacul dan PDIP. Dalam waktu bersamaan Puan terus diejek, dianggap tidak becus, kekanak-kanakan dan tak paham media sosial. Publik tak peduli dan tak mempertanyakan prestasi Ganjar. Fokusnya hanya dia adalah korban kezaliman.

Andai Ganjar sekuat Jokowi dengan elektabilitas di atas 50% saat dijagokan sebagai calon presiden, tentu partai tak akan kuasa menolak. Tapi saat ini elektabilitas Ganjar masih terlalu minim untuk bisa disebut sebagai penerus Jokowi. Bagaimanapun keputusan siapa yang akan diusung sebagai Capres atau Cawapres adalah keputusan partai.

Puan Maharani yang merupakan putri kesayangan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, sangat wajar dicalonkan. Puan pernah menjabat menteri. Sekarang dia adalah Ketua DPR RI. Cukup pengalaman bagi dirinya dalam berpolitik. Tapi memang pengalaman berpolitik tidak cukup untuk bekal sebagai Capres ataupun Cawapres. Persoalan bangsa Indonesia saat ini begitu kompleks. Dari soal bangkit dari pandemi, radikalisme dan masih banyak lagi. Apalagi bila mengingat di luar sana ada kader-kader partai yang tak kalah potensial untuk dijagokan.

Visi melawan radikalisme, antara Puan dan Ganjar kurang lebih sama karena sama-sama dari partai nasionalis. Namun Ganjar punya kelebihan, dia adalah sosok flamboyan. Modal tampangnya yang memadai dan asyiknya berkomunikasi menjadikan dia sosok flamboyan idola emak-emak. Soal jalan-jalan yang terus saja rusak di Jateng juga persoalan lain yang bertolak belakang dari janjinya, tertutup oleh keflamboyanannya.

Entah siapa nanti yang akan diusung PDIP. Namun seperti kata Bung Karno, Jasmerah. Jangan lupakan sejarah. Di masa lalu ada sosok kader yang sangat potensial di Jawa Tengah. Namanya Rustriningsih. Rustri, demikian dia biasa disapa, adalah perempuan pertama dari PDI Perjuangan yang terpilih sebagai kepala daerah di masa awal reformasi. Rustriningsih menjadi kader PDIP sejak 1986 saat masih berusia 18 tahun. Rustri adalah perempuan yang anggun, cantik dan berpembawaan tenang.

Namun di balik penampilannya yang anggun, dia punya banyak prestasi yang membanggakan. Rustri berhasil melesatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kebumen dari hanya Rp 6 miliar menjadi Rp 23 miliar. Itu dicapai hanya dalam kurun kepemimpinan 3 tahun. Dia memimpin dengan tangan dingin. Dibangunnya infrastruktur jalan di banyak sudut wilayah Kebumen. Dia bangun dan perbaiki jembatan. Tak lupa dia bangun sumber daya manusia di Kebumen. Untuk membantu biaya pendidikan di wilayah itu, Rustri harus merogoh kocek sendiri, hingga pernah menggadaikan SK bupatinya untuk mendapatkan pinjaman Rp 100 juta.

Prestasi Rustri tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga nasional bahkan internasional. Badan dunia untuk bidang Ekonomi Asia-Pasifik menganugerahinya Outstanding Woman in Local Government Certificate of Recognition pada tahun 2001. Rustriningsih juga masuk nonumasi penerima Stockholm Challenge’s Award, sebuah penghargaan di bidang pemanfaatan IT untuk pendidikan masyarakat pada tahun 2006.

Sosoknya yang inspiratif dalam membangun daerah yang dipimpinnya membuat dia diundang ke Amerika dalam sebuah seminar. Rustri pun berbagi pengalaman tentang pemerintahan yang bersih. Tak terkecuali, Duta Besar Australia secara khusus mengundangnya untuk berbagi pengalaman yang sama. Media nasional dan internasional banyak menampilkan sosok Rustri sebagai pejabat yang bersih dan merakyat. Loyalitas, prestasi, dan popularitasnya menjadikan dia sebagai ikon PDIP Jawa Tengah waktu itu.

Ketua Umum PDIP Megawati dalam sebuah acara pernah memuji Rustri dengan mengatakan bahwa Rustri adalah Srikandi PDIP. Saat itulah Rustri harus rela meninggalkan jabatan bupati sebelum masa bakti keduanya berakhir. Oleh partai dia diminta mendampingi mantan Pangkostrad Letjen Bibit Waluyo memimpin Jawa Tengah sebagai wakilnya.

Menjelang jabatan Bibit berakhir, Rustri digadang-gadang banyak orang untuk menggantikan Bibit sebagai Gubernur Jateng. Siapa lagi kader PDIP yang paling bersinar di Jateng waktu itu selain Rustri? Semua orang bertaruh, pasti Rustri yang akan diajukan sebagai calon Gubernur.

Namun seperti petir di siang bolong, ternyata bukan Rustri yang digadang-gadang selama ini yang diajukan PDIP sebagai calon Gubernur. Ketua umum PDIP justru memberikan restunya kepada Ganjar Pranowo. Nama yang tak begitu dikenal waktu itu dan tak terduga. Tersiar kabar, Puan yang membela Ganjar sehingga ibunya menjatuhkan restu kepada Ganjar. Ganjar waktu itu masih sebagai anggota DPR. Ganjar sendiri beruntung menjadi pengganti antar waktu karena salah satu kader PDIP di Dewan diangkat menjadi duta besar.

Kini sejarah seperti berulang. Ada kader PDIP yang digadang-gadang banyak orang untuk Pilpres 2024: Ganjar Pranowo. Namun akankah tragedi Rustriningsih terjadi lagi? Bukan Ganjar yang diajukan namun sosok lain yang tak terduga. PDIP adalah partai yang berpengalaman dalam politik. Semua orang menunggu restu Ketua Umum akan jatuh kepada siapa. Waktu akan menjawab.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA