Tuesday, 21 Sep 2021
Temukan Kami di :
News

Satgas Soroti 6 Provinsi soal Angka Kesembuhan Lebih Rendah dari Kasus COVID Baru

Aisyah Isyana - 23/06/2021 09:47

Beritacenter.COM - Satgas COVID-19 menyoroti angka kesembuhan yang lebih rendah, ketimbang kasus COVID baru di 6 Provinsi di Jawa. Terlebih, wilayah DKI Jakarta yang menjadi daerah dengan selisih kasus baru dan pasien sembuh paling tinggi.

"Angka kesembuhan yang lebih rendah dibandingkan kasus positif perlu menjadi target utama perbaikan penanganan COVID-19," kata Wiku dalam keterangannya, Rabu (23/6/2021).

Baca juga :

Wiku merinci keenam provinsi yang memiliki kasus sembuh lebih rendah dari kasus baru COVID, yakni DKI Jakarta (selisih 13.032 kasus), Jawa Tengah (selisih 7.171 kasus), Jawa Barat (selisih 6.670 kasus), Jawa Timur (selisih 2.239 kasus), DI Yogyakarta (selisih 2.131 kasus), dan Banten (selisih 878 kasus).

Selain itu, dia juga menyoroti enam provinsi yang memiliki kasus aktif tertinggi, yakni Jawa Barat (29.784 kasus), DKI Jakarta (11.411 kasus), Jawa Tengah (10.050 kasus), Papua (8.799 kasus), Riau (6.291 kasus), dan Kepulauan Riau (3.431 kasus).

Wiku mewanti-wanti ke seluruh provinsi itu untuk segera memperbaiki pananganan COVID di wilayah mereka.

"Kepada seluruh provinsi tersebut untuk segera memperbaiki kondisi COVID-19 di wilayahnya melalui evaluasi kebijakan yang diterapkan terkait kegiatan masyarakat. Sesuaikan aturan terkait kapasitas kantor, pusat perbelanjaan, restoran dan tempat makan, tempat wisata, serta fasilitas umum lainnya yang berpotensi menjadi titik penularan COVID-19," ujarnya.

Selain itu, Wiku juga berharap kepala daerah di wilayah masing-masing dapat cepat dan terbiasa membaca data perkembangan COVID di wilayah mereka. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan nantinya dapat tepat sasaran guna menekan penyebaran virus Corona.

"Sesuai arahan presiden, pimpinan daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota khususnya di Pulau Jawa, harus terbiasa mengamati situasi terkini dengan membaca data baik sehingga dapat segera dilakukan langkah antisipatif. Jadikan data sebagai basis pengambilan kebijakan penanganan COVID-19 sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat tepat sasaran dan mampu mengendalikan lonjakan kasus," urainya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA