Wednesday, 22 Sep 2021
Temukan Kami di :
Nasional

KKP Gelar Monev Perjanjian Internasional, Ini Tujuannya

Lukman Salasi - 15/06/2021 18:02 Sekjen KKP, Antam Novambar membuka Acara Rapat Monitoring Dan Evaluasi Perjanjian Internasional Sektor Kelautan dan Perikanan di Bandung, Senin (14/6/2021).

FOKUS : KKP

BeritaCenter.COM – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengadakan rapat Monitoring dan Evaluasi Perjanjian Internasional Sektor Kelautan dan Perikanan.

Tujuannya untuk mengetahui efektivitas implementasi perjanjian internasional tersebut. Efektivitas itu akan berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan kelautan dan perikanan nasional. Selain itu, untuk membahas status serta perkembangan kerja sama dalam implementasi perjanjian internasional.

“Penting bagi Kementerian/Lembaga untuk melakukan peninjauan kembali terhadap Perjanjian Internasional yang telah dilakukan dengan mitra kerja sama sebagai bentuk kewajiban moral atas komitmen Pemerintah RI yang telah dituangkan dalam bentuk dokumen resmi dalam rangka mencapai tujuan perjanjian yang telah ditetapkan dan menjaga kredibilitas lembaga negara,” ucap Sekretaris Jenderal (Sekjen) KKP, Antam Novambar ketika membuka Acara Rapat Monitoring Dan Evaluasi Perjanjian Internasional Sektor Kelautan dan Perikanan di Bandung, Senin (14/6/2021).

Antam mengungkapkan, pada implementasinya, masih terdapat beberapa kendala serta tantangan yang datang baik dari dalam maupun dari luar KKP. Antam memaparkan bahwa Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri (Kemlu) telah menemukan 6 permasalahan setelah melakukan monitoring dan evaluasi Perjanjian Internasional yang dibentuk oleh Kementerian/Lembaga terkait.

”Sedikitnya ada 6 yang perlu dicatat, yaitu 1. kurang tersosialisasikan di internal instansi, 2. tidak sesuai dengan peraturan nasional dan hukum internasional, 3. belum bersifat prioritas, 4. adanya perubahan kebijakan/pimpinan, 5. tanpa koordinasi antar instansi, dan 6. tanpa perencanaan dan penganggaran,” papar Antam.

Oleh karena itu Antam berharap dengan adanya Monitoring dan Evaluasi Perjanjian Internasional Sektor Kelautan dan Perikanan, KKP bisa mengetahui kendala/permasalahan dimaksud, seperti mengenai area kerja sama, klausul, masa berlaku yang tidak sesuai sehingga mempersulit implementasi di lapangan agar dapat menentukan langkah perbaikan setelahnya.

“Dengan adanya Monev Perjanjian Internasional ini kita dapat mengambil keputusan mengenai perjanjian internasional terkait, baik berupa penghentian jika dirasa sudah tidak relevan dengan kepentingan nasional, amandemen jika hanya memerlukan penyesuaian pada beberapa konten perjanjian, atau penggantian jika ingin membentuk perjanjian dengan substansi baru,” tambah Antam.

Senada dengan Antam Novambar, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Agung Tri Prasetyo menekankan hal yang sama bahwa Monev ini dimaksudkan agar permasalahan-permasalahan tersebut dapat dibahas tuntas dan diharapkan langkah-langkah ke depannya diidentifikasi, agar kerja sama dalam perjanjian internasional sektor kelautan dan perikanan dapat dilakukan secara maksimal.

“Beberapa permasalahan di antaranya disebabkan karena pelaksanaan tupoksi dalam koordinasi, fasilitasi, dan analisis monev kerja sama belum maksimal. Berkenaan dengan hal tersebut, melalui Rapat Monev Perjanjian Internasional ini permasalahan-permasalahan tersebut dapat dibahas tuntas dan diharapkan solusi ke depannya,” pungkas Agung dalam laporannya.

Acara Rapat Monitoring dan Evaluasi Perjanjian Internasional Sektor Kelautan dan Perikanan yang ditandatangani pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (20 Oktober 2014 s.d saat Ini), dihadiri oleh peserta dan narasumber dari lingkup KKP, juga narasumber dari luar KKP, yaitu Kementerian Luar Negeri yang terdiri dari Sekretaris Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Direktur Timur Tengah, Direktur Amerika II, Direktur Asia Tenggara, Direktur Asia Selatan dan Tengah, Direktur Asia Timur dan Pasifik, perwakilan 3 Direktorat Afrika, Direktorat Eropa I, Direktorat Eropa II.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA