Saturday, 25 Sep 2021
Temukan Kami di :
News

Epidemiolog soal Varian India Terdeteksi di Jatim : Ini 98% Lebih Menular!

Aisyah Isyana - 15/06/2021 12:21

Beritacenter.COM - Epidemiolog asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo, angkat bicara soal terdeteksinya 3 kasus COVID-19 varian India B1617.2 atau varian delta ke wilayah Jatim. Dimana 3 pasien varian India itu terdeteksi saat penyekatan Suramadu.

Windhu menyebut varian delta ini dapat lebih berbahaya dibandingkan dua varian lain yang masuk ke Jatim, yakni varian alpha atau B117 dari Inggris, dan varian beta atau B.1351 yang ditemukan di Afrika Selatan (Afsel).

Baca juga :

"Apa pengetahuan kita tentang varian delta? Didapat dari penjelasan para ahli virologi, secara fisik varian itu kan berkenaan dengan bagaimana kemampuan dia untuk menular dan menghindari antibodi. Yang disebutkan para ahli virus, varian delta ini jauh lebih berbahaya dibandingkan varian lain yang ditemukan di Indonesia, dibandingkan varian alpha dari Inggris dan varian Beta dari Afrika Selatan," beber Windhu di Surabaya, Selasa (15/6/2021).

Varian delta ini sebelumnya ditemukan melalui genome sequensing yang dilakukan para ahli di ITD Unair. Dalam hal ini, Windhu menyinggung soal karaktristik varian delta yang 98% lebih menular.

"Karakteristiknya varian delta lebih menular dari varian alpha yang ditemukan di Jatim. Padahal yang varian alpha itu 70% lebih menular dari yang biasa. Ini yang delta justru 40% lebih menular dari varian alpha. Jadi varian delta ini 98% lebih menular dari yang original. Jadi hampir dua kali lipat lebih menularnya," jelas Windhu.

Selain itu, Windhu menyebut Rnol atau RO yakni tingkat penularan virus dari satu orang positif ke orang lainnya. Dimana pada varian lama dapat menularkan hingga ke empat orang, namun di varian delta dapat menulari hingga 7-8 orang.

"Perkiraan tingkat menular yang biasa kita sebut Rnol atau R0 yakni satu orang bisa menulari berapa orang. COVID-19 bisa menulari sampai empat, masing-masing orang yang terinfeksi bisa menulari empat. Jika varian delta ini 98% lebih menulari, bisa menulari 7 sampai 8 orang. Bayangkan, kecepatan replikasinya lebih cepat dari pada yang varian asli dan ini lebih berbahaya," pungkas Windhu.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA