Wednesday, 22 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

PANCASILA DI DADAKU

Indah Pratiwi - 03/06/2021 15:00 Ditulis Oleh : Karto Bugel

FOKUS : Pancasila

Percaya atau tidak, ternyata anak-anak berlatar belakang IPA justru adalah mereka yang mudah disusupi paham radikal. Paling tidak ini adalah apa yang pernah menjadi temuan BNPT pada tahun 2018 silam.

Hal tersebut mereka temukan pada banyak universitas negeri mau pun swasta. Mereka tersebar pada fakultas eksakta dan kedokteran.

"Anak eksakta, karena dia cara berpikirnya logic dan pragmatis, sehingga dia hanya melihat black and white. Ini akan terjadi pemahaman itu. Kalau memahami agama adalah black and white, ya kayak gitu. Jadi yang diandalkan adalah logikanya," demikian Mesristekdikti Mohamad Nasir memberi tanggapan atas fenomena tersebut.

Benarkah?

Jawaban itu sangat tak memuaskan. Asumsi yang dipakai sebagai pendekatan bagi penilaian itu tak tampak. Itu seperti melompat bebas tanpa batasan spesifik.

Kenapa bukan pada materi pendidikan kita selama ini tak dia toleh?

Pada rezim Orde Baru, Pancasila sebagai salah satu mata pelajaran mendapat posisi sangat penting. Sedemikian pentingnya, pelajaran itu diajarkan sejak TK hingga kuliah.

Bahkan bukti telah lulus penataran P4 (istilah saat itu) dengan macam-macam grade-nya sangat dibutuhkan sebagai syarat bagi siapa pun ingin masuk menjadi pegawai.

Melukiskan bagaimana Pancasila demikian penting bagi Orde Baru, itu seperti heboh kita beragama saat ini. Pemujaan berlebihan kita pada cara beragama masyarakat kita saat ini dapat disandingkan dalam ukuran sejajar dengan pemujaan pada rezim saat itu dan Pancasila tidak lebih hanya sebagai alat. Pancasila ditafsirkan sesuka mereka.

Para penatar berijasah saat itu sangat mirip dengan para pengajar agama saat ini. Para penatar melalui Pancasila mengajak kita tunduk pada pemerintah bukan hormat pada negara. Bukankah hal mirip juga terjadi pada para pengajar agama kekinian di mana mereka meminta kita memuja agama tapi di sisi lain justru tidak mengajarkan bagaimana mengabdi pada
Tuhan?

Faktanya, bukankah Indonesia adalah negara yang berketuhanan?

Entah bagaimana caranya, kebencian kita pada rezim saat itu telah menjadikan benci kita pada Pancasila. Saat Orde Baru tumbang pada 1998, Pancasila turut kita buang bersamaan dengan kita menurunkan Soeharto. Sejak saat itu, tak ada lagi rasa bangga kita pada Pancasila.

Dan maka, ketika hal itu berlangsung lebih dari 15 tahun, paham radikal pun dengan mudah mengisi celah kosong yang lama telah Pancasila tinggalkan. Seperti bangunan yang terlepas dari pondasinya, kita rentan terhadap guncangan.

"Bukankah sejak 1 Juni 2016 Pancasila telah kembali pulang? Sudah 5 tahun kan? Mana hasilnya?"

Panjang jalan penuh kelok itu telah membuat kita tersesat. Pungutlah kembali remah-remah yang tercecer pada sepanjang jalan itu bila ternyata mampu menuntun kita pada arah yang benar. Tak ada hal sia-sia demi kebaikan meski pahit dan melelahkan.

Sejak 1 Juni 2016 Pancasila kembali kita jadikan pondasi bagi cara kita berbangsa dan bernegara. Kita sematkan kembali apa yang lama telah kita lepas.

Hanya dengan Pancasila negara ini akan kembali kokoh. Hanya dengan Bhinneka Tunggal Ika bangsa ini akan menjadi rumah ideal bagi cita-cita 270 juta rakyatnya.

Dengan Pancasila terpatri sempurna di dada kita, paham radikal apa pun tak mungkin akan membuat negara ini goyah.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel




Berita Lainnya

TERIMA KASIH PAK PRESIDEN

22/09/2021 11:46 - Indah Pratiwi

Dugaan Kasus Anies

22/09/2021 11:34 - Indah Pratiwi

Perkataan Pak Dudung Tidak Salah

22/09/2021 10:45 - Indah Pratiwi

SELAMAT JALAN BEGAWAN

21/09/2021 12:22 - Indah Pratiwi

JADI BEDEBAH ITU INDAH

21/09/2021 12:17 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA