Wednesday, 22 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

Mengamalkan Pancasila

Indah Pratiwi - 02/06/2021 19:54 Oleh : Mamang Haerudin

FOKUS : Pancasila

Pancasila yang terdiri dari 5 butir prinsip-prinsip universal itu tidak akan ada artinya apabila tidak diamalkan oleh kita. Pancasila itu benda mati, ia bisa hidup hanya jika dihidupkan (diamalkan) oleh kita. Untuk itulah sebaiknya Pancasila jangan hanya dijadikan jargon dan slogan. Apalagi dijadikan alat politik untuk melakukan perebutan kekuasaan, meracuni simpati publik dan upaya-uapa yang tidak mendidik lainnya. Termasuk manakala Pancasila dibenturkan dengan agama, terlebih agama Islam. Sebab betapapun Pancasila bukan lahir dari Wahyu atau agama, sungguh spiritnya sangat berkesesuaian dengan semua agama-agama.

Lalu bagaimana cara kita agar mampu mengamalkan Pancasila? Berlakulah sebagai orang yang baik. Orang yang hidupnya penuh dengan kebaikan. Kepada siapa saja tanpa pandang agama, suku, budaya, bahasa dan lain sebagainya. Bagaimana kemudian Pancasila bisa diamalkan dalam akhlak diri, dalam konteks kehidupan rumah tangga, keluarga, tempat kerja dan umumnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila menjadi ruh kehidupan bersama yang harmoni. Ia menjadi titik temu segala perbedaan dan keberagaman yang ada. Yang penting juga dipastikan adalah jangan pernah merasa paling Pancasila.

Orang yang merasa paling Pancasila, sekalipun 5 butir kandungannya dihafal di luar kepala, ia justru akan menjadi bumerang sendiri. Pancasila tak bisa direpresentasikan hanya dengan kata-kata, kalau tanpa ada pengamalannya. Kita harus waspada terhadap politisasi Pancasila. Dulu manakala Pancasila dalam kekuasaan Presiden Soeharto melalui Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7). Pancasila dimanipulasi sedemikian rupa untuk kepentingan kekuasaan dan politik otoriter.

Tak terkecuali Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo ia berpotensi juga menjadi alat indoktrinasi yang kontra-produktif. Lebih dari itu saya merasa bahwa Pancasila yang spriritnya sesuai dengan spirit agama-agama, terlebih Islam, belum sepenuhnya diamalkan secara kontekstual. Misalnya bagaimana Pancasila mampu membangkitkan kesadaran umat Muslim untuk memakmurkan Masjid,

Pancasila yang efektif mencegah perilaku korupsi, Pancasila yang mampu melerai sesama umat Muslim agar tidak saling caci dan gagah-gagahan, Pancasila yang bisa memberdayakan umat dan lain sebagainya. Dalam realitas kehidupan beragama, khususnya dalam internal umat Muslim, ada memang kelompok Muslim yang terang-terang anti Pancasila. Saya sebetulnya memahami bahwa penentangan terhadap Pancasila bukan karena kebencian terhadap Pancasila itu sendiri, melainkan karena perilaku orang-orang yang selama ini teriak Pancasila, namun akhlaknya tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Ada juga Muslim yang masih komitmen dengan Pancasila tetapi tetap mendapatkan tudingan anti Pancasila.

Nah kelompok Muslim ini yang saya telusuri justru mampu memberdayakan umat, menggalang persatuan, melek literasi dan melek teknologi dalam dakwahnya. Sementara itu ada kelompok Muslim yang mengkalim dirinya sebagai pewaris Pancasila, tetapi justru sangat jauh tertinggal. Penguasaannya terhadap dakwah digital, kemandirian dalam berdakwah dan masih banyak lagi, masih jauh dari harapan, justru masih jauh dari nilai-nilai Pancasila. Untuk itu saya lebih setuju jika Pancasila dijadikan akhlak hidup. Kita tidak perlu terbuai dengan Pancasila yang sebatas hanya jargon dan slogan.

Apalagi Pancasila dijadikan alat untuk mengolok-olok kelompok Muslim lain atau agama lain. Pancasila bukan milik kelompok Muslim tertentu saja, bukan hanya milik satu agama saja, Pancasila milik bersama, tempat kita kembali berpijak manakala kehidupan sosial ini penuh dengan kekisruhan dan keributan. Kehidupan sosial yang justru riuh oleh sikap-sikap yang mencoreng keluhuran Pancasila. Seperti gontok-gontokan dalam dakwah, saling nyinyir, menebar hoaks, fitnah dan ujaran kebencian sejenisnya. Atas realitas kehidupan sosial yang memprihatinkan ini, sebaiknya kita kembali pada Pancasila di mana Pancasila kita jadikan untuk kembali merajut persatuan.

Perbedaan dalam berdakwah dan dalam apapun mestinya tidak menyelut permusuhan. Hari ini hari Selasa, 1 Juni 2021, biasanya kita peringati sebagai Hari Pancasila. Poster-poster atau twibbonize Hari Pancasila jangan sampai berhenti pada kemeriahan jargon dan slogan. Mari kita jadikan Pancasila sebagai perekat bangsa dan agama. Tak kenal maka tak sayang, seperti kata pepatah bijak mengatakan, bahwa sering kali kita bermusuhan karena satu sama lain tidak saling kenal, sebaliknya malah saling curiga dan tuduh-menuduh. Semoga Allah Swt., melindungi bangsa dan agama kita dari perpecahan, terutama di momen baik ini di Hari Pancasila. Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)




Berita Lainnya

TERIMA KASIH PAK PRESIDEN

22/09/2021 11:46 - Indah Pratiwi

Dugaan Kasus Anies

22/09/2021 11:34 - Indah Pratiwi

Perkataan Pak Dudung Tidak Salah

22/09/2021 10:45 - Indah Pratiwi

SELAMAT JALAN BEGAWAN

21/09/2021 12:22 - Indah Pratiwi

JADI BEDEBAH ITU INDAH

21/09/2021 12:17 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA