Sunday, 20 Jun 2021
Temukan Kami di :
Samarinda

4 Keistimewaan Ibadah Puasa

Indah Pratiwi - 08/05/2021 13:15

Di tengah pandemi Covid-19, umat Islam di seluruh dunia tetap menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh sukacita. Bulan di mana rahmat, keberkahan, dan ampunan Tuhan mengalir deras. Kita semua tentu tidak henti-hentinya berdo’a dan berharap agar wabah yang banyak menjangkit manusia itu segera berakhir. Melalui momentum puasa pada bulan suci Ramadhan tahun ini, kita semua berharap kepada Allah SWT agar menjadi lebih sehat secara jasmani maupun rohani.

Secara substansial, puasa pada bulan suci Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Bahkan hadits Qudsi—hadits yang berdasarkan dari firman Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW—mengatakan bahwa ibadah puasa memiliki kelebihan dan keutamaan dibandingkan dengan ibadah lainnya. Hadits Qudsi itu berbunyi, “Semua amal perbuatan anak Adam (manusia) itu adalah untuk-Nya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”

Muncul sebuah pertanyaan; Bukankah seluruh amal dan ibadah tentu akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT? Lalu mengapa hadits qudsi itu memiliki kekhususan tersendiri, hanya ibadah puasa saja yang secara langsung dibalas oleh Allah SWT? Mengenai hal itu, para ulama berpendapat terkait ibadah puasa yang memiliki keistimewaan tersendiri.

Pertama, ibadah puasa merupakan ibadah yang bersifat privat—hanya dirinya yang berpuasa dengan Allah SWT sajalah yang mengetahui—maka Allah menyandarkan ibadah puasa kepada Diri-Nya. Orang lain tidak ada yang tahu apakah seseorang itu berpuasa atau tidak, kecuali hanya dirinya dan Allah SWT sajalah yang tahu. Tidak ada sebuah gerakan fisik yang menandakan seseorang itu berpuasa atau tidak.

Misalnya, sepasang suami-istri pergi berbelanja kebutuhan ke pasar. Apakah orang lain akan tahu bahwa kedua pasangan suami-istri itu sedang berpuasa atau tidak. Jangan-jangan istrinya haid sehingga tidak berpuasa. Atau justru sebaliknya, suaminya tidak puasa karena telah batal puasanya lantaran menenggak botol air putih segar berembun di kulkas dalam kesendiriannya. Tidak ada suatu pertanda gerakan tertentu yang bisa membedakan suami atau istri yang sedang berpuasa. Bisakah kita menunjuk salah satunya mana yang berpuasa dan mana yang tidak? Sulit bukan?

Karena itulah, ibadah puasa sama sekali tidak menjerumuskan seseorang pada penyakit pamer (riya). Berbeda dengan ibadah lain seperti zakat, shalat, dan haji. Ibadah shalat dapat kita ketahui apakah seseorang itu melaksanakannya atau tidak melalui ritual dan gerakan peribadatannya. Seseorang juga bisa riya dengan melakukan gerakan shalat di hadapan orang lain.

Zakat juga demikian. Dengan mengeluarkan sebagian harta, seseorang bisa memamerkan sebagian hartanya di hadapan orang lain bahwa ia memiliki sejumlah kekayaan tertentu. Apalagi pergi melaksanakan haji, tanda-tandanya dapat kita lihat dengan jelas. Baik melalui pakaiannya, gelarnya, ataupun gerak-geriknya melalui foto-foto selfie di media sosial. Meski, ibadah puasa juga dapat kita pamerkan kepada orang lain melalui ucapan: “Saya sedang ibadah puasa loh,” tapi itu hanya sekadar ucapan yang tidak dapat diketahui gerakannya. Secara fundamental inilah ibadah puasa menjadi lebih istimewa dibandingkan dengan ibadah lain.

Keistimewaan ibadah puasa yang kedua, dilipatgandakannya ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang berpuasa. Menurut Imam Abu Abdullah Al-Qurtubi (1214-1273), makna yang terkandung dalam hadits qudsi di atas—Aku yang akan memberikan balasan pahala—bahwa Allah akan melipatgandakan setiap amal ibadah. Mulai dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat sekehendak Allah, kecuali ibadah puasa. Dengan begitu, maka Allah bisa memberikan ganjaran pahala tanpa batas.

Selanjutnya adalah keistimewaan ibadah puasa yang ketiga, yaitu dapat mengebiri hawa nafsu yang berasal dari pengaruh negatif setan. Ketika seseorang itu berpuasa dengan penuh keikhlasan hanya karena mengharap ridha Allah SWT saja, maka ia akan dijauhkan dari setan. Dengan menahan godaan makan dan minum sebelum waktu maghrib tiba untuk berbuka, maka nafsu syahwat—yang merupakan pintu masuk utama setan untuk lebih menjerumuskan manusia ke lembah maksiat—dalam diri akan lebih terkendali.

Demikianlah makna sebenarnya adigum setan itu terbelenggu rantai di bulan suci Ramadhan. Selain itu, dengan melaksanakan ibadah puasa, sistem pencernaan dan penyaringan racun dalam tubuh sebagai arus utama masuknya makanan juga diistirahatkan sehingga tubuh menjadi lebih sehat secara medis. Maka tidak jarang orang yang sering berpuasa, baik puasa wajib di bulan suci Ramadhan, maupun yang sunah seperti puasa daud, lebih terlihat sehat dan berumur panjang.

Dan keistimewaan ibadah puasa yang keempat adalah diampuninya dosa-dosa sehingga berakhir dengan fitrah, yang kita rayakan setelah usai menunaikan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan atau kita sebut sebagai Idul Fitri. Seolah-olah kita kembali suci seperti bayi yang baru saja lahir. Ibadah puasa yang diampuni dosa-dosanya juga membangkitkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan semakin menjauhi apa-apa yang menjadi larangan-Nya setelah kita diampuni dan suci dari dosa itu.

Karena itu, mari kita menyongsong momentum keistimewaan ibadah di bulan suci Ramadhan ini dengan penuh sukacita dan kebahagiaan dengan berpuasa karena Allah SWT saja, dan tidak dengan alasan yang lain. Tidak hanya itu, kualitas iman dan takwa akan semakin meningkat jika hari-hari kita dipenuhi dengan ibadah lain—seperti tadarus Al-Quran, shalat tarawih, shalat malam, dan sedekah—agar memperolah ridha, berkah, dan rahmat-Nya sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik. []




Berita Lainnya

Berhaji Tanpa ke Tanah Suci

12/06/2021 09:00 - Indah Pratiwi

Buat SAMBAL GORENG ATI KENTANG Yang Lezat

04/06/2021 17:30 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA