Monday, 10 May 2021
Temukan Kami di :
Samarinda

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

Indah Pratiwi - 01/05/2021 13:04

Di bulan Ramadhan ini, selain diwajibkan berpuasa, umat Muslim juga diwajibkan menunaikan zakat, khususnya zakat fitrah. Zakat menjadi kewajiban bagi setiap Muslim karena menjadi rukun Islam yang ketiga. Rasulullah SAW bersabda, Islam dibangun di atas lima hal, yaitu kesaksian sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR. Bukhari Muslim).

Namun demikian, dibalik diwajibkannya zakat bagi setiap Muslim ada hikmah dan makna yang mendalam, yaitu membersihkan harta dan jiwa. Bisa dibilang, zakat menjadi salah satu instrumen penting agar harta dan jiwa kita bersih. Sedikitnya, ada dua alasan yang mendasarinya.

Pertama, dalam setiap harta kita terdapat hak bagi orang miskin (QS. Adz-Dzariyat [51]: 19). Karena itu, zakat mesti dikeluarkan oleh seseorang agar harta yang ia miliki menjadi bersih dan suci. Hal ini juga ditegaskan dalam QS. at-Taubah ayat 103, Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka.

Zakiah Darajat dalam Zakat Pembersih Harta dan Jiwa (1994), menjelaskan bahwa harta kekayaan itu titipan Allah SWT dan sebagian kecilnya adalah hak orang lain. Dalam temuannya sebagai konsultan kejiwaan, ia mengemukakan bahwa ada salah seorang pasien yang mengeluh akan kesehatannya, selera makan hilang, dan tidur tidak nyenyak. Meski telah berobat kepada beberapa dokter spesialis, penyakitnya tak kunjung sembuh. Akhirnya, ia menyarankan akan orang tersebut mengeluarkan zakat yang dihitung secara tepat. Hasilnya, ia merasa lebih baik dan sehat setelah mengeluarkan zakat.

Itulah pentingnya menunaikan zakat bagi mereka yang telah memenuhi syarat kewajiban. Bahwa dalam setiap harta kita ada hak milik orang lain, terutama orang-orang fakir miskin. Harta tidak hanya menjadi kebutuhan bagi manusia, tetapi sebaliknya juga dapat menjadi ancaman bagi seseorang. Karena harta orang berkelahi. Karena harta orang putus persaudaraan. Karena harta berbagai penyakit itu datang. Bisa dibilang, harta adalah belenggu dan fitnah bagi kita sendiri.

Namun, sebenarnya bukan karena harta yang menjadi penyebab utamanya. Mungkin, cara mendapatakan harta itu yang tidak benar, serta sebagian harta itu yang sesungguhnya hak milik orang-orang miskin yang tidak dikeluarkan. Karena itu, zakat menjadi salah satu cara agar harta kita menjadi bersih serta mengurangi berbagai ancaman dan belenggu dari harta itu sendiri.

Dalam hal ini, tidak bisa dipungkiri bahwa zakat merupakan satu-satunya cara membersihkan harta kita yang ketentuannya sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Kita sebagai umat Muslim yang taat, sudah semestinya melaksanakan perintah tersebut. Saya yakin, harta yang kita zakatkan kepada orang yang berhak tidak sedikit pun mengurangi kualitas harta yang kita miliki, tetapi sebaliknya malah membersihkan harta benda yang kita punya.

Kedua, zakat merupakan ibadah wajib yang telah diperintahkan oleh Allah SWT memiliki dimensi spiritual-psikologis bagi yang menunaikannya. Itu artinya, jika seseorang telah menunaikan zakat untuk dirinya, maka secara psikologis jiwanya akan lebih bersih. Al-Quran menegaskan bahwa orang diperintah mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasul agar ia mendapat rahmat (QS. An-Nur [24]: 56).

Dalam hal ini, Zakiah Darajat menjelaskan bahwa ibadah shalat dan zakat yang dilaksanakan dengan penuh ketaatan dan keimanan, maka akan mengantarkan seseorang pada jiwa yang bersih, yaitu jiwa yang merasa aman dan nyaman. Dalam arti lain, ketaatan dan keimanan kita dalam melaksanakan ibadah shalat dan zakat akan menghilangkan rasa gelisah, takut, dan cemas yang akan mengganggu ketenangan hidup kita.

Karena itu, zakat harus kita pahami, tidak hanya sebatas kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, tetapi lebih dari itu, zakat harus kita maknai sebagai sarana membersihkan jiwa kita agar terhindar dari rasa takut, cemas, gelisah, was-was dan lain sebagainya. Dengan kata lain, jika jiwa kita bersih, maka kebahagian akan dirasakan oleh setiap yang telah menunaikan zakatnya.

Bukankah kita sering merasa bahagia tatkala kita usai memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain? Pasti semua sepakat bahwa berbagi akan membawa kebahagiaan bagi diri sendiri. Begitu pula dengan zakat—yang notabene memiliki dimensi berbagi—akan membawa kebahagiaan bagi yang menunaikannya. Maka dari itu, sudah selayaknya di bulan Ramadhan ini kita mengeluarkan zakat, setidak-tidaknya zakat fitrah. Lebih baik lagi bila mau menunaikan zakat mal (harta) bagi mereka yang telah memenuhi nisab dan haul.

Singkatnya, zakat tidak semestinya dipahami sebagai kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Lebih dari itu, zakat harus dimaknai sebagai sarana atau instrumen untuk membersihkan harta dan jiwa kita. Kalau diselami lebih dalam lagi, zakat adalah cara kita menggapai kebahagiaan. Dengan zakat, harta dan jiwa bersih. Dengan harta dan jiwa yang bersih, hati akan bahagia.




Berita Lainnya

4 Keistimewaan Ibadah Puasa

08/05/2021 13:15 - Indah Pratiwi

Puasa Mempersempit Jalannya Setan

06/05/2021 17:10 - Indah Pratiwi

Puasa Melatih Kejujuran dan Ketulusan

06/05/2021 15:35 - Indah Pratiwi

Cahaya 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

05/05/2021 13:51 - Indah Pratiwi

Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan

04/05/2021 14:15 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA