Friday, 07 May 2021
Temukan Kami di :
Nasional

Ramadhan Bulan Perdamaian

Indah Pratiwi Budi - 16/04/2021 16:24

Pasca aksi bom di Makasar dan di Mabes Polri yang terjadi sebelum Ramdhan. Konflik sosial dan saling curiga antar umat Muslim dan non-Muslim masih terus terjadi. Meskipun upaya untuk memberantas terorisme terus dilakukan oleh semua elemen bangsa. Namun, ketegangan yang diakibatkan oleh terorisme ini terus membuat khawatir. Sementara, pada waktu yang sama, kita telah memasuki Ramadhan. Bulan yang menjadi oase untuk menebarkan nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian.

Ramadhan adalah bulan suci umat Islam yang penuh kemuliaan. Sesuai sabda Nabi, bulan Ramadhan dibagi tiga hal, yakni Sepuluh hari pertama, Allah menurunkan kasih sayang (rahmat). Sepuluh hari kedua, Allah menurunkan ampunan (maghfirah). Sepuluh hari terakhir, Allah membebaskan dari api neraka (itqun minan nar).

Kiranya, jika orang yang mendapatkan tiga anugerah tersebut tentu bukan orang sembarangan, akan tetapi yang bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan amal saleh, seperti puasa, salat wajib dan tarawih berjamaah, tadarus al-Quran, sedekah, menuntut ilmu, dan menghindari hal-hal yang dilarang, seperti menyebar kebohongan, kebencian, permusuhan, dan agitasi destruktif.

Bahkan, nabi Muhammad SAW pernah menegaskan bahwa orang yang mengisi bulan Ramadhan dengan amal saleh karena keimanan dan hanya mencari rida Allah, maka dosa-dosa masa lalu diampuni Allah SWT. Sementara, tiga anugerah Allah di atas menjadi motivasi umat Islam untuk menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum menebarkan spirit perdamaian kepada sesama.

Damai adalah ajaran Islam esensial. Kata Islam adalah satu akar dengan salam yang artinya damai. Para ulama menamakan Indonesia dengan darus salam (negara damai), bukan darul harbi (negara perang), sehingga seluruh anak negeri lintas agama, suku, ras, dan golongan bisa hidup berdampingan secara damai. Kerukunan, persaudaraan, dan kebersamaan menjadi kunci membangun perdamaian di negeri yang pluralistik dan heterogenistik seperti Indonesia ini.

Spirit puasa untuk mengokohkan semangat perdamaian sangat besar karena dalam puasa terdapat beberapa nilai intrinsik yang sangat relevan dalam menumbuhkan pesan perdamaian antar sesama manusia, di antaranya pertama dalam puasa terdapat lima hal yang menggugurkan pahala orang yang berpuasa, yaitu: berkata bohong, mencela, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu. Lima hal ini harus dihindari dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati supaya syiar Islam menampakkan wajah teduh dan damai.

Media sosial yang sulit dikontrol harus diisi dengan konten yang positif dan konstruktif, yaitu media sharing gagasan, ilmu, hikmah, pengalaman orang-orang saleh, dan tanya jawab persoalan hukum yang dibutuhkan umat. Jangan sampai media sosial dikotori dengan konten negatif destruktif, seperti saling menyalahkan, menghakimi, dan menyebar fitnah yang menyebabkan kebencian, bahkan permusuhan.

Kedua, dalam puasa budaya gotong royong sangat dianjurkan. Hal ini tampak dalam pelaksanaan kerja bakti kebersihan di masjid, mushala, dan majlis taklim lainnya. Gotong royong juga terlihat dalam pelaksanaan salat tarawih dan witir berjamaah, tadarus al-Quran, mengaji ilmu, dan memberikan makanan untuk berbuka puasa di masjid. Di akhir Ramadhan, budaya gotong royong ini semakin kuat, khususnya dalam pembagian zakat fitrah, santunan anak yatim, fakir miskin, dan kegiatan buka bersama yang diadakan berbagai organisasi dan birokrasi.

Kebersamaan dan kekompakan yang ditunjukkan umat Islam dalam budaya gotong royong di bulan Ramadhan ini menjadi sinyal positif bagi solidaritas dan kohesivitas sosial dan secara otomatis meminimalisasi potensi konflik sosial yang kontraproduktif bagi pembangunan nasional yang meliputi seluruh aspek kehidupan.

Ketiga, tujuan utama orang berpuasa adalah mencapai derajat orang yang bertakwa. Salah satu indikator orang yang bertakwa adalah menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya, baik yang berkaitan dengan Allah maupun kepada sesama dan lingkungan. Dalam konteks kepada sesama dan lingkungan, seseorang diharuskan menjadi orang yang mampu menjaga, bukan hanya ucapan dan perbuatannya saja, akan tetapi juga melindungi umat manusia yang berbeda dengan kita tanpa melukai perasaan orang lain.

Keempat, spirit menuntut ilmu di bulan puasa sangat tinggi. Masjid, musala, pesantren, lembaga pendidikan, dan majlis taklim lainnya berbondong-bondong mengadakan forum pengajian ilmu yang dihadiri umat Islam dengan penuh antusias. Spirit menuntut ilmu ini juga terlihat diberbagai media yang intens mengadakan program siraman rohani selama bulan Ramadan.

Dalam forum kajian ilmu tersebut, sosialisasi ajaran Islam yang menebarkan Islam sebagai agama yang ramah, kasih sayang dan penuh kedamaian sangat kuat. Sosialisasi ini secara tidak langsung masuk ke alam bawah sadar umat dan bangsa yang termanifestasi dalam ucapan dan perbuatan sehari-hari. Dalam hal ini, tentu sangat bertolak belakang dengan aksi terorisme.

Kelima, puasa mendorong spirit berbagi kepada orang lain, khususnya mereka yang membutuhkan. Spirit berbagi adalah spirit yang lahir dari rasa empati dan rasa cinta kepada sesama. Cinta kepada kemanusiaan adalah strata keimanan yang agung sehingga Nabi memerintahkan umat Islam untuk mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri. Apa yang membuat susah orang lain dihindari dan apa yang menjadikan bahagia orang lain dilakukan dengan penuh ketulusan. Kebahagiaan orang lain adalah kepuasan yang tidak ternilai.

Dengan demikian, lima nilai yang terkadung dalam Ramdhan ini akan membentuk karakter individu dan sosial yang menebarkan pesan persaudaraan dan perdamaian, bukan malah menebarkan kebencian dan saling curiga antar umat agama. Dalam hal ini, tentunya akan membentuk dan menjaga rasa persatuan setiap elemen bangsa. Berkah Ramadhan untuk bangsa seperti inilah yang diharapkan semua elemen bangsa.




Berita Lainnya

Membangun Solidaritas Kemanusiaan

07/05/2021 16:00 - Indah Pratiwi Budi

Peran Perempuan dalam Memerangi Hoaks

07/05/2021 15:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA