Friday, 24 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

Waspada! FPI Rumah Teroris Asia Tenggara

Indah Pratiwi - 16/04/2021 13:29 Penulis Ninoy Karundeng

Waspada! Publik tidak paham betul. Kalau seluruh informasi terdistorsi. Saatnya mengungkap Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menjadi sangat kuat di Indonesia. FPI dan HTI adalah rumah persembunyian para teroris di Indonesia dan Asia Tenggara.

Keterlibatan pentolan teroris Abu Bakar Ba’asyir dan gerakan pendidikan di tengah hutan Poso oleh FPI menjadi bukti betapa FPI dan HTI menjadi musuh nomor satu Indonesia.

Tak mengherankan. Ketika Muhammad Rizieq Shihab (MRS) pulang ke Indonesia, yang dia tuntut adalah pembebasan teroris Abu Bakar Ba’asyir. Selain para pendukung teroris dan kaum radikal. Karena sejarah FPI terkait dengan Jamaah Islamiyah (JI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

“Bebaskan Abu Bakar Baasyir, Bahar bin Smith, Syahganda Nainggolan, Anton Permana, Bambang Nur Hidayat,” kata Rizieq di Jakarta, Kamis (12/11/2020).

Keterlibatan FPI sebagai kelompok teroris sejak 2005. Ketika Zaenal Anshori memimpin Jamaah JAD sekaligus Ketua FPI Lamongan. FPI Lamongan jadi antek teroris Aman Abdurahman. Aman Abdurrahman adalah pimpinan JI Asia Tenggara bersama Abu Bakar Ba’asyir.

Sesama JI Aman Andurahman dan Abubakar Ba’asyir pada 2014 mengembangkan sayap terorisme. Mereka bergabung dengan ISIS. Munarman – Panglima FPI melakukan baiat terhadap ratusan orang di Makassar. Teroris yang dibaiat Fauzan al Anshari tewas, Muhammad Basri mati di Nusakambangan, Bustar ditangkap Densus 88.

Penangkapan 19 teroris jaringan JAD di Villa Mutiara Makassar membuka kedok FPI sebagai rumah teroris. Jaringan JAD dan MIT menggunakan FPI sebagai organisasi teroris yang berkedok membela Islam. Sehingga publik terkecoh.

Salah satu teroris anggota FPI sekaligus JAD yang ditangkap adalah Ahmad Aulia. Dia adalah salah satu dari ratusan anggota FPI yang dibaiat di dapan Munarman. Pembom gereja di Filipina pada 2019 pun adalah anggota JAD dan FPI.

Selain JAD, JAT sebagai pecahan MMI pimpinan Abu Bakar Ba’asyir, terlibat aktif dalam berbagai serangan teroris di Indonesia, dan Asia Tenggara. Jaringan FPI pun terlibat dalam menyembunyikan Nurdin M Top dan Dr Azahari, otak bom gereja 2000, bom Bali 2002 dan Bom Bali 2005.

“Ada 37 anggota FPI, yang bergabung dengan JAD atau MIT, terlibat aksi terorisme. Ada yang akses bersenjata ke Filipina Selatan, Aceh, ada yang melakukan pengeboman Polresta Cirebon,” ujar Benny Mamoto, Minggu (13/12/2020)

Kompleksitas persembunyian teroris dalam jaringan JAD, JAT, MMI, JI, dengan para pelaku yang berpusat dalam diri Aman Abdurrahman, Abu Bakar Ba’asyir, Muhammad Rizieq Shihab, dengan Panglima FPI Munarman.

Berbagai pertemuan dan konsolidasi anggota jaringan teroris ISIS, FPI, dengan Aman Abdurrahman, Bachrumsyah aktor Bom Sarinah yang tewas di Suriah, berlangsung di berbagai kota seperti Temanggung, Cirebon, Makassar, Kendal, Serang, Pekan Baru, Lamongan, Karawang, Bandung, Mataram, Batam, Sawahlunto, Jakarta, Bekasi, Gorontalo, Sragen, dan Bogor.

Gerakan teroris saling terkait seperti JAD, JAT, dan anggota FPI. Mereka melakukan pemboman di Jakarta 2016, pemboman gereja Samarinda 2016, bom Sarinah Jakarta 2017, serangan Mako Brimob 2018, pemboman 2018, dan terakhir Bom Makassar dan Mabes Polri yang jelas melibatkan anggota FPI.

Maka menjadi jelas dan faktual jaringan teroris FPI terkait dengan JAD yang bermula di Lamongan pada 2005, JAT, dan gerakan HTI yang mendompleng untuk persembunyian gerakan terorisme.

Fakta Anies Baswedan, Jusuf Kalla, Ridwan Kamil jadi simpatisan FPI harus menjadi perhatian. Barisan Din Syamsuddin, Hidayat Nur Wahid, dan gerakan legal PKS pun harus menjadi perhatian publik.

Publik Indonesia, TNI, Polri, BIN tetap memantau gerakan terorisme, Wahabi, Ikhwanul Muslimin, ISIS, HTI, FPI yang berkelindan dalam jaringan terorisme bersama-sama. Dibukanya kedok FPI sebegai organisasi rumah para teroris menyadarkan banyak orang.

Namun, paham radikal sudah mencengkeram lembaga negara, ASN, dan BUMN. Para simpatisan teroris tersebut menjadi sumber aksi terorisme. Kembali rakyat pencinta NKRI menarik napas panjang. Perjuangan melawan gerakan teroris, khilafah, IM, Wahabi, ISIS, FPI, HTI, masih panjang.

(Penulis Ninoy Karundeng)




Berita Lainnya

NO ROCKY, NO PARTY

23/09/2021 16:23 - Indah Pratiwi

Patung Sepatu Sebelah sebagai Tondo Moto

23/09/2021 14:10 - Indah Pratiwi

Masak Orba Lebih Baik

23/09/2021 13:45 - Indah Pratiwi

Menjadi orang asing di negeri sendiri

23/09/2021 12:08 - Indah Pratiwi

Kadrun Pada Oleng

23/09/2021 10:32 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA