Monday, 12 Apr 2021
Temukan Kami di :
Nasional

KONTEMPLASI KEINDONESIAAN

Indah Pratiwi Budi - 08/04/2021 14:10

Sebagai bagian integral dan tidak terpisahkan dari negara besar ini, baik para elit dan setiap elemen masyarakat wajib berkontemplasi utk hijrah ke akar sejati dari keIndonesiaan. Bicara INDONESIA bukan sebatas representasi wilayah negara yg memenuhi daftar dari sekian ratus negara di planet bumi. Bicara INDONESIA bukan hanya sebatas slogan utk menyebut sebuah negara kepulauan di khatulistiwa yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke atau dari Miangas sampai Rotte.

INDONESIA lahir dari perjalanan historis yang panjang dan menguras air mata, darah dan keringat para pejuang. Hingga dengan mantap bisa menancapkan deklarasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Apakah dengan momentum heroik tsb perjuangan sudah selesai? Sama sekali tidak!!! Teringat perkataan Bung Karno yg menyebut "perjuanganku mudah karena penjajah dari bangsa lain, tapi perjuanganmu sulit karena penjajah dari bangsamu sendiri".

Hari ini kita bertempur dengan diri sendiri dan mentalitas individualistik, materialistik dan hedonik. Di mana aspek keluhuran kerap kali di abaikan demi mengeruk kekayaan untuk menjadi kaum borjuis yg kapitalistik. Sekalipun, untuk mencapai hal tersebut harus membuat air mata, darah dan keringat para jelata harus menjadi tumbal mengenaskan.

Bangsa ini akan di caci oleh bangsa lain karena mereka yg lahir di bangsa ini luntur "rasa memiliki" terhadap Indonesia. Indonesia akan menjadi kuat bak benteng tidak tergoyahkan di pasifik bahkan dunia jika masyarakatnya punya "rasa memiliki" terhadap Indonesia. Kita akan berdiri tegap bukan dengan kepala tertunduk sebagai negara yang bermartabat. Tangan yang terkepal dan teracung sebagai simbol kebulatan tekad untuk menjadi barikade melindungi setiap jengkal Nusantara.

Tapi, bagaimana rasa memiliki itu akan berakar, bertumbuh dan berbuah jika kita kehilangan optimisme dan tekad untuk mengubah wajah masa depan bangsa ini kian lebih baik. Bagaimana akan terwujud jika kita sendiri kehilangan roh revolusi mental? Bagaimana akan terwujud jika kita masih gagal untuk melihat visi kebangsaan melampaui ekspektasi pragmatis secara personal?

Tidak mudah untuk berani berjalan di jalan sunyi sebagai seorg pionir yang konsisten. Kerap kali, pandangan yg visioner dan tekad bulat yang idealis bisa menjadi lelucon tertawaan di tengah mayoritas lingkungan berkultur pragmatis dan transaksional. Tapi percayalah bahwa ketulusan dan keluhuran akan selalu menjadi harta tak ternilai untuk membuat wajah masa depan bangsa ini menjadi lebih baik.

Tidak mesti harus mendahului dengan sepak terjang spektakuler fenomenal untuk membuktikan bahwa kita mengemban amanah perubahan. Kerap kali, kita malah memulai dengan langkah-langkah kecil dan sederhana tapi konkrit untuk menyentuh banyak orang di sekitar kita. Kerap kali, kita memulai dengan realitas transformasi personal yang akan berdampak menjadi kiblat teladan bagi banyak orang di sekitar kita.

Sobat...,
Membawa simbol merah putih bukan hanya sebuah kebanggan diri tapi itu sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab yg sifatnya vertikal berkaitan dengan hubungan spiritual dan tanggung jawab horizontal yang berkaitan dengan interaksi sosial masyarakat di mana kita berada.

Indonesia lebih butuh para pelopor daripada sekedar komentator yg menambah hiruk pikuknya politik di bangsa ini. Indonesia lebih butuh mereka yang mau membangun "jembatan solidaritas" dan berani mendobrak "tembok diskriminasi". Indonesia bukan hanya sebatas representasi wilayah negara, karena Indonesia adalah representasi kehidupan yang Pancasilais, religius dan nasionalis. Indonesia adalah kita dan kita adalah Indonesia....

Salam Inovasi dan solidaritas,

Forum Literasi Masyarakat Sulawesi Utara - Forlitmas Sulut
FORUM LITERASI MASYARAKAT INDONESIA - FORLITMAS INDONESIA




Berita Lainnya

Pertarungan AHY VS Moeldoko Berlanjut

10/04/2021 12:30 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA