Monday, 14 Jun 2021
Temukan Kami di :
Nasional

Memupuk Nasionalisme Kita

Indah Pratiwi Budi - 06/04/2021 10:20

Seiring dengan berjalan dan perkembangannya waktu, peradaban manusia kian mendapat tantangannya sendiri-sendiri. Tidak hanya manusia, negara pun demikian. Indonesia sebagai negara nasionalis, terus menerus menghadapi tantangan paham-paham transnasional yang dapat menggerus eksistensinya dalam kedaulatan.

Nasionalisme menjadi jalan perjuangan dan Ideologi di Indonesia, bermula digagas oleh organisasi Budi Utomo yang kemudian disusul Syarikat Islam (SI). Organisasi terbesar yang pernah ada dalam catatan sejarah Indonesia, yang berjuang dalam jalur spiritual dan ekspansi perdagangan.

Dalam perjalanannya, nasionalisme mencuat dan populer tatkala Bung Karno menggunakannya sebagai ideologi partai besutannya, yakni Partai Nasional Indonesia (PNI). Bung Karno yang namanya harum dan populer di seantero Nusantara kala itu, menggagas sebuah konsep penggabungan multi-isme: Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme (Nasakom). Menurut Bung Karno, nasinonalisme Indonesia bukanlah nasionalisme ala Barat, yang stagnan dalam syahwat kolonial dan imperialisme. Namun sebaliknya, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang senada dengan Islamisme dan Komunisme dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Barat.

Nasionalisme Indonesia, mulai kongkrit dan tercium semerbak wanginya, di kala Indonesia membentuk panitia BPUPKI pada tanggal 1 Maret 1945. Sidang pertama para tokoh dalam perumusan dasar-dasar bernegara. Bung Karno, yang kala itu 1 Juni 1945, menjadi tokoh ke tiga setelah M. Yamin dan Soepomo mempresentasikan sebuah gagasan dalam konsep bernegara untuk Indonesia, menyampaikan “Pandangan fundamental negara pancasila, yang meliputi kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan”. Menjadi representasi nasionalisme ala Indonesia, yang kemudian kita kenal sekarang, Pancasila.

Pancasila sebagai konsensus founding fathers merupakan khazanah, yang mesti kita jaga dan lestarikan hingga nanti tanpa henti. Pancasila dengan kehebatan dan semangatnya telah menyatupadukan kita dari multi-etnik, ras, agama, budaya, dan bahasa tanpa pertumpahan darah.

Nasionalisme Indonesia, bukan nasionalisme Barat, Timur, dan yang lainnya. Nasionalisme Indonesia adalah sebagaimana kata Bung Karno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, “Nasinonalisme kita haruslah nasionalisme yang tidak mencari gebyarnya atau kilaunya negeri keluar saja, tetapi haruslah mencari selamatnya manusia. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada menselijkhein. Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan, begitulah Gandhi berkata. Nasionalisme kita, oleh karenanya, haruslah nasionalisme yang dengan perkataan baru yang kami sebut: sosio-nasionalisme. Dan demokrasi yang harus kita cita-citakan haruslah demokrasi yang kami sebutkan: sosio-demokrasi.”

Dalam artian lain, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan pemilik modal dan penguasa, sebagaimana nasionalisme Barat.

Oleh karena itu, nasionalisme yang anti penindasan dan penjajahan ini, merupakan jati diri bangsa Indonesia. Yang lahir dari rahim perjuangan atas kolonialisme dan imperialisme Barat. Yang perkembangannya masih dan akan releven menjadi landasan perjuangan generasi penerus, hingga kini dan nanti.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA