Monday, 02 Aug 2021
Temukan Kami di :
News

Terorisme Rambah Medsos, Puluhan Ribu Konten Berbau Radikal Diblokir

Anas Baidowi - 04/04/2021 13:34 Medsos Terorism

Beritacenter.COM - Mantan narapidana teroris, Haris Amir Falah mengungkap adanya pergeseran pola rekrutmen calon teroris yang awalnya melalui kajian tatap muka kini mulai beralih melalui media sosial (medsos). Guna mencegah radikalisme dan terorisme, Pemerintah melalui Kementerian Kominfo memantau akun dan konten berbau radikalisme di medsos.

"Kementerian Kominfo melakukan pengawasan ruang siber selama 24/7 dengan menggunakan mesin crawling berbasis AI yang memantau akun dan konten-konten yang terkait dengan kegiatan radikalisme terorisme," kata Menkominfo Jhonny Plate, saat dihubungi, Minggu (4/4/2021).

Baca juga: 

Jhonny mengungkapkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementeria/Lembaga serta stakeholder terkait untuk mencegah penyebaran konten radikalisme dan terorisme di medsos. Kominfo juga berupaya untuk menyampaikan konten positif sebagai literasi kepada masyarakat agar tak mudah terpengaruh paham radikalisme.

"Kami juga melakukan kegiatan literasi digital agar masyarakat dapat memfilter informasi yang diterima dengan baik, serta mendorong media sosial dipenuhi dengan konten-konten positif dan produktif," ungkapnya.

Lebih lanjut, Kominfo juga melakukan pemblokiran terhadap konten yang diduga mengandung radikalisme dan terorisme. Hingga 3 April 2021, tercatat sudah ada 20 ribuan konten yang diblokir.

"Hingga 3 April 2021, Kementerian Kominfo telah melakukan pemblokiran konten radikalisme terorisme sejumlah 20.453 konten yang tersebar di situs internet, serta beragam platform media sosial," ujar Jhonny.

Sebelumnya, Mantan narapidana teroris, Haris Amir Falah, mengatakan ada pergeseran pola dalam aksi-aksi terorisme belakangan ini. Kalangan wanita dilibatkan karena dianggap lebih militan.

Haris menyebutkan, saat dirinya ditangkap pada 2010, wanita sama sekali tidak diikutsertakan dalam aksi-aksi teror. Namun, menurut dia, kekinian aksi terorisme justru cenderung dilakukan wanita.

"Sekarang itu trennya wanita. Bahkan dari beberapa yang saya temukan di lapangan itu justru wanita lebih militan daripada laki-laki," ujar Haris dalam diskusi Polemik MNC Trijaya FM yang digelar secara daring, Sabtu (3/4/2021).

Selain tren keterlibatan wanita, ada satu pola lagi yang berubah terkait terorisme. Perekrutan calon-calon teroris saat ini tak lagi lewat kajian-kajian tatap muka, melainkan media sosial (medsos).

"Sekarang itu karena teknologi udah canggih, orang bisa direkrut tanpa ketemu muka. Mereka bisa aktif berdialog, kemudian dibina lewat medsos," tutur Haris.

Dia menyebut medsos kerap dipakai jaringan terorisme dalam berkomunikasi secara intensif dengan orang yang hendak direkrut. Bahkan, kata Haris, proses pembaiatan antara orang yang hendak bergabung dan pimpinan jaringan terorisme juga kini tak lagi dilakukan secara bertatap muka.

"Sistem baiat sekarang itu kan nggak harus ketemu. Bisa di kamar sendirian kemudian berbaiat, setelah berbaiat mereka sudah terikat dengan program itu," jelas Haris.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA