Saturday, 12 Jun 2021
Temukan Kami di :
Opini

Emang Teroris Dapatnya Apa ?

Indah Pratiwi - 01/04/2021 15:37 Oleh : Islah Bahrawi

Bom bunuh diri adalah serangan yang melibatkan teroris dengan membunuh dirinya sendiri untuk membunuh orang lain. Konon cara ini memberi "freepass" otomatis menuju surga. Pertanyaannya, sesembrono itukah Tuhan menjadikan manusia seperti mainan: menghidupkan lalu memintanya bunuh diri untuk membunuh manusia lain sebanyak mungkin dan dijamin masuk surga? Jika demikian, lalu apa fungsi agama dengan segala idiom Hidayah, Syi'ar dan pertobatan itu? Saya terlalu awam untuk menjawabnya, tapi setidaknya saya bangga masih beragama dengan nalar sehat.

Bom bunuh diri bukanlah tindakan non-rasional yang dilakukan dengan proses pembiusan semacam morfin atau amfetamin. Jalan menuju bom bunuh diri juga tidak berdasarkan keputusan dalam semalam, ia melalui proses indoktrinasi bertahap - entah itu berbasis politik atau agama. Secara psikologis juga didorong dengan keyakinan bahwa pasca bunuh diri akan mengalami kehidupan yang lebih bahagia di "alam sana".

Kita percaya bahwa terorisme tak ada agamanya - doktrin apapun selalu berpotensi untuk melahirkan radikalisme. Namun dalam aksi teror bunuh diri, sulit untuk mengatakan tidak didorong oleh latar agama - terlepas penafsiran yang salah dari ajaran agama - tapi hanya "hipnotis" agama yang bisa membuat orang mau melakukan bunuh diri secara sadar tanpa harus mengalami depresi.

Sel hidup seperti pelaku bom bunuh diri di Makasar, pastinya adalah "pengantin" yang sekian lama menunggu waktu. Sejak berbai'at dan memutuskan siap untuk melakukan bunuh diri, mereka merasa bahwa surga sudah di tangan, hanya masih tertunda. Di Makasar kemarin sampailah pada momentum itu, badan mereka tercabik-cabik, hangus terbakar, tanpa ada orang yang tahu: mereka telah di surga atau malah di neraka. Semisteri "printilan" tubuhnya yang masih nyangkut entah dimana atau digondol hewan apa.

Kejadian Makasar memberi kita kesimpulan: sekuat apapun pihak keamanan melakukan penyisiran, masih juga bisa kecolongan. Pada akhirnya kekuatan utama melawan radikalisme tetap berada di tangan masyarakat - aktor paling hulu yang harus membudayakan waspada dini terhadap gerak-gerik para pejuang mati sangit ini.

 

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi




Berita Lainnya

PERPRES JOKOWI (bukan) PERMEN PRABOWO

12/06/2021 10:00 - Indah Pratiwi

Masyarakat Bungkus

12/06/2021 07:00 - Indah Pratiwi

KENAPA KPK HARUS DIBERSIHKAN ?

11/06/2021 21:25 - Indah Pratiwi

MENGAPA MEREKA MEMBENCI PRESIDEN JOKOWI ?

11/06/2021 19:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA