Monday, 10 May 2021
Temukan Kami di :
News

BIN : Milenial Cenderung Rentan Terpapar Radikalisme Karena Tak Berpikir Kritis

Kecenderungannya ini dikuatkan dengan survei BNPT terbaru bahwa 80 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme. Ini menjadi catatan kita bahwa generasi milenial lebih cenderung dia menelan mentah, tidak melakukan cek-ricek. Dan sikap intoleran ini biasanya muncul kepada generasi yang tidak kritis di dalam berpikir

Aisyah Isyana - 01/04/2021 09:52

FOKUS : Terorisme

Beritacenter.COM - Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut generasi milenial di rentang usia 17-24 tahun mudah terpapar paham radikalisme. Kalangan muda ini kerap menjadi sasaran utama kelompok terorisme dalam menyebarkan paham radikalisme di media sosial.

"Media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme, khususnya bagi generasi muda. Rentang kendali biasanya 17-24 tahun, ini yang menjadi target utama, selebihnya di atas itu second liner," kata Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto, dalam acara webinar 'Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial' di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Baca juga :

Wawan menyoroti soal adanya peningkatan pengguna internet selama masa pandemi virus Corona (COVID-19). Dari hasil survei BNPT, disebutkan ada 80 persen generasi milenial yang rentan terpapar paham radikalisme, lantaran cenderung tak berpikir kritis.

"Kecenderungannya ini dikuatkan dengan survei BNPT terbaru bahwa 80 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme. Ini menjadi catatan kita bahwa generasi milenial lebih cenderung dia menelan mentah, tidak melakukan cek-ricek. Dan sikap intoleran ini biasanya muncul kepada generasi yang tidak kritis di dalam berpikir," katanya.

Adanya potensi penyebaran radikalisme terhadap generasi milenial melalui medsos, terlihat dengan banyaknya konten terkait cara membuat bom. Bahkan, tak jarang ada pula yang mengajak generasi muda untuk bergabung menjadi anggota, hingga diajarkan bagiamana menyerang dan praktik membuat bom.

"Oleh karenanya, kita selalu memberikan literasi dan patroli cyber kita, dan selalu menyampaikan untuk berpikir menanyakan kepada mereka-mereka yang berkompeten, sumber-sumber yang bisa dipercaya dan sahih," ujarnya.

Dalam hal ini, Wawan menyebut penyebaran radikalisme melalui media sosial menjadi sesuatu yang menarik bagi genarsi muda, lantaran kerap dibumbui narasi heroisme. Terlebih, generasi muda diusia rawan tengah dalam proses pencarian jati diri dan eksistensi.

"Penyebaran paham-paham radikal yang sering dibumbui narasi heroisme, kemudahan-kemudahan mengakses internet, dan banyaknya waktu luang. Kemudian konten dan narasi radikal kemudian disebar dengan mudah dan diakses oleh generasi muda," ujarnya.

Untuk itu, BIN akan terus melakukan pemantauan terhadap akun-akun medsos penyebar idelogi terorisme dan ideologi radikalisme. Biasanya, narasi terkait ideologi terorisme yang berkembang itu kerap dikemas dengan narasi ketidakadilan.

"Radikalisme generasi muda di media sosial adalah propaganda radikalisme media sosial dikemas dengan narasi ketidakadilan. Pesan tersebut membentuk kesesatan berpikir bahwa tatanan sosial saat ini perlu dibenahi dan generasi muda diposisikan sebagai juru selamat yang mampu mengubah keadaan, salah satunya melalui aksi teror," ujarnya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA