Saturday, 25 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

Satoe Indonesia Tanpa Sekat

Indah Pratiwi - 30/03/2021 09:25 Oleh : Karto Bugel

Ibarat sebuah mesin mobil, Indonesia adalah V6. Mesin besar dengan power besar dan torsi yang seharusnya juga besar. Itu mesin dengan spec dan DNA balap.

Negara ini memiliki garis pantai terpanjang nomer 2 di dunia. Nomer 6 terluas ZEE nya, dan nomer 13 terluas sebagai wilayahnya. Sangat besar, sangat potensial sebagai salah satu pemimpin dunia.

Jumlah penduduknya, Indonesia menempati urutan nomer 4 dunia.

"Bagaimana dengan prestasinya?"

Ibarat mesin pada mobil, V6 yang dimilikinya ternyata tak pernah bisa bekerja sebagai mana mestinya. Banyak hal tak bekerja dengan baik pada mesin itu. Banyak terjadi penyumbatan pada saluran bensinnya dan kerak merata tersebar pada seluruh permukaan pistonnya.

Tolok ukurnya sederhana. Terlihat bagus bila PDB dijadikan acuan, yakni negara dengan urutan nomer 13 dari 193 negara di dunia. Tapi kita menempati urutan ke 98 bila perkapita menjadi ukurannya.

Sebagai sebuah kekuatan ekonomi, negara dengan PDB diatas 1 triliun dolar ini cukup disegani. Namun, kinerja rakyatnya, dengan melihat perkapitanya, kita masih jauh dari kata bagus.

Perkapita kita, bahkan di tingkat Asia Tenggara masih tertinggal dibanding dengan Singapore, Brunei, Malaysia dan Thailand.

Satu orang Singapore mampu menghasilkan setara dengan kurang lebih 14 orang kita. Satu orang Malaysia, setara dengan kemampuan hampir 3 orang kita. Itu cara sederhana membuat perbandingan.

Orang Singapore, ibarat BBM, mereka adalah avtur atau setara dengan Pertamax Racing, Malaysia Pertlite, dan kita, Premium subsidi dan masih dioplos pula...(maaf)

Daya bakarnya tak sempurna. Energi yang dihasilkan tak sebagus dengan kerak yang ditimbulkannya pada permukaan piston. Tak semua terbakar karena tingkat kemurniannya dipertanyakan.

"Emang seharusnya bagaimana?"

Bukan salah rakyat bila hari ini (sebagai BBM) kita masih setara premium oplosan. Salah para pemimpin dan politikusnya. Mereka sibuk memperkaya diri sendiri.

Sudah lebih dari 75 tahun kita merdeka, dan mereka masih sibuk berwacana sambil sebelah tangannya copet sana copet sini tanpa ada implementasi nyata berpihak pada rakyat.

Lihat carut marut pendidikan kita. Lihat banyak kebijakan dibuat yang tak pernah berpihak pada rakyat. Selalu tentang diri dan kelompoknya.

Radikalisme agama yang sengaja dibiarkan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat sejak reformasi adalah salah satu bentuk ketidak pedulian para elit.

Ibarat kotoran, paham radikalisme ini merusak tatanan berpikir rakyat. Mereka terkontaminasi dan tak lagi memiliki jiwa patriotisme apalagi etos kerja. Itulah makna premium subsidi plus oplosan. Terkontaminasi.

Sudah hanya menempati posisi dengan kinerja sekelas premium subsidi (akibat dari kebijakan tak berpihak) terkontaminasi lagi!! Adakah hal positif dapat diharapkan?

Sekedar menolak lupa, ingat ketika sekelompok massa dengan lantang dan secara terbuka mendukung isis awal 2014 di Bundaran HI?

Apakah itu tak terkait dengan sikap pemerintah di tahun 2013 yang ambigu dan bahkan kebablasan meminta Presiden Suriah mundur? Meminta seorang Presiden di negara berdaulat lengser?

Beruntung 2014 kita menadapar Presiden baru yang tak sedikit pun pernah terkait dengan segala macam birokrasi. Dia tidak berasal dari birokrat, Partai bahkan elit tertentu. Sama seperti kita, dia rakyat biasa.

Infrastruktur dibuatnya. Jalan diperpanjang, diperlebar, bahkan dibuat merata di seluruh sudut negeri ini. Sama seperti saluran bensin bagi mesin V6 kita harus bersih dan lancar bagi suplai BBM pada mesin pembakar, jalan adalah hal mutlak atas lalu lintas manusia demi laju ekonomi dan pembangunan.

Jalan sebagai sarana mutlak bagi arah kemajuan ekonomi sebuah negara dibangun dengan sangat gencar.

Pelabuhan, bandara dan banyak sarana pendukung pun tak tertinggal dibuatnya.

Tahun 2020, efpei dibubarkan. Sebelumnya, hatei juga sudah dibuat tak lagi berkutik pada 2017.

Investasi digenjot dengan target produksi massal atas barang-barang berteknologi adalah salah satu cara membuat rakyatnya mengejar ketertinggalannya selama ini.

Premium dimurnikan, ditingkatkan oktannya demi nilai bakar lebih sempurna. Radikalisme disingkirkan, diberi pekerjaan dengan target demi skill makin baik adalah pemurnian sekaligus peningkatan kinerja atas rakyatnya.

Menjadi sekelas Pertalite seperti Malaysia pada awalnya dan kemudian menuju kelas Avtur agar penghasilan rakyat kelak seperti Singapore, adalah cita-citanya.

Jalur bagi suplai BBM sudah bersih tanpa kerak sebagai hambatan. Premium pun, perlahan dan pasti sudah mulai dibersihkan dari pengaruh kontaminasi.

Pelabuhan, Bandara dan banyak infrastrutur yang lain adalah pompa oli, pompa bensin dan banyak pendukung bagi sebuah V6 layak berjalan sebagaimana seharusnya.

"Akankah kita sebagai bangsa besar dan kaya SDA ini benar bisa ngebut?"

Ketika nikel telah berubah wajah menjadi baterai dan baterai menjadi mobil listrik dan kita menjadi tuan rumah atas prestasi itu, Malaysia bukan lawan kita lagi.

Ketika CPO kita menjadi 100% green gassoline (pertamax cs) green diesel (solar), 100% LPG, dan 100% green avtur, dan diterima luas oleh pasar, Singapore akan melirik kita dengan pandang mata iri.

Ketika Indonesia menjadi bagian penting atas rantai pasok dunia dalam industri berteknologi tinggi atas akibat kepintaran rakyatnya dalam mengolah berlimpahnya sumber daya alam kita, bukan Malaysia bukan Singapore hormat, masyarakat dunia.

Semua berawal dari satu kalimat sederhana, "kita cinta satu Indonesia tanpa sekat", yang lain, hanya akibat.

RAHAYU

Sumber : Status Facebook Karto Boogle




Berita Lainnya

HARU BERSAMA SEMESTA

24/09/2021 14:29 - Indah Pratiwi

Suroto Menampar Muka DPR, Oposisi dan Mahasiswa

24/09/2021 13:22 - Indah Pratiwi

Filosofi Dolane Kurang Adoh

24/09/2021 12:58 - Indah Pratiwi

LBP MENGGUGAT

24/09/2021 12:00 - Indah Pratiwi

Simulasi Pilpres 2024

24/09/2021 11:32 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA