Monday, 02 Aug 2021
Temukan Kami di :
Kriminal

Vonis Hukuman Mati Menanti 'Bahri', Pengedar 11 Kg Sabu di Medan Sumut

Aisyah Isyana - 29/03/2021 17:41

Beritacenter.COM - Syamsul Bahri, warga Asahan, Sumatera Utara, divonis hukuman mati karena mengedarkan narkoba jenis sabu seberat 11 kg. Bahri mengaku dijanjikan upah Rp15 juta oleh seseorang yang disebut 'Big Bos', jika berhasil mengirimkan paket sabu ke Medan.

Adapun hal itu tertuang dalam putusan pengadilan tinggi (PT) Medan, Senin (29/3/2021). Kasus bermula saat Bahri mendapat telepon dari Big Bos bernama Daeng, pada 11 Maret 2020 lalu. Ditelepon itu, Daeng meminta Syamsul mengedarkan 11 kg sabu dengan upah Rp15 juta. Syamsul pun menyanggupi permitaan itu dengan alasan butuh uang.

Baca juga :

Dari situ, keduanya kemudian sepakat bertemu di Jalan Selat Lancang. Sabu dikirim ke Medan. Untuk mengantar sabu itu, Syamsul turut ditemani rekannya, Ponisan. Oleh Syamsul, sabu itu kemudian disembunyikan di jok mobil.

Syamsul dan Ponisan diketahui melintasi Jalan Lintas Sumatera, Perkebunan Tanah Datar, Kecamatan Talawi, Asahan, pada 12 Maret 2020. Namun, keduanya dihadang oleh tim BNN dan paket sabu 11 kg yang disarukan dalam bungkus teh pun ditemukan petugas. Sudah tak dapat mengelak lagi, Syamsuk dan Ponisan pun di proses hukum dan diadili dengan berkas terpisah.

Selanjutnya, PN Medan menjatuhkan pidana mati kepada Syamsul pada 15 Desember 2020. Adapun putusan itu sesuai dengn tuntutan jaksa. Namun, Syamsul tak terima dengan putusan itu dan mengajukan banding.

"Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Medan yang dimintakan banding tersebut," kata ketua majelis Sahman Girsang dengan anggota Railam Silalahi dan Wayan Karya.

Pengadilan Tinggi Medan berpendapat pertimbangan hukum majelis hakim tingkat pertama yang menyatakan Syamsul telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan permufakatan jahat tanpa hak atau melawan hukum menjadi perantara dalam jual beli narkotika Golongan I yang beratnya lebih dari lima gram telah tepat dan benar sesuai dengan fakta-fakta yang diperoleh dari alat-alat bukti yang diajukan di persidangan.

"Oleh karena itu, Pengadilan Tinggi dapat menyetujui dan mengambil alih pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim Tingkat pertama tersebut menjadi pertimbangan Pengadilan Tinggi sendiri dalam mengadili perkara ini dalam tingkat banding," beber majelis.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA