Monday, 12 Apr 2021
Temukan Kami di :
Ekonomi

Terkuak Investor Jepang Murka Pada Indonesia Karena Buat Mobil Listrik

Indah Pratiwi Budi - 24/03/2021 17:15 Oleh : Budiman Hadisantoso

Suka tidak suka, saat ini pemerintah ingin melompat dari pengembangan mobil konvensional bensin ke listrik. Di sisi lain, ada teknologi hybrid sebagai perantara yang justru lebih diminati pemain lama terutama dari Jepang seperti Toyota hingga Mitsubishi.

Bukti pemerintah lebih pro mobil listrik daripada hybrid adalah saat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan kenaikan tarif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan listrik bertipe hybrid. Di mana tarif awal direncanakan 0% menjadi 5%. Sedangkan mobil listrik murni sudah 0%.

Ternyata, hal ini sejak awal sudah tak disukai oleh investor Jepang yang sejak awal sudah berinvestasi triliunan rupiah dalam teknologi mobil konvensional. Investor Jepang menginginkan Indonesia tak langsung melompat ke mobil listrik tapi bertahap ke teknologi hybrid. Hal ini diungkapkan oleh Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan beberapa waktu lalu.
(Teka-Teki Recall Massal Toyota-Daihatsu RI Akhirnya Terkuak!

"Jepang marah pada kita. Mereka bertanya mengapa kami tidak mempertimbangkan untuk mengembangkan mobil hybrid terlebih dahulu," dalam diskusi dengan Ikatan Alumni ITB Sumatera Utara di akun youtube resminya, September 2020 lalu.)

Negara Asia Timur itu khawatir proyek ini bakal mengganggu bisnis otomotifnya yang sudah terbangun selama puluhan tahun di Indonesia. Kemarahan itu memancing tudingan kepada Luhut yang terlalu dekat dengan China. Pasalnya, proyek pembangunan baterai Lithium menyertakan perusahaan asal China yakni CATL.

"Dan saya dituduh pro-China, saya bilang urusan apa pro-China. Mengapa kita harus hibrida sementara kita bisa langsung mengembangkan kendaraan listrik?"

Keyakinan Luhut untuk mengembangkan mobil listrik karena Indonesia memiliki cadangan besar dalam sumber daya alam. Indonesia kaya akan kandungan nikel yang merupakan komponen utama mobil listrik.

"Kuncinya adalah baterai lithium dan kami memiliki cadangan bijih nikel terbesar di dunia. Beberapa tahun yang lalu, kami mulai mengembangkan industri hilir [untuk nikel] tetapi kami tidak dapat melakukannya sendiri. Kami tidak memiliki aplikasi teknologi lengkap jadi kami berhubungan dengan China," kata Luhut.

Meski sempat menuduh Luhut Pro China, namun pada akhirnya beberapa pabrikan Jepang ikut untuk menanamkan investasinya. Toyota berkomitmen investasi Rp28,3 triliun Mitsubishi sebesar Rp 11 triliun serta Honda dengan Rp. 5,2 triliun.

Sumber : Status Facebook Budiman Budiman




Berita Lainnya

KKP-Pemda Banyuwangi Gelar Festival Lobster

06/04/2021 16:09 - Lukman Salasi
Kemukakan Pendapat


BOLA