Thursday, 13 May 2021
Temukan Kami di :
News

BMKG: Waspada Potensi Tsunami 18 Meter di Banyuwangi

Anas Baidowi - 06/03/2021 17:02 Ilustrasi

Beritacenter.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan adanya potensi gempa dan tsunami di perairan selatan Jawa. Hal ini karena aktivitas kegempaan di perairan selatan Jawa Timur yang terus meningkat.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, jumlah gempa yang terjadi di selatan Jawa Timur terus meningkat, bahkan melebihi rata-rata dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, ada potensi terjadinya gemoa besar dan tsunami.

"Potensi gempa tertinggi bisa mencapai 8,7 skala richter dan risiko paling parah bisa menimbulkan tsunami dan gelombang tinggi mencapai 18 meter," ujar Dwikorita di Banyuwangi, Kamis (5/3/2021).

Baca juga: 

Melihat kondisi itu, Dwikorita bersama petugas BMKG Stasiun Meteorologi Klas III Banyuwangi, BPBD dan warga melakukan pengecekan alat dan jalur evakuasi di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Hal itu guna memastikan peralatan Early Warning System (ERS) dapat berfungsi dengan baik.

Dwikorita mengatakan, Banyuwangi merupakan salah satu daerah rawan tsunami. Sehingga perlu perangkat yang bisa memberikan peringatan dini apabila ada bencana. Sehingga masyarakat bisa segera mengungsi.

Menurutnya, tempat ini dipilih lantaran memiliki histori kelam saat terjadi bencana tsunami pada 1994. Puluhan warga menjadi korban, serta puluhan rumah rusak berat.

"Ini merupakan bagian dari penerapan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2019 mengenai pengembangan dan penguatan sistem informasi dan peringatan dini tsunami, itu pesan Presiden dalam memberikan peringatan dini harus cepat dan tepat," jelasnya.

Hal itu, menurutnya, juga tertuang dalam Undang-Undang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Di dalamnya sudah ada undang-undang peringatan dini.

"Ini harus disampaikan secara cepat, tepat dan akurat dan itu juga disampaikan oleh Presiden di dalam Perpres, juga tujuan kami ke sini merealisasikan aturan-aturan itu," katanya.

Hingga kini, kata Dwikorita, pihaknya terus melakukan pengembangan taekait sarana dan prasarana serta teknologi. Namun hal itu juga harus didukung dengan penguatan, pemahaman serta kondisi SDM di lapangan.

"Setelah teknologi sudah kita kembangkan sedang berproses, tetapi harus dicek di lapangan kalau misalnya sistem peringatan dini itu berbunyi sirinenya masyarakat yang mendengarkan sirine itu sudah bisakah meninggalkan tempat berlari menuju ke tempat yang aman. Tempat yang aman itu kita tek dari lokasi pantai di rumah-rumah penduduk, setelah kita ternyata tempat yang jauh sekali," ucapnya.

Sehingga hal ini menjadi catatan BMKG untuk laporan ke Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur, maupun bupati/wali kota sebagai bahan mitigasi bencana gempa atau tsunami.




Berita Lainnya

Gempa 5,0 Magnitudo Guncang Maluku Utara

12/05/2021 23:30 - Baharuddin Kamal
Kemukakan Pendapat


BOLA